Oleh: Ren Hayasaka*

Nyinyir bukan anak zaman sekarang. Ia sudah tua, bahkan jauh lebih tua dari munculnya “media sosial”. Ia lahir jauh sebelum jempol kita mengenal layar, ia lahir dari rasa lelah yang tidak sempat diceritakan. Dulu nyinyir hidup sederhana,.ia beredar di warung kopi, di bangku hajatan, di pos ronda, di sela kalimat yang dibuka dengan senyum. Umurnya pendek, mati bersama kopi yang dingin.

Hari ini nyinyir menemukan rumah baru bernama kolom komentar. Ia tidak lagi menguap tapi menetapz direkam, dibagikan, bahkan diadili ramai ramai. Media sosial bukan pencipta nyinyir. Ia hanya pengeras suara. Yang berubah bukan manusianya, melainkan jarak jangkau lidahnya.

Masyarakat mengenal nyinyir sejak lama. Ada sindiran yang halus tapi mengiris, ada gunjingan yang berjalan tanpa wajah, ada cemooh dan celaan yang merasa diri paling lurus, bahkan seni rakyat mengenalnya lewat satir dan olok olok. Semua itu bukan semata keburukan, ia adalah katup sosial. Cara manusia meluapkan rasa tidak nyaman tanpa benturan langsung. Masalahnya, katup itu kini bocor ke mana mana.

Psikologi sosial sudah lama memberi petunjuk. Sejak 1954 Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Dulu pembandingnya terbatas. Tetangga, rekan kerja, saudara dekat. Kini pembandingnya tak berbatas. Ribuan kehidupan hadir di satu layar kecil. Semuanya tampak rapi, semua tampak melaju. Semua menggunakan metode “mengimpresi” satu sama lain untuk tampil terkesan lebih baik penuh pesona, walau sesungguhnya aslinya belum tentu demikian.

Dari situlah kelelahan bermula. Media sosial bukan panggung hidup, tetapi hanya etalase, yang dipamerkan adalah hasil akhir, bukan proses. Senyum, bukan air mata, puncak, bukan tanjakan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa paparan terus menerus terhadap unggahan keberhasilan berkorelasi dengan meningkatnya rasa iri, kecemasan, dan kelelahan batin. Terutama ketika hidup kita sedang berjalan pelan, sementara hidup orang lain tampak berlari.

Pada titik itulah nyinyir berganti fungsi. Bukan lagi sekadar komentar, ia menjadi alat bertahan hidup emosional. Ketika harga diri tertekan dan hidup terasa tertinggal, komentar sinis menjadi jalan pintas. Jika aku belum sampai, setidaknya aku bisa mengecilkan arti capaian orang lain.

Media sosial menyediakan panggung yang murah, cepat, dan hampir tanpa risiko sosial. Lalu algoritma datang menyiram bensin. Emosi keras lebih laku daripada ketenangan, yang memancing reaksi diangkat lebih sering. Akibatnya nyinyir terasa dominan. Seolah semua orang seperti itu. Padahal sering kali itu hanya suara paling ribut, bukan suara paling banyak. Di sinilah punchline yang sering luput kita sadari. Orang yang nyinyir sering kali hanya sedang kosong.

Nyinyir bukan identitas moral. Ia sinyal kelelahan. Ia tanda bahwa seseorang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dan hampir semua orang pernah berada di fase itu. Tidak ada yang sepenuhnya kebal, yang membedakan hanya apakah kita mau berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri.
Karena itu, persoalan nyinyir tidak selesai dengan imbauan sopan di santun digital. Ia reda ketika kita berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan pribadi.

Media sosial boleh terus berisik, tapi ketenangan tidak pernah lahir dari layar. Nyinyir akan selalu ada, tapi kita tidak harus ikut tinggal di sana. Kita bisa memilih cukup. Cukup melihat tanpa membandingkan, cukup mengapresiasi tanpa mengecilkan, cukup sibuk memperbaiki diri tanpa mengomentari hidup orang lain. Sebab pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang tetap tenang ketika orang lain bersinar. (eRHa)

Wassalam
@tunahmad_gazali, SH.,M.Eng.,Ph.D.
Kota Kitakami
Japan

(Visited 8 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Tun Ahmad Gazali

Penulis adalah Pensiunan Dengan Hak Pensiun PNS Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan yang sejak 2020 melanjutkan hidup dan kehidupan dengan berkarier profesional sebagai engineering leader di Jepang. Peraih beasiswa Honor Monbukagakusho (2015-2017) dan Beasiswa Yamaguchi University Scholarship (2017-2018) juga pernah tercatat sebagai dosen tetap pada INI Dalwa Bangil Pasuruan, dosen tamu pada Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya. Meraih gelar M.Eng dari Saga University Jepang (2004-2006) serta gelar Ph.D.-nya yang diraih hanya dalam 2,5 tahun (Oktober 2015- Maret 2018) hingga Postdoc-nya dari Yamaguchi University. Berpengalaman memadukan hukum, teknologi, dan manajemen lintas negara. Berkarier di lingkungan internasional, khususnya Indonesia-Jepang, dengan fokus pada kolaborasi strategis, regulasi bisnis global, serta integrasi teknologi dalam pengambilan keputusan. Terbuka untuk peluang baru yang menantang di bidang global business, legal compliance, dan teknologi inovatif. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.