Oleh: Gusnawati Lukman

Anak adalah amanah dari Allah SWT kepada orang tua yang harus dirawat, dijaga dan dididik sejak dini. Ketika anak diberi perawatan dan pendidikan yang baik, mereka akan tumbuh baik fisik, psikis, akal, dan akan berkembang secara maksimal. Generasi inilah yang nantinya akan menjadi harapan bangsa, menjadi pemimpin yang membawa manusia pada kehidupan yang aman, adil, dan sejahtera. Peran pendidik sangat menentukan tumbuh kembangnya seorang anak. Para pendidik berperan dalam setiap fase perkembangan anak didiknya. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan nasional kita yaitu Bapak Ki Hajar Dewantara. Menurut beliau bahwa mendidik seorang anak disesuaikan dengan kodratnya, karena anak terlahir dengan membawa kodrat masing-masing.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah students-centered, dan filosofi pendidikan yang berpusat pada siswa tersebut sudah ia perkenalkan sejak tahun 1922 di mana saat itu dipakai Metode Among yang tercermin dalam semboyan ” Tut Wuri Handayani”. Istilah yang beliau pergunakan adalah ” berhamba pada sang anak “. Filosofi pendidikan ini mensyaratkan pendidik untuk memberi tuntunan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak secara budi (cipta,rasa,karsa) dan pekerti (tenaga),sesuai dengan kodrat sang anak. Ki Hajar Dewantara sendiri menggambarkan tuntunan pendidikan yang “ekologis”, ibarat petani yang menanam berbagai macam bibit tanaman dan memelihara bibit tanaman tersebut sesuai dengan kodratnya.

Tuntunan ini bersifat holistik, tak boleh lepas dari pendidikan sosial dan kultural. Ia menghantarkan anak tidak hanya pada ketajaman pikiran, rasa, dan kekuatan kemauan. Namun, juga pada kebulatan jiwa dan kebijaksanaan. Ki Hajar Dewantara mengkritik keras sistem pendidikan yang mengkultuskan ujian, karena dalam sistem tersebut pelajar tidak akan belajar untuk perkembangan kejiwaannya, tapi untuk nilai tinggi, rapor dan ijasah. Kenyataan sekarang ini, sistem pendidikan kita tidak sesuai dengan harapan beliau. Saat ini keberhasilan seorang anak dalam menempuh pendidikan hanya ditentukan oleh deretan nilai yang tinggi. Praktik pendidikan kita terlalu menekankan kognitif (ujian), tidak memberi tuntunan sesuai dengan kodrat dan perkembangan anak, tidak holistik.

Pada akhirnya, mari kita wujudkan filosofi Tut Wuri Handayani dalam tugas mendidik anak menjadi generasi unggul. Seorang pendidik yang In Ngarso Sun Tulada, In Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Jangan lupakan kodrat mereka. Wujudkan merdeka belajar yang berpusat pada anak didik. Sebagai seorang pendidik,” bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada anak”. Berhamba pada anak adalah bentuk totalitas yang diberikan oleh seorang pendidik yang fokus melayani anak. Guru harus menjadi teladan bagi anak didiknya. Ia digugu dan ditiru. Guru biasa mengajar, guru luar biasa mengajar dan menginspirasi.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021

Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar

Watansoppeng, 2 Mei 2021

(Visited 410 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.