Di sudut lemari pakaian yang paling dalam, masih tersimpan kalung emas berbingkai hati berwarna biru zamrud yang warnanya tetap berkilau, yang kau berikan sebagai mas kawin, tanda cinta. Setiap kali jemariku menyentuhnya, detak jantungku seolah ditarik paksa ke masa yang lalu.
16 tahun telah berlalu sejak tanda tangan di atas kertas itu memutus ikatan sah kita. Namun, tak dapat memutuskan ingatanku. Aku sering mengingat hal-hal tentangmu, seperti minum teh dengan 2 sendok gula, suara tawamu, bahkan aroma parfum kesukaanmu.
Mencintai setelah perpisahan adalah kesepian yang paling menyesakkan. Aku terjebak dalam dilema antara ingin melupakan, namun takut kehilangan kenangan itu, karena hanya itulah satu-satunya dari dirimu yang masih aku miliki.
Dunia melihatku baik-baik saja. Aku bekerja, tertawa bersama temanku, dan menjalani hidup semestinya. Namun, di balik semua itu, aku hanyalah wanita yang masih rindu rumah lamanya, yakni pelukanmu.
Dan kini aku menyadari, ternyata bagian tersulit dari perpisahan bukanlah saat merelakanmu pergi, melainkan saat harus menyadari rasa rindu dan cinta ini tidak ikut bersamamu…
