Di sebuah dapur kecil di sudut Simpang Kapuak, asap tipis menari-nari keluar dari celah atap rumbia. Umi Itam, nenekku yang tercinta, sedang bersimpuh dengan tenang di depan tungku kayu. Di hadapannya, sebuah kuali besi besar telah terisi santan kental yang mulai menghangat.

“Sini, Kak Chilot, tengok nenek masak,” panggilnya lembut.

Bagi Umi Itam, membuat Pongek adalah sebuah ritual kesabaran. Tidak ada bumbu yang rumit atau mewah. Hanya ada kunyit yang diparut halus untuk memberikan warna kuning keemasan yang jujur, serta gilingan lado ketek (cabai rawit) yang pedasnya menggigit namun selalu dirindukan setiap kali aku pulang ke kampung.

Keikhlasan dalam Isian

Hari itu, Umi Itam memilih cimodak (nangka muda) sebagai isian utama. Namun, ia juga menyiapkan beberapa ikat paku kuban dan pucuak ubi yang baru saja kami petik bersama di belakang rumah.

Itulah keajaiban Pongek; ia tidak pernah pemilih. Ia menerima apa saja yang disediakan oleh alam. Cimodak yang memberikan tekstur empuk dan manis alami. Paku Kuban atau Paku Ayia yang memberikan aroma segar hutan yang khas. Pucuak Tale yang lembut dan meresap santan dengan sempurna. Semuanya menyatu dalam kuah santan yang mulai mengental dan berminyak. Tidak ada daging mahal, tidak ada rempah impor. Hanya hasil bumi yang dipelihara dengan doa dan kasih sayang seorang nenek.

Lambang Kesederhanaan

Saat matahari tepat di atas kepala, Pongek pun masak. Warnanya kuning pekat, aromanya gurih pedas menusuk hidung, menggugah selera siapa pun yang lewat. Umi Itam menghidangkannya di atas piring seng tua kesayangannya.

“Makanlah, Kak Chilot. Biar badan kuat,” ucapnya sambil menyendokkan kuah kuning itu ke atas nasi hangatku.

Pongek adalah bukti bahwa kemewahan tidak selalu datang dari bahan yang mahal. Kesederhanaan Simpang Kapuak tertuang dalam setiap suapan: rasa gurih santan yang tulus, pedas lado ketek yang berani, dan kelembutan sayur-mayur yang merakyat.

Di meja makan kayu yang sudah kusam itu, aku makan dengan lahap. Bagiku, Pongek buatan Umi Itam bukan sekadar lauk. Ia adalah pengingat untuk selalu bersyukur atas apa yang tumbuh dari tanah sendiri. Bahwa dalam pelukan kesederhanaan nenek, aku selalu menemukan kebahagiaan yang paling murni. []

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.