Makam Raja Joao Hornai

Kisah Perang Timor Leste tidak pernah terhapus dalam ingatakan kami, agar dapat terus diceritakan kepada anak dan cucu kami, supaya mereka tahu apa yang telah terjadi di masa lampau. Terutama di Kecamatanku Iliomar, banyak orang yang dibunuh dengan kejam oleh anggota FRETILIN karena dianggap sebagai oposisi mereka.

Raja João Hornai, dari Desa Caenliu belajar di Soibada. Dia menikah dengan Dona Cristina, tetapi tidak memiliki anak. Mereka mengadopsi anak-anak dari saudara laki-laki mereka. Salah satunya, Francisco Hornai adalah seorang prajurit Kavaleri di Bobonaro. Dia berhubungan dengan Sersan Aquiles di Quelicai dan dibunuh dengan kerabat lainnya oleh anggota FRETILIN. Caenliu pada saat itu hanya satu Desa saja.

Tentang Raja João, Rui Brito da Fonseca menulis: “Raja João Hornai,selamat dari Perang Dunia ke-2. Ia dinobatkan oleh gubernur atas jasa-jasa dan aksi heroiknya di Kabupaten Lautém. Atas cara Portugis yang berhasil menjaga ketertiban bahkan ketika Jepang dan pasukan hitam mencoba memenjarakan mereka.Ia menjaga bendera-bendera nasional dan menyerahkannya kepada penguasa Portugis di akhir perang, ketika wilayah itu sedang direbut kembali”. Dalam “Monumen Portugis di Timor Leste”.

Dengan kematian Raja João, Raja Martinho menggantikannya dan membagi desanya menjadi dua. Desa Caenliu dan Desa Tirilolo, RajaTirilolo Tomás Correia, yang pernah menjadi asisten Raja João Hornai.

Kapel pertama yang ada di Iliomar adalah di Putinafa, di Desa Caenliu, terletak di antara Caenliu dan Larimi. Kemudian kapel ini dipindahkan ke Kantor Desa Caenliu, yang dibangun oleh orang-orang Kristen setempat dengan beratap rumput dan dinding terbuat dari palapa, tetapi dalamnya sudah dilantai, karena ada sungai Paifaca-Veir (Tirilolo) di sebelahnya memiliki air minum sepanjang tahun.

Pada saat itu di Caenliu terdapat banyak orang Kristiani. Kapel ini memiliki hak istimewa untuk diresmikan, diberkati dan Misa pertama dipimpim langsung oleh uskup Keuskupan Dili saat itu, Dom Jaime Garcia Goulart, sebelum meninggalkan Timor.

Kelompok Mocidade (Pramuka) Portugis dari Sekolah Tinggi Salesian Fuiloro, yang sedang piknik di kamp di sungai Irabere, kemudian mencapai perairan belerang Vaikana, selalu berjalan kaki, juga melewati kapel ini. Mereka datang melalui Larimi, dimana adakan prosesi patung Perawan Maria Penolong Kristiani dengan lilin pada malam hari, dari Caenliu ke kapel desa, dihadiri oleh semua orang Kristiani dari Kecamatan Iliomar.

Buronan FRETILIN di Iliomar

Sebanyak 75 orang ditangkap, termasuk Konstantino yang berusia 11 tahun, putra Francisco Hornai. Delapan buronan di Kakimatar pada 17/11/1976 dan enam buronan di Muapepeh pada 23/11/1976.

Buronan di Kakimatar adalah sebagai berikut:

  • Francisco Ruas Hornai (dikenal sebagai Chico Hornai; dia adalah seorang militer di Kavaleri Bobonaro, yang melarikan diri pada 17/11/1976)
  • Óscar Ruas Ferreira
  • Duarte Ximenes
  • António de Oliveira
  • Angelino Pinto
  • José Ximenes
  • Paulo Fernandes (adalah seorang perwira militer di Baucau 1973/75; istrinya berasal dari Baucau)
  • Marcos Pinto (penjaga kabel radio di Baucau pada tahun 1975)

Buronan di Muapepeh adalah sebagai berikut:

  • Julius Ximenes
  • Silvino Ximenes
  • Libertine
  • Sorupuna
  • Dinis de Castro (adik laki-lakinya, Manuel Sarmento)
  • Manuel Sarmento (liurai dari Tirilolo melarikan diri dari Muapepeh, kemudian ditangkap lagi di Saelarin dekat Bubutau/Fuat).

NB: Francisco Hornai, Óscar Ruas dan Duarte Ximenes, adalah sepupu pertama.

Inilah memori tentang Perang Saudara, yang terjadi di Kecamatan Iliomar kami, sebelum masuknya pasukan Indonesia. Meskipun kami adalah saudara keluarga, tapi mereka saling membunuh satu sama lain, karena berbeda ide, partai, meskipun sanak keluarga sendiri.

Sumber: Buku Sahabat Rui Fonseca, dibagikan sebagian di fb, oleh Ir. Crispin da Costa, SDB.

*****************

Versão Português

Em Memoria Liurai João Hornai de Iliomar

A história da Guerra de Timor Leste, nunca tinha esquecido para contar continuamente para os nossos filhos e netos para eles sabem o que é acontecem no passado. Especialmente o meu Posto Administrativo de Iliomar, eram cruelmente matando pelos membros da FRETILIN aos seus opositores.

Liurai João Hornai, Suco de Caenliu estudou em Soibada. Contraiu matrimónio com Dona Cristina, mas não tinha filhos. Adoptaram filhos de seus irmãos. Um deles, Francisco Hornai foi soldado da Cavalaria em Bobonaro. Entrou em contacto com sargento Aquiles em Quelicai e foi morto com outros familiares pelos membros da FRETILIN. Caenliu na altura era um só Suco.

Acerca do Liurai João escreve Rui Brito da Fonseca: “Liurai João Hornai, sobrevivente da 2a Guerra mundial. Foi distinguido pelo governador pelos serviços e ação heróica na Circunscrição de Lautém. Pela forma como soube manter a ordem os portugueses mesmo quando japoneses e colunas negras os pretendem aprisionar. Salvaguardou as bandeiras nacionais e com elas se apresentou no fim da Guerra às autoridades portuguesas, a quando da recuperação do território”. In “Monumentos Portugueses em Timor Leste”.

Com a morte do liurai João, liurai Martinho o substituiu e dividiu se o suco em dois.  Suco de Caenliu e Suco de Tirilolo, Liurai de Tirilolo, Tomás Correia, que tinha sido liurai ajudante de João Hornai.

A primeira capela que existia em Iliomar, estava em Putinafa, na área do suco de Caenliu, a meio do caminho de Caenliu e Larimi. Mais tarde se transferiu esta capela para a sede do suco em Caenliu, construída pelos cristãos com o tecto coberto de capin e as paredes feita de palapa, mas já com o chão cimentado, pois havia de uma ribeira Paifaca-veir (Tirilolo) ao lado que tinha água potável por todo o ano.

Já na altura em Caenliu havia mais cristãos. Esta caplea teve o privilégio de ser inaugurada, abençoada e a 1a Missa celebrada com crismas pelo então bispo da Diocese de Dili Dom Jaime Garcia Goulart, antes de deixar Timor.

A banda da Mocidade Portuguesa do Colégio Salesiano de Fuiloro, que fazia um picnic ao acampamento da ribeira de Irabere, indo ter depois às águas sulfurosas de Vaikana, sempre à pé, passou também por estap capela. Vindo por Larimi, onde se fez uma procissão de velas com a estátua da Virgem Auxiliadora durante a noite, desde Caenliu até a capela da vila, acompanhada pelos cristãos de todo o Posto Administrativo de Iliomar.

Fugilados pela FRETILIN em Iliomar

Capturados ao todo 75 pessoas, incluindo Constantino de 11 anos, filho de Francisco Hornai. Oito fugilados em Kakimatar no dia 17/11/1976 e seis fugilados em Muapepeh no dia 23/11/1976.

Fugilado em Kakimatar são as seguintes:

  1. Francisco Ruas Hornai (conhecido por Chico Hornai; foi militar na Cavalaria de Bobonaro, fugilado no dia 17/11/1976)
  2. Óscar Ruas Ferreira
  3. Duarte Ximenes
  4. António de Oliveira
  5. Angelino Pinto
  6. José Ximenes
  7. Paulo Fernandes (foi militar em Baucau 1973/75; a esposa é de Baucau)
  8. Marcos Pinto (guarda-fios em Baucau em 1975)

Fugilados em Muapepeh são as seguintes:

  1. Júlio Ximenes
  2. Silvino Ximenes
  3. Libertino
  4. Sorupuna
  5. Dinis de Castro (irmão mais novo dele, é Manuel Sarmento)
  6. Manuel Sarmento (liurai de Tirilolo evadiu de Muapepeh e foi capturado novamente, depois fugilado em Saelarin perto de Bubutau/Fuat ).

NB: Francisco Hornai, Óscar Ruas e Duarte Ximenes, eram primos-irmãos.

Só isto a memória sobre a Guerra Civil, que aconteceu no nosso Posto Administrativo de Iliomar, antes de entrada as tropas da Indonesia. Nos somos familiares mas já matando uns aos outros devido a diferença de ideia, partido, mesmo que a própria família são assasinados.

Fonte: Livro do amigo Rui Fonseca, partilhado parcela no fb, pelo Ir.Crispin da Costa, SDB.

Pelo. prof. Edo Santos’25

(Visited 64 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.