Oleh : Sayid Anshar*
Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 185 yang artinya “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”.
Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang yang beriman. Mati merupakan jembatan untuk menjalani kehidupan abadi. Namun, butuh persiapan yang matang untuk menghadapinya, yaitu amalan dan pahala yang baik sehingga mati adalah kerinduan bagi orang yang beriman.
Tanah merupakan awal penciptaan dan akhir dari kehidupan dunia, di mana jasad disatukan dengan kodratnya. Saat itulah manusia dinyatakan kembali ke tempat asalnya yaitu tempat peristirahatan jasad sementara untuk menunggu kehidupan abadi selanjunya yaitu akhirat.
Dalam peribahasa, mati hanya sejengkal tanah ini dimaknai sebagai bentuk kesadaran manusia bahwa sesungguhnya tempat terakhir hanya sedikit sesuai dengan ukuran jasad manusia, sehingga kesombongan, keserakahan dan perbuatan buruk lainnya tidak bisa diikutkan di dalam tempat yang terbatas karena akan menjadikan malapetaka. Namun, sebaliknya keimanan dan pahala yang baik harus diikutkan ke dalam tempat yang terbatas agar menjadi penerang dan penyejuk bagi pembawanya.
Penjelasan di atas cukup menjadi kesadaran bagi kita semua dalam menjalani hidup untuk menuju ketempat yang abadi, sehingga apa yang kita lakukan selalu diingatkan oleh kematian. Jadikan mati sebagai alarm dalam setiap langkah agar senantiasa terhindar dari perbuatan yang buruk.
*Penggerak literasi di Minangkabau
