Suasana Sunset di Teras pak Sadar

Matahari terbenam, atau yang lebih populer dalam sebutan Sunset (dari bahasa Inggris), telah lama menjadi salah satu wisata yang banyak memikat hati jutaan orang di berbagai belahan dunia. Lebih dari sekadar fenomena alam, momen gratis ini memiliki kekuatan magis untuk menyatukan jiwa-jiwa yang berbeda dalam satu bingkai kebersamaan. 

Saat langit mulai memerah, segala perbedaan seolah melebur dalam sebuah pesona visual yang begitu megah. Ini menciptakan sebuah rasa damai yang tak akan pernah mampu terlukiskan oleh kata-kata. Merupakan pemandangan biasa jika melihat insan-insan duduk berdampingan, terdiam dalam harmoni yang sama, dan menyaksikan mahakarya alam senja yang sakral.

Banyak yang rela berpetualang jauh dari rumah, bahkan menantang bahaya, demi menyaksikan keindahan matahari terbenam. Tak heran jika aktivitas melihat lanskap estetik ini selalu masuk dalam daftar rencana liburan keluarga (bucket plan) di akhir pekan, atau hari libur lainnya.

Bagi dunia bisnis, pemandangan sore ini menjadi komoditi strategis untuk meraup keuntungan finansial. Tak mau kalah, banyak otoritas pemerintahan yang menjadikannya sebagai instrumen penjenamaan (branding) daerah. Praktik ini tampak di beberapa destinasi global dan domestik. Seperti Pulau Dhigurah di Maladewa, Pantai Losari di Makassar, Pantai Kuta di Badung, serta Kawasan Megamas di Manado.

Di tempat-tempat ini, ribuan orang hadir secara khusus untuk bersantai di bawah langit sore lembayung, meski harus mengalokasikan waktu dan merogoh kocek. 

Di saat yang sama banyak pula yang beruntung tidak perlu beranjak ke mana-mana untuk melihat langit yangs sama. Cukup membuka mata dan sudah bisa menikmati kemewahan alam ini setiap hari secara cuma-cuma.

Pesona ini nyata bagi Muhammad Sadar, PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Barru yang juga Penulis Bengkel Narasi. Ia menetap bersama keluarganya di pantai barat Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Pantai terbentang memanjang di belakang rumahnya dengan kemilau pasir putih di siang hari, vista yang memukau beserta hembusan angin sejuk di sore hari, deburan ombak yang lembut dan langit malam yang bertabur bintang adalah pemandangan kesehariannya.

Muhammad Sadar paham betul bahwa ia mewarisi anugerah bernilai tinggi dari sang Maha Kuasa. Rasa syukur itu ia wujudkan dengan membangun sebuah teras di lantai 2 belakang rumahnya. Di tempat khusus inilah, ia bersama keluarga tercinta biasa meluangkan waktu untuk meresapi keindahan panorama alam yang tersaji di depan mata.

Saat mendapat kabar ada yang akan berkunjung pada sore menjelang magrib, Sadar langsung menawarkan keindahan sunset di terasnya itu. Benar saja, suasana sore yang romantis langsung menyambut dengan hangat. Ingin rasanya menghentikan pergerakan matahari yang turun perlahan ke garis ufuk, agar bisa berlama-lama menikmati indahnya ciptaan Allah itu.

Sayang sekali, rasa nyaman yang sempat menyelimuti jiwa dan membasuh pikiran seketika buyar. Ruang jeda yang singkat namun nyaman berakhir karena bayangan tiga jam lagi menuju Makassar sudah melintas di pikiran, menyambung lelah yang belum sepenuhnya luruh setelah empat jam perjalanan dari Enrekang.

Meski singkat, momen ini menghadirkan kesan yang begitu kuat. Muhammad Sadar yang paham betul arti penting sunset dalam perkembangan spiritual dan kompetensi dirinya, mengoptimalkan potensi ini secara maksimal. Sunset bertransformasi sedemikian rupa sehingga bisa menjadi anugerah untuk mendukung pengembangan jiwa.

Kunjungan singkat yang diwarnai pertukaran buku itu menggambarkan dengan jelas suasana sore yang dilewati pemilik rumah sepanjang hidupnya. Kepenatan akibat rutinitas kerja seketika sirna begitu ia tiba di rumah dan menyaksikan indahnya bola raksasa merambat turun ke peraduan. Riuh rendah masalah sosial juga bisa berubah menjadi energi positif saat duduk tenang di teras itu.

Ketenangan dari syahdunya kondisi ini mampu menghadirkan situasi nyaman dan damai yang memicu kreativitas alam bawah sadar, memantik untuk terus berkarya dalam  bentuk tulisan. Inilah yang terjadi dengan penulis Sadar, dimana sebagian karya tulisnya yang sudah menjadi buku, lahir di bawah indahnya aura jingga di sore hari.

Langkah kaki menjauh dari atmosfer yang membuai itu memicu rindu unruk datang lagi, tentu dengan waktu yang lebih lama. Di balik gemerlapnya cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan, terbayang suasana yang sentosa, duduk berlama-lama menikmati minuman hangat, jemari di laptop, sambil sesekali melirik sang surya yang angkuh bergeser sedikit demi sedikit mendekati garis horizon.

Makassar, Sulawesi Selatan, 10 September 2026

(Visited 10 times, 10 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.