Oleh : Tammasse Balla

Macet di jalan raya adalah wajah paling jujur dari sebuah kota besar. Di Makassar, misalnya, kemacetan bukan lagi sekadar peristiwa lalu lintas, tetapi semacam “upacara” harian yang harus dihadiri oleh siapa pun yang memilih hidup di dalamnya. Jalan-jalan seakan bernafas tersengal-sengal, dijejali motor dan mobil yang berjubel, saling menuntut ruang, seolah-olah aspal adalah milik pribadi.

Dalam macet, kesabaran manusia diuji. Klakson-klakson bersahut-sahutan, bukan sekadar bunyi, melainkan teriakan jiwa yang gelisah. Orang-orang di balik setir atau stang motor berubah menjadi manusia dengan wajah berbeda: wajah yang tak rela kalah, tak sudi menunggu, wajah yang dipenuhi api keinginan untuk segera sampai. Padahal, keinginan itulah yang justru membuat perjalanan terasa semakin jauh.

Macet adalah guru yang sering kita abaikan. Ia hadir setiap hari, memberi pelajaran tanpa diminta. Namun, bukankah begitu juga sifat hidup? Kita ingin berjalan cepat, tapi selalu ada yang memperlambat. Kita ingin segera tiba, namun Tuhan justru menahan langkah kita, seakan berbisik: “Belajarlah menunggu, karena dalam menunggu ada rahasia yang tak pernah kausadari.”

Di tengah kemacetan, ego manusia menampakkan wajahnya yang paling telanjang. Tak ada yang mau mengalah. Semua merasa lebih berhak, lebih mendesak, lebih penting. Padahal, jika satu saja mau memberi ruang, jalan akan lebih lapang. Namun, kesadaran semacam ini jarang muncul, sebab kesabaran sering dianggap kekalahan, dan mengalah dipandang sebagai aib.

Lalu, lampu lalu lintas menyala merah. Sebuah tanda kecil yang mengajarkan disiplin, namun juga sering diabaikan. Saat lampu berubah hijau, seakan-akan seluruh kendaraan meledak serentak, berebut keluar dari “penjara merah” itu. Di situlah kita melihat betapa manusia lebih sibuk mengalahkan waktu sendiri, untuk mengingat kembali bahwa hidup tak selalu bisa kita kendalikan. Juka hati sempit, setiap detik macet adalah neraka kecil yang membakar dada.

Bukankah hidup kita juga seperti itu? Kita menunggu jodoh, menunggu rezeki, menunggu kesuksesan. Semua serba menunggu. Hal yang membuat menunggu terasa menyakitkan bukanlah lamanya waktu, melainkan ketidakmampuan kita menerima kenyataan. Macet adalah miniatur kehidupan yang mengajarkan kita bagaimana menghadapi penundaan tanpa kehilangan akal sehat.

Kota besar seperti Makassar mungkin tak akan pernah benar-benar lepas dari macet. Jalan bisa diperlebar, flyover bisa ditambah, tapi selama hati manusia masih sempit, macet akan terus ada. Karena macet sesungguhnya bukan hanya urusan jalan raya, tetapi urusan kesadaran kolektif: apakah kita siap belajar berbagi ruang dan waktu dengan orang lain?

Macet bukan musibah, melainkan “tempat kursus”. Tempat kita belajar menahan diri, menekan ego, dan menumbuhkan kesabaran. Macet mengajarkan bahwa tergesa-gesa tak selalu mempercepat, dan menunggu bukan berarti kalah. Justru di situlah kita menemukan kebijaksanaan: bahwa perjalanan bukan semata-mata sampai tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama di jalan yang sama.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.