Kembali pahitnya gula dan manisnya kopi terasa. Benar adanya kopi itu bukan sekadar minuman. Tapi kopi juga pelajaran untuk semua orang, pun tak terlepas pada diri ini.

Warna hitam yang ada pada kopi tak pernah berdusta atas nama rasa meskipun itu pahit. Ada kalanya rasa pahit itu menjadi pengobat fisik yang sedang tidak baik-baik saja.

Lidah dan mulut yang terasa pahit seakan memberiku isyarat bahwasanya
yang hitam tidak selalu kotor. Rasa pahit kopi pun bukan kesedihan. Hitam putih, pahit manis itu biasa. Hanya proses menjadikan yang pahit itu terasa nikmat memerlukan cara tersendiri menyikapinya.

Gagal sekali itu manusiawi, seperti halnya kali ini hampir gagal membalut luka lama yang kembali menganga. Kata hampir yang membuatku tersadar bahwa kopi di mana pun, pahit atau manis, selalu menemukan penikmatnya sendiri. Tanpa rekayasa dan selalu apa adanya.

Kopi tidak pernah memilih bagaimana ia disajikan..
Kopi tidak meminta dengan apa ia disandingkan.
Kopi pun tidak pernah memaksa kapan ia dinikmati.

Begitu juga dengan hati.
Bagaimana hati memilih dan terpilih, semua hanya berdasarkan rasa nyaman dan ketulusan..

Seorang pecinta kopi akan tahu kapan dan bagaimana ia menikmati kopinya, dan pecinta sejati akan tau bagaimana ia menjaga dan merawat kekasih hatinya.

Bahkan kopi tanpa gula sekalipun. Adalah jati diri. Karena ia tidak perlu bermanis-manis di mulut.

Namun hati tak berfungsi.
Biarlah aku apa adanya tanpa harus menjadi manis dibalik pahitnya kopi yang kusuguhkan.

*Penggiat literasi membaca dan menulis

(Visited 140 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.