Oleh: Yusriani Nuruse
Terkadang, ada waktu di mana kita diuji dengan rentetan masalah yang datang silih berganti, seakan tak memberi jeda untuk sekadar menarik napas. Sejak kecelakaan kecil itu, aku merasa seperti terombang-ambing di tengah gelombang. Ada rasa berat yang luar biasa saat harus meminta tolong kepada teman atau keluarga. Bagiku, menolong jauh lebih ringan daripada meminta pertolongan.
Sudah dua pekan sepeda motorku ditahan di bagian Laka. Hal ini membuatku kesulitan menjalani aktivitas, baik dalam kegiatan kemanusiaan maupun pekerjaan. Sebagai tenaga honorer, aku diwajibkan mengisi daftar absensi empat kali sehari dimulai dari Apel Pagi pukul 08.30, dilanjutkan pukul 10.00, pukul 12.00, dan Apel Sore pada pukul 16.00. Semua ini bertujuan untuk melatih kedisiplinan Calon P3K.
Tanpa kendaraan, aku cukup kelimpungan setiap harinya. Setelah salat Subuh dan tadarus, aku menyiapkan bekal makan untuk dibawa ke kantor. Pagi-pagi sekali, aku meminjam motor ponakanku untuk menghadiri Apel Pagi. Aku membawa serta anakku yang kebetulan sedang libur sekolah. Seusai apel, aku segera meminta izin untuk mengembalikan motor, dan memintanya untuk menungguku di kantor, karena ponakanku harus berangkat kerja pukul 09.00.
Saat pulang kantor, aku kadang menumpang teman sejawat yang kebetulan searah dengan rumah. Walau dengan hati yang berat, aku harus berani untuk sedikit membuka diri.
Namun, situasi ini membuat konsentrasiku menurun. Aku menjadi lebih mudah lelah, pikiran sering kacau, dan akibatnya, aku kadang melakukan kesalahan yang tak kusengaja. Hingga seakan-akan, apa pun yang kulakukan selalu salah di mata sebagian orang. Mungkin mereka tak bersimpati, atau memang menungguku tergelincir agar bisa dijadikan bahan penilaian dan cibiran.
Tapi begitulah hidup. Dalam keterpurukan, kita akan melihat lebih jelas siapa teman sejati dan siapa yang hanya topeng kepalsuan. Mereka yang memanfaatkan celah untuk merendahkan sesama.
Sejujurnya, sebagai manusia biasa, rasa sakit itu pedih. Sangat pedih. Namun aku berusaha diam, sebab di mata orang-orang yang selalu merasa benar, penjelasan kita sering kali tak bernilai. Aku belajar untuk berdamai dengan keadaan, semampuku.
Satu hal yang paling sering kulakukan untuk menenangkan hati adalah bersedekah. Mungkin tidak banyak, tetapi dari sanalah aku menemukan ruang untuk bernapas kembali. Maka ketika aku mengantar anakku salat Jumat, aku memintanya untuk bersedekah kepada seorang petugas kebersihan yang kami temui di pinggir jalan. Seketika itu juga, hati terasa lebih ringan. Seolah rasa sedih yang membuncah di dada perlahan menguap bersama doa dan senyum kecil yang tulus.
Aku tak ingin larut dan terpuruk. Dalam diam, aku hanya berharap tangan Tuhan merengkuhku dalam damai, menguatkanku melewati segala ujian hidup yang tak selalu mudah.
Hidup mungkin sedang tidak berpihak. Tapi aku percaya, badai ini akan reda, dan pelangi akan datang, membawa harapan baru.
Soppeng, 11 Juli 2025
