Pagi di tahun ke-16 ini masih terasa sama. Buk Chilot duduk terdiam di kursi makan, sementara kepalanya terasa berputar hebat.
Vertigo itu kembali menyapa, memaksa dunia di sekelilingnya tampak bergoyang. Di balik dadanya, rasa perih asam lambung naik ke kerongkongan—sebuah pengingat fisik bahwa tubuhnya telah melewati ribuan kecemasan demi menjaga keutuhan rumah ini.
Pak Luma melintas, sebuah tatapan singkat bertukar di antara mereka. Tidak banyak kata yang keluar, namun dalam diam itu, ada 16 tahun sejarah yang tertulis. Suka, duka, dan badai yang nyaris merobohkan atap mereka berkali-kali.
Buk Chilot menoleh ke arah ruang tengah. Di sana ada Husnul Maulida, Nuri Maulida, dan si bungsu Azikra Maulida. Melihat wajah-wajah mereka adalah obat paling mujarab bagi vertigo yang ia rasa.
Banyak orang bilang bertahan demi anak adalah alasan klasik. Namun bagi Buk Chilot, itu adalah alasan paling suci.
Ia rela menjadi karang yang dihantam ombak setiap hari, asalkan Husnul, Nuri, dan Azikra bisa tumbuh di bawah naungan langit yang utuh.
Namun, perjuangan ini bukan hanya untuk mereka yang ada di bumi. Di setiap sujudnya, nama Nurdinda Maulidis dan Ibrahim selalu terucap. Dua malaikat kecil, anak surganya, yang kini telah tenang di sana.
Ada janji tak tertulis yang Buk Chilot simpan: bahwa ia harus tetap tegak berdiri di dunia agar kelak bisa pantas bertemu kembali dengan Ulid dan Ibrahim di keabadian. Mereka adalah kekuatannya yang tak terlihat, yang membisikkan ketabahan saat ia hampir menyerah.
Beban di pundak Buk Chilot makin terasa saat mengingat kewajiban Pulang ka Bako. Ada banyak hati yang harus dijaga di sana.
Keluarga besar, martabat, dan harapan-harapan yang dititipkan kepadanya. Ia tak ingin mengecewakan siapapun.
Ia memilih untuk memendam perihnya sendiri, membungkus duka dengan senyuman yang paling tulus saat berada di tengah kaum kerabat.
Malam ini, di hari jadi yang ke-16, Buk Chilot menarik napas panjang. Pak Luma masih di sampingnya, dan anak-anak masih dalam dekapannya.
Ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan lagi tentang pencarian kebahagiaan yang sempurna, melainkan tentang kesetiaan pada janji.
Biarlah asam lambung dan vertigo menjadi saksi betapa hebatnya ia berjuang. Ia adalah seorang ibu, seorang istri, dan seorang pejuang yang takkan membiarkan bahtera ini karam.
“Untuk Ulid dan Ibrahim di surga, untuk Husnul, Nuri, dan Azikra di pelukan, dan untuk Pak Luma sebagai teman perjalanan… Selamat 16 tahun bertahan dalam cinta yang hebat.”
