Oleh: Devinarti Seixas
Hari itu hari yang tidak aku sadari dalam hidup aku.Hari dimana aku terus kuat berjuang meskipun aku di hadapkan pada jutaan tantangan.
Tak bisa kusebut seberapa banyak orang kagum akan tulisan-tulisan yang kuposting lewat Timeline pribadiku, tapi aku sungguh kaget pada semua ungkapan dari seorang yang tidak aku kenal dari dunia riil.
Ia sering menyapaku dan sering juga bersenda gurau. Entahlah mengapa semua itu ia lakukan. Terkadang aku cuek dan abaikan pesan-pesannya melalui Facebook atau pun WA bukan karena aku sombong atau pilih kasih. Namun, karena aku sering menulis dan terus menulis serta membaca adalah kerjaku.
Suatu hari ia mencoba bersenda gurau. Aku tidak tahu tulisan artikel mana yang telah membuat Someone “Dear” menyapa aku di hari pertama. Jelasnya dia orang yang baik dari tutur katanya.
Dear tanpa nama yang begitu kagum padaku. Setiap hari menghabiskan banyak waktu untuk aku meskipun terkadang aku jengkel dan tak ingin membalas kata-katanya. Pertemuan maya lewat via internet hanya merugikan kita, maka sering aku online hanya cek tulisan-tulisan untuk aku secara pribadi sebagai sebuah referensi.
Hari terus berlalu. Suatu hari aku berpikir jika aku harus menulis lagi. Tak sengaja” Dear’ tanpa nama itupun langsung menyapa aku.
“Maaf kenapa tidak balas pesan aku? Apakah Anda tidak suka aku bersahabat dengan kamu? Begitu katanya.
“Ah, tidak kakak. Aku hanya tidak ada waktu untuk hal-hal yang tak penting.” Balasku.
“Setidaknya balaslah chat aku jika ada waktu,” sahut dear tanpa nama.
“Okey kakak. Kenapa Anda harus terus menerus mengganggu waktuku? Aku membalasnya.
“Tidak tahu, tapi sungguh baru pertama kali aku merasakan hal ini di benak aku,” kata “Dear” tanpa nama.
“Ya itu semua karena Anda terlalu fokus chat akhirnya hilang kendali kakak,” jawabku dengan santai.
“Ya aku juga tidak tahu apa yang tengah terjadi padaku, tapi yang jelas tiba-tiba aja perasaan aku jadi aneh sejak awal aku add di Facebook Anda.” sahut “Dear” tanpa nama.
“Okey makasih”.
Setelah beberapa bulan berlalu, aku tidak tahu persis apa isi hati “Dear” tanpa nama.Tiba-tiba ia hadir dan kembali menyapa aku.
Aku pun lalu berpikir sejenak untuk balas pesannya. Maaf selama ini aku sibuk, jadi bukannyanya aku sombong tapi menang tak ada waktu kakak.
Maaf bisakah aku jujur sama kamu adik ? Pinta “Dear”‘ tanpa nama.
Ya mau jujur tentang apa kakak jawab aku perlahan ketika membalas pesan lewat chat tersebut.
Aku tidak tahu tapi sejak awal aku sudah menyukai adik semenjak kita chat pertama kali adik kata ”Dear” tanpa nama.
Ia wajar namanya kita masih punya panca indera pasti ketika kita hidup melihat maka kita bisa menyukai apa saja jawab aku dengan nada santai.
Dek sejujurnya aku menyukai anda sejak awal, ya aku juga tak paham mengapa bisa terjadi kayak gini pada aku.
Jawab aku perlahan, intinya apapun yang kamu rasakan adalah bagian dari program hidup jadi jalani aja apa hu yang tengah “Dear” tak bernama rasakan karena perlahan-lahan semua perasaan itu pasti akan hilang begitu saja ketika waktunya tiba.
Tidak Dek,semua ini tidak muda aku hilangkan karena muncul tanpa aku sadari,dan aku juga tidak paham kenapa ini bisa terjadi.
Tiba -tiba saja aku tak nyadari apa kata-kata yang bakalan aku jawab agar “Dear “tanpa nama itu bisa paham jika ia sedang terobsesi karena terlalu lama dan sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk chat.
Gimana apakah aku salah jika memiliki perasaan ke dek.Seharusnya aku juga tak tahu mengapa ini bisa terjadi.
Ah kakak anda punya keluarga yakni istri dan anak-anak tolong sisikan waktu itu untuk mereka bukan aku jawab aku.
Jujur aku juga baru meraska hal seperti itu ketika aku kenal dek kata ” Dear ” tanpa nama.
Hmmm aku tak tahu seberapa cowok di negeri ini yang telah kehilangan akal,hingga terobsesi pada orang dengan satu gaya bahasa saja.
Aku suka kamu,aku suka badan kamu,aku suka bibir kamu,aku suka Karena kamu lngsin hanyalah gaya bahasa semu yang hanya mengganggu pikiran kita untuk lupa hal yang harunya penting bagi masa depan kita.
Perlahan-lahan aku mencoba ratusan kuis bagi “Dear” tanpa nama selama kami chat hampir sebulan tapi ia tetap konsisten dengan satu kalimat.
Suatu hari aku mencoba lagi bertanya hingga aku berharap bisa menyadarkan dia dengan caraku tapi tetap saja ia konsisten dengan satu kalimat saja.
Akhirnya kami menjadi akrab lewat chat tapi aku tetap anggap dia adalah seorang teman, sahabat juga kakak buat aku.
Namun, perasaan seseorang kita pun tak ada hak untuk menghentikan meskipun kita menggunakan sejuta cara untuk menghilangkan perasaan itu.
Lalu suatu hari aku hanya ingin menguji dengan bantuan agar kata-kata aku bisa jadi sebuah motivasi baginya untuk bisa mencintai istri dan anak-anaknya tapi justru yang terjadi jawabnya terbalik.
“Dear ” tanpa nama justru langsung berjuang untuk memberikan segala bantuan tanpa mengharapkan imbalan sambil meminta hal sensitif yang tak seharusnya ia ungkapkan. Aku terus saja menyadarkan dia, namun tak berhasil.
Jika semua cara yang aku lakukan tak mampu mengubah perasaannya, maka aku harus bagaimana, maka aku hanya berkata hidup ku bukan milikku maka harap serahkan saja pada pemilik yakni Tuhan Yang Kuasa serta serahkan saja pada waktu berikan jawaban jika Anda masih sanggup berjuang untuk hal yang tak mungkin terjadi.
Suatu hari terus menerus seperti itu, chat hingga berjam-jam, aku lalu melakukan sebuah perbandingan pada diri aku. Andai aku menyukai sesuatu, apakah aku akan berjuang untuk mendapatkan meskipun haram di mata Tuhan atau aku akan mengikhlaskan saja, pikir aku dalam hati.
Sering ” Dear” tanpa nama terang-terangan open pada perasaan aku mencoba menguji lagi untuk sesuatu yang menjadikan kenangan apabila perjuangan ia benar-benar berhasil pun ia bersedia. Padahal aku hanya mencoba agar ia bisa mengingat harga kenangan itu dan merawat istrinya, namun tetap aja satu kalimat tak bisa dia rubah.
Akhirnya, terus menerus seperti itu, aku mencoba agar ia hadir di dunia nyata mungkin saja perasaan bisa hilang ketika aku mengajak dia bertemu di dunia nyata.
Apa pun yang aku uji semua ia lakukan terus bagaimana dengan istrinya, apakah dia bisa melakukan hal itu pada istrinya jawabannya tetap saja satu kalimat pertama bahwa dia suka.
Aku bingung kenapa ini bisa terjadi ketika aku mencoba menghindari orang yang pernah mengkhianati aku justru Tuhan hadirkan kembali orang yang begitu berjuang menuruti semua permintaan aku?
Akhirnya, suatu hari aku tantang jika benar satu kalimat yang ingin kamu perjuangi itu adalah kenyataan maka aku ingin bukti yaitu belikan Roti & Air Danone buat aku sekarang.
Tak sampai hitungan detik ia pun segera membawa ke hadapan aku dan aku tidak habis pikir semua ini bisa ia lakukan demi aku.
Tuhan memang adil memiliki segudang rahasia untuk mempertemukan penciptanya dengan caranya sendiri.
Tak lama kakak atau “Dear” tanpa nama itu membawa roti serta Aqua Danone tepat waktu, aku langsung bertemu agar semua perasaan itu bisa pudar dari dunia nyata.
Sambil menatap ia pun langsung memberikan roti dan Aqua Danone lalu aku ucapkan berlimpah terima kasih.
Semoga yang terjadi dari dunia maya bisa berubah ketika pertemuan terjadi di dunia riil karena terkadang kita salah menilai seseorang bukan dari karakteristik tapi hanya dari foto yang diposting.
Namun kata” Dear “ tanpa nama bahwa ia masih terus berjuang untuk jadi teman terbaik.

Itu yg namanya salah lirik…
Dalam hati pingin ungkapkan perasaannya secara langsung agr apa yg diinginkan dapat tercapai…