Pierre Felix Bourdieu lahir pada 1 Agustus 1930 di Denguin, dan meninggal karena kanker paru-paru pada 23 Januari 2002 di Paris. 

wikipedia

MEMBACA PEMIKIRAN TOKOH SOSIOLOGI
PIERRE BOURDIEU

A.  Habitus Dan Lingkungan
Bourdieu lebih dapat menyesuaikan pemahamannya dengan asumsi sktrukturalis yang tanpa mengesampingkan keberadaan agen, seperti teoritisi dari Sartre, Schutz, Blumer, dan Garfinkel yang merupakan penganut subjektivisme. Bourdieu fokus perhatiannya pada tindakan praktik dalam menghilangkan dilema antara objektivisme dan subjektivisme.

Praktik merupakan hasil hubungan dialektika antara strukturalis dan keagenan, praktik tidak dapat ditentukan secara objektif saja, namun juga tidak dapat dianggap sebagai hasil dari kemauan bebas individu.

Orientasi teoritisi dari Bourdieu ini disebut dengan strukturalisme genetis atau strukturalis konstrukalisme, dan juga strukturalis. Walaupun ia dapat membatasi antara strukturalisdan konstrukvisme, namun karyanya lebih cenderung pada arah strukturalisme, yakni dengan banyaknya kesamaan denganstrukturalisme daripada konstrukvisme.

Disimpulkan mengenai inti dari teori habitus dan lingkungan adalah usaha dari Bourdieu dalam menjembatani subjektivisme dan objektivisme, dan juga mengulas mengenai hubungan dialektika keduanya, dimana posisi habitus yang berada dalam pikiran aktor sementara lingkunganlah yang berada di luar pikiran aktor.

Konsep mengenai habitus ini muncul dari pemikiran Marcel Mauss, yang disimpulkan bahwa habitus merupakan struktur mental atau kognitif yang digunakan aktor untuk menghadapi dunia sosial.

Habitus yang termanifestasikan pada individu diperoleh dari proses sejarah individu dan merupakan fungsi dari titik tertentu dalam sejarah sosial dimana ia berada. Habitus dapat bertahan lama dan dapat pula berubah sesuai dengan arena di mana individu berada.

Seringkali, seseorang memiliki habitus yang tidak sesuai, sehingga terjadi kesalahan dalam pergerakannya yang hingga mengarah pada ‘penderitaan’ atau yang disebut dengan hysteria, sebagai contoh ialah seseorang yang berhabitus dalam bidang agraria karena pergerakan industrialisasi yang ada dia harus bekerja pada bidang industrialisasi yang tidak sesuai dengan habitus awalnya sebagai seorang petani.

Habitus secara pasti dihasilkan dan akan mendatangkan hasil di dalam dunia sosial.

Bourdieu menggambarkan habitus sebagai dialektika internalisasi eksternalisasi dan eksternalisasi internalisasi. Jadi habitus memungkinakan Bourdieu untuk keluar dari keharusanuntuk memilih antarasubjektivisme dengan objektivisme, keluar dari kendali filsafat subjek tanpa mengabaikan agen maupun dari kendali filsafat struktur, namun tanpa lupa tetap mempertimbangkan efek yang ditimbulkannya nanti pada diri agen.

Menurut Bourdieu fungsi mediasi praktik ini ketika mendefinisikan habitus sebagai sistem disposisi yang terstrukturkan dan juga menstrukturkan yang dibangun oleh praktik dan secara konstan ditujukan pada fungsi-fungsi praktik. Inti terpenting dari habitus Bourdieu yang menjadikannya beda dengan pemikiran strukturalis ialah habitus ini merupakan satu struktur terinternalisasi yang walaupun menghambat pikiran dan pilihan bertindak, habitus secara pasti tidak selalu menentukan tindakan dari individu. aspek sentral dari habitus adalah perwuju dan tidak hanya habitus, fugsi pada tingkat eksplisit, kesadaran diskursif. Individu belajar utuk menginginkan apa kondisi yang memungkinkan bagi mereka, dan tidak utnuk bercita-cita apa yang tidak tersedia bagi mereka.

B.  Kapital

Kapital merupakan modal yang memungkinkan individu untuk mendapatkan kesempatan di dalam hidup. Ada banyak jenis kapital, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan). Kapital bisa diperoleh jika orang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya. Habitus membaca, menulis, dan berdiskusi akan menghasilkan kapital intelektual dan kapital budaya. Sementara, sikap rajin bekerja dan banyak jaringan bisnis akan menghasilkan kapital ekonomi. Kapital bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang dinamis.

Karena memiliki kapital intelektual (pendidikan), orang bisa bekerja sebagai pendidik, dan memiliki uang (kapital ekonomi) untuk bertahan hidup. Kapital intelektual juga bisa diubah menjadi kapital budaya (jaringanyang banyak), sehingga bisa memperkaya kapital intelektual itu sendiri. Kapital ekonomi jiga bisa diubah, misalnya dengan investasi, sehingga menghasilkan kapital ekonomi dan kapital budaya yang lebih besar.

C.  Atena
1.  Merefleksikan keutamaan arena kekuasaan, adalah menelusuri hubungan arena spesifik tertentu dengan arena politik.
2.  Memetakan struktur subyektif hubungan antar posisi di dalam arena.
3.  Menentukan sifat habitus agen yang menduduki berbagai jenis arena.


Di sisi lain arena juga merupakan hal sejenis dengan pasar kompetitif yang di dalamnya berbagai jenis modal atau kapita berada (budaya, ekonomi, sosial, dan simbolik) yang digunakan dan dimanfaatkan, namun arena kekuasaan politik dianggap sebagai hal yang paling penting, hierarki hubungan kekuasaan dalam arena politik berfungsi untuk menstrukturkan arena lainnya.

Menurut Bourdieu modal merupakan segala aspek kebutuhan yang harus dimiliki dan diusahakan oleh setiap individu demi menjaga kelangsungan hidupnya baik fisik ataupun biologisnya. Orang yang memiliki posisi dalam arena tersebut menjalankan berbagai macam strategi. Gagasan ini menunjukkan aktor dalam pemikiran Bourdieu bahwa habitus akan memberikan saran bagi aktor untuk bertindak dalam arena Bourdieu juga menganggap bahwa negara merupakan suatu arena perjuangan di dalam memperjuangkan monopoli dari apa yang diselewengkannya sebagai kekerasan simbolis. Ini dianggap sebagai kekerasan yang halus, kekerasan yang dijalankan oleh agen sosial dengan kompleksitasnya.

Dalam hal ini konsep politis karya Bourdieu nampak. Jadi Bourdieu tertarik pada emansipasi dari kekerasan ini dan lebih umum lagi dari dominasi kelas dan politik. Bourdieu menganggap hubungan antara habitus dan arena sebagai relasionisme metodologis daripada individualisme metodologis atau holisme metodologis.

Ia lebih memperhatikan hubungan antara habitus dengan arena, ia melihatnya dengan dua cara. Di satu sisi arena mengkondisikan habitus, sedangkan pada sisi lain habitus menciptakan arena sebagai sesuatuyang bermakna yang memiliki rasa nilai dan yang layak untuk mendapatkan strategi energi.

Definisi sederhana dari arena ialah ruang khusus yang berada dalam dunia sosial. Jika seseorang ingin berhasil dalam suatu arena, maka ia perlu untuk memiliki habitus dan kapital yang tepat.

D.  Distingsi
Bourdieu menjelaskan secara singkat suatu tindakan seseorang yang membedakan dirinya untuk menunjukkan kelasnya dalam masyarakat. Misalnya saja gaya hidup yang dilakukan oleh golongan ekonomi kelas atas untuk membedakan dengan golongan kelas ekonomi yang lebih rendah. Lebih spesisfik lagi. Bordieu menegaskan konsep distingsi ini ke arah variasi “selera” estesis, diposisi yang diperoleh untuk membedakan beragam obyek cultural kenikmatan estesis dan memberi apresiasi secara berbeda.

Selera juga merupakan praktik yang diantaranya berfungsi memberi individu maupun orang lain pemehaman akan tempatnya di dalam tatanan sosial. Selera menyatukan mereka yang memiliki preferensi serupa dan membedakannya dari mereka yang mempunyai preferensi berbeda, sehingga melalui proses tersebut dapat mengklasifikasikan dirinya sendiri.

Kita mampu mengkategorikan orang menurut selera yang mereka perlihatkan, misalnya preferensi mereka pada jenis musik atau film berbeda.Praktik-praktik ini terkait dalam konteks hubungan timbal balik, yaitu dalam totalitas. Jadi selera-selera seni ataupun film terkait dengan preferensi makanan, olahraga, gaya rambut, dan lain-lain. Bourdieu menggabungkan antara habitus dan selera, selera dibentuk oleh disposisi yang mengakar kuat dan bertahan lama daripada opini permukaan dan verbalisasi.

Bahkan preferensi seseorang atas aspek luar kebudayaan seperti pakaian, perabot, dan masakan dibangun oleh habitus.Disposisi inilah yang membentuk kesatuan tak sadar suatu kelas. Selanjutnya Bourdieu mengemukakan selera adalah pengatur pertandingan, yang di dalamnya habitus menegaskan kedekatannya dengan habitus lain. Secara dialektis, struktur kelas yang menciptakan habitus.

Bourdieu melihat kebudayaan sebagai semacam ekonomi atau pasar.Di dalam pasar ini, orang memanfaatkan modal kultural daripada modal ekonomi.Modal kultural ini merupakan akibat dari asal usul sosial seseorang dan pengalaman pendidikan mereka. Di pasar inilah orang yang memiliki modal dan menggunakannya sehingga mampu meningkatkan posisi mereka atau justru mengalami kerugian  yang pada gilirannya menyebabkan merosotnya posisi mereka dalam ekonomi.Bourdieu mengemukakan bahwa kekuatan yang mendorong perilaku manusia adalah pencarian distingsi, yaitu untuk hadir dalam ruang sosial, menduduki suatu posisi tertentu dalam ruang sosial. Seseorang yang dibekali dengan kategori persepsi, skema klasifikasi, dan selera tertentu sehingga memungkinkan menciptakan perbedaan.Sebagai contoh misalnya seseorang yang suka bermain gitar memiliki nilai distingsi dibandingkan yang suka bermain seruling yang dianggap kampungan (dilihat dari sudut pandang penggemar gitar).

Hal ini akibat dari dominannya sudut pandang dan kekerasan simbolis yang dipraktikkan untuk menentang mereka yang mengadopsi sudut pandang lain. Bourdieu juga membahas tentang bahasa, menurutnya bahasa bukanlah alat komunikasi yang bersifat netral tanpa kepentingan.

Menurut Bourdieu, bahasa adalah symbol kekuasaan. Dalam bahasa tersembunyi dominasi simbolik serta struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat.Tata bahasa yang digunakan oleh seseorang mencerminkan kelas sosialnya di masyarakat.

Orang yang berasal dari tingkat pendidikan tertentu memilih menggunakan bahasa yang lebih formal daripada mereka yang berasal dari tingkat pendidikan yang lebih rendah, begitu juga dalam masyarakat, mereka yang berada dalam kelas sosial tertentu menggunakan bahasa yang berbeda dengan mereka yang berada dalam kelas sosial yang lebih rendah.

E.  Homo Akademikus

Perhatian Bourdieu difokuskan pada hubungan antara posisi objektif arena akademisi yang berbeda, habitus yang terkait, dan pertarungan antar mereka. Bordieu ingin mengaitkan arena akademis dengan arena kekuasaan yang lebih luas.

Hubungan antara dua habitus, struktur perguruan tinggi mereproduksi dengan logika akademis khas struktur arena kekuasaan yang memberinya akses.

Dan secara dialektis, struktur arena akademis melalui seleksi dan indoktrinasi memberikan sumbangsih bagi reproduksi arena kekuasaan.Bordieu menganggap bahwa akademisi Perancis terbagi – bagi kedalam bidang hukum dan kedokteran yang dominan dan bidang – bidang sains pada batas tertentu dalam seni.

Pemisahan paralel dengan pemisahan dalam arena kekuasaan, yang di dalamnya mereka memiliki kompetensi sosial dominan berada pada posisi dominan dan mereka yang memiliki kompetisi saintifik secara sosial berada pada posisi subordinat.

Namun fakta yang ada, akademisi adalah hierarki sosial (yang mencerminkan arena kekuasaan sekaligus sistem stratifikasi sosial dan tempat bercokolnya kekuasaan ekonomi dan politik) dan hierarki kultural yang diatur oleh modal kultural yang berasal dari otoritas ilmiah atau pengakuan luas secara intelektual.

Di dalam kultural, hierarki disiplin yang akademis justru terbalik (sains ada di puncak, dengan hukum dan kedokteran yang berada di bawahnya).Jadi lebih umum lagi, oposisi antara arena ekonomi-politik dengan arena kultural diperebutkan di dalam sistem universitas di Perancis.

Pertarungan ini tidak hanya dilakukan antar fakultas, namun juga di dalam fakultas seni, yang terjebak diantara kehidupan sosial dengan kehidupan ilmiah.Jadi fakultas seni adalah sudut pandang yang istimewa untuk mengamati pertarungan antar kedua jenis kekuasaan universitas

.Beberapa anggota fakultas seni memiliki kekuasaan sosial (atau akademis) yang berasal dari peran mereka dalam universitas sebagai tempat diajarkannya pengetahuan yang legal.

Modal mereka diperoleh dalam universitas melalui kontrol atas pendidikan dan produksi generasi penerus akademisi

.Ada pula orang – orang fakultas seni yang memiliki kekuasaan spesifik yang berasal dari ketenaran intelektual mereka di dalam bidang tertentu.Kedua jenis akademisi ini bertarung untuk meraih kekuasaan di dalam fakultas seni di arena sistem universitas di Perancis.

Di dalam hierarki arena akademis, otoritas seorang profesor adalah untuk mengatur mahasiswa pascasarjana dan dosen junior untuk patuh agar mereka tidak terlalu independen.

Karena dalam arena ini, struktur tertinggi adalah profesor yang telah mempunyai pengakuan akademis dari lembaga pendidikan, sedangkan mahasiswa pascasarjana dan dosen junior berada di level yang lebih rendah.

Inilah yang dimaksudkan Bourdieu dengan “orang baru keranjingan ketika ia berada di tengah – tengah arena”. Jumlah dan prestis subordinat meningkatkan prestis profesor yang telah mapan. Prestisi seorang profesor akan meningkat seiring dengan jumlah pengikut yang meningkat, dan dengan demikian pengaruh dari profesor itu akan menjadi lebih besar di arena akademis. Seperti yang dikemukakan Bourdieu, yaitu “mengembangbiakkan modal”.

Dalam hal ini, gelar profesor adalah modal, dan dengan merekrut mahasiswa untuk membantu dalam penelitian ataupun kegiatan lainnya. Sang profesor akan lebih meningkatkan prestisnya. Dan peningkatan prestis dari profesor inilah yang dinamakan “mengembangbiakkan modal”.Ada kecenderungan mahasiswa yang ambisius tertarik pada profesor ambisius, akibatnya mereka lebih dekat secara sosial daripada secara intelektual. Profesor senior tidak siap dengan gangguan yang datang dan beberapa pendatang baru menolak untuk menunggu dengan sabar, jadi profesor junior dan senior terjadi benturan antara habitus yang ada dengan berubahnya sifat arena tersebut.Profesor senior terus bekerja tanpa orkestrasi sadar untuk mempertahankan kekonstanan sosial lembaga keprofesoran mereka

Selanjutnya, profesor senior akan khawatir dengan pendatang baru yang mampu masuk arena tanpa melalui proses hierarki, karena dalam kasus ini dosen junior yang menempati posisi akademis subordinat, mereka mendekatkan diri pada mahasiswa untuk menciptakan revolusi. Menurut Bourdieu, konflik tidak terjadi pada dosen senior dengan dosen junior, tetapi antara dua kelompok dosen junior.

1). Kelompok yang pertama adalah kelompok yang menginternalisasikan habitus generasi sebelumnya dan yang memiliki peluang mewarisi hierarki akademis.

2). merupakan kelompok yang menentang yakni kelompok dengan habitus berbeda, yang tumbuh dari fakta bahwa mereka hanya memiliki prospek yang sempit, itupun kalau ada.Mereka yang melihat adanya hambatan bagi peluang mobilitas vertikal cenderung menjadi orang – orang yang melakukan protes.

Diberdayakan :

Dr.Sudirman, S. Pd., M. Si.

Referensi Sunting
Jenkins, Richard. 2004. Membaca Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Penerbit Kencana.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2009. Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Penerbit Kencana

(Visited 3,115 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

3 thoughts on “Pemikiran Pierre Bourdieu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.