Buku ku malang ini dibuang sayang, akhirnya aku jemur dibawah teriknya matahari lantaran terendam banjir kiriman seharian. Dampaknya buku-buku itu nampak terkoyak-koyak tak terawat, betapa sedihnya aku melihat lembaran buku bersih itu kumuh, kotor ternoda banjir.
Hal ini aku lakukan sebab buku-buku tadi jendela ilmu. Sebagai pecinta buku, selain mengoleksinya, tentu buku-buku tadi akan dirawat dengan sebaik-baiknya, agar tetap awet tak lekang dimakan oleh waktu.
Namun sayangnya, musibah datang tiba-tiba menyerang tidak terbayang kengeriannya. Pasalnya, tetanggaku bilang, sudah puluhan tahun tinggal disini, baru pertama ini terendam banjir bandang yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
Akibatnya perumahan Bumi Permata Sudiang I tempat kami berteduh bertahun-tahun lamanya sempat terendam banjir hingga 1,5 sampai 2 meter.
Peristiwa memorable ini terjadi saat hujan deras yang mengguyur beberapa wilayah di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan dan sekitarnya pada Jumat, 18 November 2022 pukul 12.00 Wita siang sampai pukul 17.00 Wita, sore hari. Banjir kiriman itu mulai berpaling dari hadapanku sekitar pukul 03.00 Wita pagi.
Banjir itu membuat kami mengungsi ke rumah tetangga, sembari menunggu air menyurut.
Ketika menjemur buku-buku itu, aku teringat kembali peristiwa rumah yang tertimpa bencana banjir kiriman semalaman itu, maka perasaan sedih muncul dibuatnya.
Terlebih setelah masuk ke dalam rumah dan melihat langsung kondisi yang terjadi. Berbagai barang berserakan di genangan air di dalam rumah dan di dalam kamar.
Sementara beberapa perabotan bekas terendam air tampak rusak parah. Pada saat itu hanya sempat menyelamatkan hanya pada barang-barang yang berharga, berupa sertifikat rumah, ijasah anak-anak sekolah, surat kendaraan bermotor, SK PNS. Sementara barang-barang yang lain wassalam.
Barang-barang elektronik, beras, beberapa jenis pakaian hingga motornya istri sama anakku terendam air banjir.
Buku-buku bacaan yang sudah terendam lama pun terpaksa dibiarkan terendam lagi karena waktu itu tidak mampu membawa barang banyak.
Dengan berat hati barang-barang yang hancur dibuang saja, ketimbang menumpuk jadi sampah di rumah ya kudu merelakannya dibawa armada sampah.
Buku-buku bacaan tadi dari hasil membeli dengan uang sendiri, harganya pun yang cukup mahal itu tidak semua mampu ku selamatkan. Mungkin karena bahan kertas yang memang tidak tahan air, jadinya remuk-redam yang mengharuskannya untuk dibuang.
Buku-buku itu dibawa secara bertahap dengan air yang masih bertahan di dalam lembaran-lembaran buku hingga mengeluarkan bau busuk khas aroma air got. Kemudian buku-buku itu aku jemur di bawah sinar matahari.
Setelah agak kering, satu per satu buku harus ditangani dengan hati-hati. Halaman demi halaman perlu dibuka dan sambil dirapikan sehingga ada udara masuk di sela-sela halaman.

Dengan demikian halaman nanti setelah kering tidak akan lengket. Sayangnya, jajaran buku yang masih terpajang di rak tidak bisa aku lepas, sebab melengket satu sama lain sisa terendam banjir semalaman.
Berkali-kali aku coba membongkar paksa jajaran buku itu, tapi tetap saja kokoh menyatu padu tidak tergoyahkan.
Hal ini sepertinya lembaran buku itu mengeluarkan lem yang dilapiskan pada permukaan kertas tersebut, sehingga begitu terkena air banjir malah melengket tidak bisa lepas lagi.
Pekerjaan yang menjemukan sebenarnya tetapi mau bagaimana lagi, bencana banjir itu bukan kehendakku. Ya sudahlah….

Turut prihatin atas peristiwa itu pak Subhan. Sebagai seorang pencinta buku dan juga Pustakawan, saya merasakan kesedihan itu… Semoga akan ada gantinya yang lebih baik, Inshaa Allah. Amin!