Oleh : Rosmawati

Baru pulang kuliah dengan hati berbunga penuh optimisme. Bersyukur bisa kuliah di kampus terluas, termegah, dan terlengkap literaturnya di dunia. Jam kuliahnya fleksibel, santai tapi serius. Mahasiswanya lintas umur, status, suku, bahasa. Lintas daerah, kota, bangsa, bahkan benua.

Semua boleh menjadi mahasiswa tanpa batas tanpa syarat yang memberatkan. Kalaupun ada syaratnya, cuma tidak boleh sombong, angkuh, pamer, dan baper.

Kampus pusatnya didirikan saat virus pandemi covid-19 melanda negeri ini. Alhamdulillah kini kampusnya sudah tersebar di mana-mana. Kelasnya buka 24 jam, Ujiannya setiap saat, tetapi ujian puncaknya cuma satu, yaitu menjadi manusia rendah hati bukan rendah diri.

Dosennya beragam, sebutlah ibu di pasar, anak muda yang patah hati, tukang becak, gelandangan, pengumpul barang bekas, bahkan orang gila sekali pun bisa menjadi pengajarnya dengan memperkenalkan konsep, “Sumber utama penyakit itu 80% pikiran, bukan makanan. Kalau makanan sumber utama penyakit maka tidak ada orang gila yang hidup, karena makannya terkadang mungut di tampat sampah”.

Itulah dahsyatnya kuliah di kampus ini yang bernama, “Universitas Kehidupan”. Kantor pusatnya di angkasa, papan tulisnya langit, alat tulisnys pengalaman, matakuliah pokoknya empat bagian.

Pertama, menulis sambil memeluk kemanusiaan. Kedua, menulis sambil mengurus kehidupan. Ketiga, menulis sambil menginspirasi. Keempat, menulis sambil berbagi.

Jaket ini jas almamater, dan wisudanya setiap kali kita berani membicarakan gagasan dan pikiran, melontarkan ide-ide pemberdayaan, menceritakan harapan, dan menumbuhkan semangat.

Menurut dua orang pendirinya Ruslan Ismail Mage (RIM) dan Kuspryanto (IYAN), “Sekali jujur dalam satu paragraf, tulisanmu keliling kehati orang yang mengenalmu maupun tidak mengenal namamu”.

Setiap waktu mahasiswa saling menyapa. Lebih istimewanya, setiap selesai sholat subuh, mahasiswa saling berebut lebih dulu mengucapkan salam, “Assalamualaikum sahabat pembelajar”, yang lainya pun saling berebut menjawab, “Walaikumsalam”. Berikut salam familiar setiap subuh yang mempersatukan jiwa kami.

Assalamu’alaikum wr wb. Selamat dan semangat pagi sahabat pembelajar Bengkel Narasi. Mari kita sambut sang surya dengan senyuman merekah. Sentuhlah hati dan ucapkan, “Ya Allah, aku sehat, aku kuat, aku mampu, aku damai, dan aku bahagia.” Inilah kekuatan afirmasi. Ini penting karena alam semesta memberikan sesuai pikiran kita.

Ayo, bentuklah pikiran positif saat terbangun, niscaya kebaikan akan mengalir menyapamu! (RIM). Itulah salam terdahsyat yang setiap subuh menggema dari balik jendela kantor pusat Universitas Kehidupan dan Bengkel Narasi di angkasa raya.

Insyaallah empat bagian mata kuliah di atas akan dipelajari dan dilaksanakan sungguh-sungguh. Salam pena, dan kita harus selalu ingat pesan rektor, “Menulis itu adalah ibadah sunyi, dan setiap buku yang ditulis akan menjadi anak tangga menuju langit”.

Hormat saya, Mahasiswa Universitas Kehidupan di Bengkel Narasi Indonesia.

(Visited 7 times, 7 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.