Oleh: Hidaya Mushlihah
Dibalik senyuman ini, ada kristal-kristal bening yang tertahan dan hampir jatuh dari tahtanya. Senyuman yang nampak terukir indah di ruang keberangkatan ini adalah senyum paling mahal yang pernah saya punya, karena dibalik senyum itu ada galau yang terselip.
Tangan ini terasa dingin, lalu kugenggam tangannya mencari hangat, tangannya pun dingin dan tak ingin lepas dari genggamanku. Rasanya baru saja anak panahku (putriku) berada dalam pelukan hangatku, namun di pagi ini harus melepasnya lagi dari busurnya (pelukanku).
Anak panah terbaik yang Allah telah titipkan 17 tahun yang lalu yang kuberi nama Muslimah Lathifah Putri semata wayangku. Dari kota kecil kami di ujung Utara Sulawesi Tenggara kuantar dia terbang ke Kota Pelajar nan jauh untuk menuntut ilmu dan meraih impiannya di Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.
Saat ini sudah memasuki tahun kelima ditempah dalam asrama. Orang-orang melihat kami bertiga di foto ini tentu mengira kami baik-baik saja. Padahal semalam saya tidak tidur dan gelisah. Busur di dada ini saya tarik kuat-kuat, sampai jemari batin lecet. Melepas anak Perempuan semata wayang ke kota orang itu rasanya seperti mencabut separuh nyawa, lalu disuruh ikhlas.
Ingat semua bekal yang saya masukkan ke kopernya dengan penuh cinta. Baju hangat, vitamin dan obat-obatan yang sewaktu-waktu dapat digunakan, sambal dan Mie Instan Coto Makassar kesukaannya tak lupa kususun dengan apik. Tapi bekal yang paling berat justru yang tidak kelihatan adalah doa. Untaian Doa seorang ibu yang tidak bisa ikut terbang tapi hanya mampu melangitkannya hingga tembus Langit ke tujuh.
Doa yang kulesatkan bersama anak panah ini. “Ya Allah, tolong jaga anak panahku dalam lindungan dan pemeliharaan-Mu.” Anak panah pertama yang melesat namanya rindu. Padahal dia belum sampai, saya sudah rindu. Anak panah kedua namanya khawatir. Kota itu jauh, Nak. Ibu tidak bisa tiba-tiba datang jika kamu demam. Anak panah ketiga, yang paling berat, namanya ikhlas. Saya lepaskan ke langit-langit bandara, biar Allah yang jadi penjaminnya.
Jika ada yang bertanya, “Ibu baik-baik saja?” Saat ini saya jawab dengan jujur “Tidak”. Saya tidak baik-baik saja. Rumah pasti sepi dari tawa dan gaduh. Kursi dan piring di meja makan pasti sisa dua. Tapi saya memilih baik-baik saja dan harus kuat. Sebab anak panah memang tugasnya melesat. Busur yang menahan anak panah terlalu lama justru akan patah dengan sendirinya tanpa apa-apa. Dengan Bismillah kukuatkan hati menarik tali busur ini untuk kulesatkan ke medan Ilmu.
Kepada semua ibu di mana pun, yang hari ini juga melepas anaknya ke kota orang untuk menuntut ilmu, saya mau peluk dari jauh. Kita sama-sama tidak baik-baik saja. Namun kita sama-sama tahu bahwa ini bukan perpisahan. Ini adalah sebuah perjalanan. Kita melepas mereka bukan untuk kehilangan, tapi untuk menyaksikan mereka menemukan jalan dalam mewujudkan impiannya. Maka duhai kota yang akan jadi rumah barunya dan asrama tempat diasah dan ditempah, tolong dengar bisikan kalbu seorang ibu dari Bumi Patowanua ini. “Saya titip anak panahku padamu. Ajari dia ilmu, jaga dia dalam kebaikan dan adab, pulangkan dia dalam keadaan selamat’.
Untuk anakku tersayang, jika kamu lelah, ingatlah busur ini selalu terbuka untuk tempatmu pulang dalam keadaan tetap kuat dan lebih kokoh dari sebelumnya. Ibu yakin nak, kamu adalah anak panah pilihan yang Insya Allah akan melesat tepat ke sasaran ilmu dan taqwa, hingga bermanfaat bagi bangsa, ummat dan persyarikatan Muhammadiyah. Ada Rindu dan Doa selalu Untukmu anakku, Ibu selalu ada untukmu dalam suka dan ceria, duka dan galaumu. Runcingkan terus ujung pikiranmu menuju sasaran cita dan cintaku. I Love You My Daughter.
*BNsiana yang terus berproses menjadi pemanah tanggguh
