Manusia manapun selagi masih normal pemikiran dan perilakunya, manakala ada sesuatu yang menjadi kebiasaannya, maka iapun akan selalu ingin melakukannya, termasuk diriku. Bagiku, menuangkan segala hal dalam kehidupanku pada  coretan-coretan kecil, merangkainya dalam kalimat sederhanapun membuat beban kehidupanku menjadi agak lebih ringan. Ada kepuasan, ada kegembiraan, ada keriangan, dan segala rasa berbaur menyatu mengharu biru manakala penaku menari-nari, meliuk-liuk membawa pengembaraan jiwa ragaku tertumpu pada secarik kertas buram sekalipun. Pada secarik kertaslah kutumpahkan segala rasaku, rasa senangku, rasa bahagiaku, rasa sukaku, begitupun sebaliknya, rasa dukaku, rasa sedihku, rasa piluku, dan segala rasa yang menggayutiku. Entah di pagi hari ketika embun masih berselingkuh dengan dedaunan, ataukah ketika mentari menampakkan diri yang  panasnya  melibas embun menyambut pagi yang cerah, ataupun ketika di sore hari saat senja menyapa dengan kemilau warna kuning keemasan yang eksotik yang terlihat dikaki langit walau sebenarnya teramat jauh jauh jarak antara langit dan bumi. Ataukah di malam hari  ketika jangkrik berdendang riang mengusik keheningan  kegelapan malam yang menyelimuti cahaya bintang gemintang yang redup-redup. Segala rasaku tertumpah ruah di secarik kertas, walau terkadang hanya terbuang, ataukah  berakhir remuk dalam genggamanku, bahkan berakhir di tong sampah hingga hancur di guyur hujan ditemani kerumunan lalat dan serangga lainnya.

Akhir-akhir ini, berhari-hari, penaku yang selalu setia membawa  pengembaraanku di setiap apapun yang kulihat, di  setiap apapun yang kurasa, yang selalu ingin menunutun jemariku pada secarik kertas untuk kuabadikan. Setiap ada tulisan yang tersaji di link BN, kuhanya lebih banyak membaca dan menyimak sembari berdecak kagum, betapa pandainya dan sempatnya mereka menulis. Ternyata ada saatnya waktuku sangat terbatas, penaku tak mampu kugunakan untuk yang  kuinginkan, karena bukanlah kehendakku yang harus terkabul, melainkan kehendak Sang Penguasa semesta. kehendak yang telah tertulis di lauhulmahfuz  sebelum penciptaan makhluk yang lain yang menjadi takdir pada setiap makhluk, tetapi takdirpun bisa berubah dengan ikhtiar dan doa bagi yang mengimaninya . Betapa lemahnya diriku, betapa tak berdayanya diriku kecuali bila Allah memberinya kekuatan, maka syukur yang tak terhingga yang harus kumiliki bila kekuatan masih menyatu dalam jasad dan jiwaku untuk berbuat, termasuk ketika penaku beraksi membuat coretan-coretan, merangkai-rangkai kata yang bermakna, apatah lagi bila coretan-coretan itu tak lagi terbuang, ataukah berakhir remuk dalam genggamanku, ataupun juga berakhir di tong sampah, saat ini hal itu tidak berlaku lagi.

Sejak mengenal sosok Bang RIM, yang bernama lengkap Dr.Ruslan Ismail Mage, Direktur Sipil Instirut Jakarta yang selalu mensupportku mengabadikan tulisanku dalam satu buku  dibantu oleh Kang Iyan yang bernama lengkap Kuspriyanto alumni UI, maka coretan-coretan penaku tak lagi berakhir remuk dalam genggamanku apalagi berakhir di tong sampah. Dalam benakku, saya hanyalah seorang perempuan desa dengan fasilitas dan akses yang serba terbatas, jauh dari ibu kota Negara yang beergelimang segalanya,  seorang ibu rumah tangga dengan penguasaan teknologi yang sangat terbatas alias gaptek meski sebagai ASN, merasa hanya terkungkung di satu tempat, hanya ”bagai  katak dalam tempurung” meski tidak seperti sifat dan sikap katak  dalam tempurung yang jumawa, yang merasa suaranya paling nyaring, tentu tidaklah. Hingga di awal tahun 2021 ini, telah berhasil menyelesaikan satu buku yang masih jauh dari sempurna dengan judul “Menata Diri Menti Kehidupan Secara Islami.” Buku pertamaku ini bila mengkaji isi Al-Quran, yang diibaratkan buah, kulitpun tentu masih  belum terkaji secara mendalam untuk tersaji.

Kesenanganku berselancar di atas secarik kertas dengan penaku telah tumbuh sejak lama, entah kapan memulainya, namun selalu kulakukan bila kusempat dan bila ada moment tertentu. Akan tetapi ketika buku Sumpah Pena beredar hingga kumemilikinya, walau belum sempat saya telusuri di setiap lembarnya, baru halaman pengantar,karena buku tersebut berselingkuh dengan pasangan hidupku sendiri.  Akan tetapi dari beberapa testimoni yang pernah membacanya, membuatku makin termotivasi untuk selalu menulis. Hanya saja kesibukanlah yang membuatku beberapa hari ini bahkan sudah berbilang bulan, saya tidak sempat menumpahkan segala rasaku di  secarik kertas. Hingga membuat tanganku  selalu gatal memegang penaku untuk bergoyang ria, menari-nari meliuk-liuk, dan berselancar  di atas lembar-lembar kertas yang kumiliki. Akupun melabeli diriku sebagai perempuan desa yang gatal, karena tanganku selalu gatal untuk menulis, seperti yang lain, ada yang telah terhipnotis (bu Ros), ada juga yang sudah gila untuk menulis. Tentu ini kemajuan yang sangat luar biasa, virus-virus teroris literasi telah menyebar ke seantero Nusantara.  Tentu merupakan tulisan-tulian yang bermanfaat   termasuk diriku dapat bermanfaat bagi semesta, terlebih bagi sesama manusia. Terima kasih pada semua manusia pembelajar yang selalu memotivasi.  Manajemen satu rasa telah  merasuki para keluarga Bengkel Narasi menuju kehidupan keabadian.

(Visited 218 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.