Bagi banyak orang, angka 16 hanyalah deretan tahun dalam kalender. Namun bagi Ibu Loli, 16 tahun pengabdian sebagai pendidik adalah sebuah perjalanan panjang yang ditulis dengan keringat, air mata, dan ketabahan yang luar biasa. Di balik seragam yang rapi dan senyum yang ia berikan kepada murid-muridnya, tersimpan sebuah kisah tentang bagaimana seorang guru membangun peradaban justru dari kepingan hatinya yang pernah hancur.
Tahun 2018 menjadi titik terendah dalam hidupnya. Di tengah tuntutan besar mengikuti PPG Dalam Jabatan di Universitas Negeri Padang (UNP), Ibu Loli harus menghadapi kenyataan yang menyayat sembilu. Malaikat kecilnya, buah hati yang baru berusia 15 bulan, jatuh sakit.
Perjuangan itu tidak mudah. Dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya, hingga akhirnya mereka harus berjuang habis-habisan di RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Namun, Tuhan memiliki rencana lain. Sang pahlawan kecil itu dipanggil pulang ke pangkuan-Nya.
Kehilangan tersebut, ditambah dengan tekanan akademis yang luar biasa, membuat Ibu Loli jatuh dalam kondisi down yang hebat. Ia sempat menjalani perawatan di Poli Jiwa karena beban mental yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Dunia seolah gelap, dan menyerah nampaknya menjadi pilihan yang paling mudah saat itu.
Namun, Ibu Loli teringat pada satu hal: putranya lahir pada tanggal 10 November 2016. Sebuah tanggal keramat, Hari Pahlawan. Bagi Ibu Loli, anaknya adalah pahlawan yang sesungguhnya. Jika malaikat kecil itu mampu berjuang melawan rasa sakitnya dengan begitu tangguh hingga napas terakhir di M. Djamil, maka Ibu Loli merasa tidak boleh mengkhianati perjuangan itu.
Luka bekas operasi Caesar yang terkadang masih terasa perih hingga hari ini bukan lagi dianggap sebagai rasa sakit, melainkan tanda kehormatan ( badge of honor ) sebagai seorang ibu dari seorang pejuang.
“Dia adalah alasanku untuk kuat. Dia tidak meninggalkanku, dia hanya mendahuluiku untuk setia menunggu di pintu surga.”
Mendidik dengan Hati yang Utuh Kembali
Ibu Loli memilih untuk bangkit. Ia menyadari bahwa sebagai pendidik, ia sedang membangun peradaban. Ia membawa empati yang lebih dalam ke dalam kelas. Ia mengerti bahwa setiap anak yang ia ajar adalah titipan yang berharga. Ia tidak lagi hanya mengajar materi, tapi mengajar tentang resiliensi—kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, setelah 16 tahun mengabdi, Ibu Loli adalah bukti hidup bahwa: Kesehatan mental bukanlah aib, melainkan bagian dari perjuangan manusiawi yang harus dihadapi dengan berani.
Pendidik yang hebat adalah mereka yang mampu mengubah air mata pribadi menjadi mata air ilmu bagi murid-muridnya. Peradaban bangsa tidak hanya dibangun oleh teknologi, tapi oleh hati guru-guru yang tetap memilih untuk mencintai tugasnya meski hatinya sendiri sedang terluka. []
