Tahun 2020 lalu, untuk pertama kalinya, momen hari kemerdekaan Negara kita, dibiarkan berlalu tanpa ada perayaan. Hanya ada upacara pengibaran dan penurunan bendera di lapangan kantor bupati yang dihadiri segelintir pejabat daerah dan beberapa pelajar dari sekolah negeri. Sangsaka merah putih berkibar dalam sepi.

Tahun 2021 kemaren, meskipun social distancing masih diterapkan, emak-emak di kompleks kami tidak tahan lagi membiarkan momen bersejarah itu lewat tanpa kejadian. Cukuplah tahun 2020, pertiwi bermuram durja, janganlah tahun 2021, air matanya tumpah. Semangat nasionalime emak-emak berontak. Mereka tau ada larangan berkerumun, tapi emak-emak menantang imun. Bagi mereka, HUT RI itu, saatnya warga negara bersukacita, jangan memperpanjang sedih. Waktunya move on.

Jika biasanya pemerintah daerah yang menyiapkan event tujubelasan, untuk ditonton warga se kabupaten, maka tahun kemaren, emak-emak di kompleks kamilah yang inisiatif menggelar lomba, untuk warga se BTN. Tidak ada rapat pembentukan panitia, hanya kongkow-kongkow sambil makan kapurung, bahkan tidak ada ketua. Satu-satunya personil, yang tugas fungsionalnya jelas, hanya bendahara, mengurus uang. Yang lain, siap mengurus apa saja. Persiapannya seketika, acaranya mendadak, tapi sukses. Anak-anak antusias, emak-emaknya heboh, semua gemmes pengen anaknya juara, meskipun cuma juara lomba makan kerupuk.

Di puncak perayaan, diadakan acara penyerahan hadiah. Warga BTN tumpah di pantai berova. Sebelum hadiah diserahkan, terlebih dahulu diadakan tarik tambang, antara bapak-bapak langsing vs bapak-bapak montok, serta lomba lari sarung bersama pasangan sebagai hiburan, sambil yang lain bakar ikan. Serunya jangan lagi bilang. Setelah cape ketawa, barulah hadiah di serahkan, kemudian ditutup dengan acara makang-makang.

Nah, pada HUT RI tahun 2022 ini, semangat nasionalisme itu kembali membuncah. emak-emak kompleks ingin mengulang keseruan tahun lalu. Tapi persiapannya jauh-jauh hari dan ingin melibatkan partisipasi warga kompleks yang lebih luas. Makanya mereka berinisiatif mengawalinya dengan musyawarah besar. Semua warga kompleks diundang. Emak-emak maupun bapak-bapak. Untuk bicarakan persiapan perayaan HUT RI yang ke 77 di kompleks BTN. Tapi pas rapat, yang datang tidak seberapa, setelah rapat, yang sibuk bikin persiapan yang itu-itu saja.

Dari awal, saya kurang setuju terlalu banyak yang diundang rapat. Rapat itu baik, namun, bila kurang pandai menggugah peserta yang tidak suka repot, itu bisa alot, atau pura-pura setuju padahal hati menolak. Lebih baik duduk bersama dengan para inisiator saja, yang memang sudah satu frekuensi. Tidak perlu melibatkan terlalu banyak orang. Kalau kegiatannya dikemas menarik, apalagi bisa lebih baik dari tahun lalu, yakin saja, simpati warga akan datang sendiri, mereka yang kurang setujupun akan kesulitan menyembunyikan senangnya. Buktinya tahun lalu, tidak ada rapatpun jadi.

Tapi bagi emak-emak, rapat diadakan justru merespon keluhan sebagian emak-emak yang tahun lalu merasa tidak dilibatkan. Mereka tidak mau bahasa itu terulang. Padahal di dunia ini, mana ada kegiatan yang bebas dari keluhan. Apalagi acara tujubelasan. Tapi, tidak semua keluhan harus direspon, sebagaimana tidak semua masalah harus diselesaikan. Untuk menjernihkan air keruh, tidak perlu melakukan apapun, cukup diamkan saja, nanti jernih sendiri

Bagi saya, niat mulia itu tidak harus disetujui banyak orang. Yang penting segera dilaksanakan. Sesederhana apapun sebuah gagasan, tapi kalau dikerjakan, itu sudah keren. Sebaliknya, meskipun waw, tapi hanya sebatas wacana. Kata Bunda Ela, tidak berfaedah.

Kalau kita baca sejarah, betapa di negeri ini, begitu banyak institusi besar yang hanya di inisiasi satu orang. Organisasi Muhammadiyah yang eksis itu, ternyata pendirinya Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Satu orang saja. NU, ormas terbesar di Indonesia saat ini. Inisiatornya juga cuma satu orang. Cuma Kiyai Haji Hasyim Asy’ari. Intinya, biarpun hanya sedikit orang, asalkan terus bergerak, semesta pasti sumringah. Walaupun banyak orang, tapi hanya diam saja, tidak melakukan apapun, pastimi tidak menghasilkan apapun.

Mengharapkan dukungan dari semua pihak, atas gagasan kita, itu sesuatu yang tidak mungkin. Pasti ada saja orang yang tidak setuju dengan apa yang mau kita lakukan. Itu biasa, hak mereka, tidak bisa kita paksa agar semua orang seiya dengan kita. Apalagi menyangkut kerja-kerja sosial yang tidak ada honornya.

Sejatinya, semua orang senang menonton lomba, apalagi yang lucu-lucu. Tapi, kalau sudah bicara uang, bicara sumbangan, di situlah respon orang jadi beragam. Karena tidak semua orang memiliki kelapangan keuangan yang sama, biarpun suami – istri bekerja. Sedang berkelimpahan saja, belum tentu mau urungan, apalagi kalau lagi pas – pasan. Jadi, kalau ada yang tidak mendukung, banyak protes, atau terkesan cuek, bisa jadi itu hanya bentuk unjuk rasa kecil. Mungkin saja dia cuma mau bilang, dompet saya, sedang tidak baik-baik saja.

Yah, begitulah. Kalau dulu untuk sebuah kemerdekaan, para pahlawan telah berjuang sampai korbankan nyawa. Sekarang ini, untuk memperingati kemerdekaan, banyak yang takut korbankan rupiah. Padahal kita mau pulih lebih cepat bangkit lebih kuat. Itulah sebabnya sejak jaman nabi tidak ada peradaban terbentuk tenpa keterlibatan emak-amak.

Semangat emak-emak. Teruskan saja rencanamu. Merdeka !

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.