Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sore ini, udara di bilangan Matraman, Jakarta Timur sangat cerah. Walaupun sesungguhnya di bulan ini biasanya curah hujan cukup tinggi. Sebagaimana lagu yang dibawakan oleh Guns N’ Roses bertajuk “November Rain” yang dirilis ke publik di tahun 1991.

Seketika itu saya mendapatkan kabar gembira bahwa dua orang sahabat di Bengkel Narasi, yaitu Andi Chairul Ichsan Parani (ACIP) dan Kuspriyanto berduet dan berkolaborasi menggarap buku yang berjudul “Senam Jiwa”. Judul bukunya singkat tetapi lugas sehingga memantik rasa penasaran saya untuk mengetahui lebih jauh isi buku ini.

Menurut saya, isi buku ini sangat luar biasa. Setiap orang perlu membaca buku ini, terutama bagi orang-orang yang sangat peduli dengan kesehatan. Bukan hanya kesehatan fisik/raga, juga kesehatan jiwa/mental.

Buku ini menjadi sangat penting sebagai rujukan bagi kita semua di masa pandemi COVID-19 yang masih menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia. Karena itu, tidak berlebihan jika kesehatan, baik fisik/raga maupun jiwa/mental sangat penting dan dibutuhkan oleh semua orang. Bukan uang, bukan saham blue chip, juga bukan aset berharga lainnya. Segunung uang yang ditimbun tidak akan berarti apa-apa ketika fisik/raga dan/atau jiwa/mentalnya sakit, rapuh, dan tidak berdaya.

ACIP dan Kuspriyanto adalah dua orang sahabat di Bengkel Narasi yang hebat. Mereka mampu menunjukkan kolaborasi menulis yang apik melalui buku “Senam Jiwa”. Blessing in disguise dari pandemi COVID-19 berhasil mereka maknai sebagai sebuah hidayah dari Allah Swt untuk mengambil hikmah (ibrah). Mereka terus berkarya di bawah naungan Bengkel Narasi sebagai rumah jiwa di angkasa bagi para pemelajar literasi membaca dan menulis.

Stula sarira atau badan wadag atau apa pun namanya, dua penulis ini memang belum pernah bertemu secara langsung (tatap muka). Namun, jiwa dan semangat mereka telah “berselingkuh” menghasilkan karya fenomenal yang tentunya sangat bermanfaat dan menginspirasi para pembaca.

Begitu pula saya, belum pernah bertemu dengan ACIP. Kenal pun sebatas saling sapa di grup WhatsApp Bengkel Narasi. Namun, sedikit banyak saya tahu beberapa hal tentang ACIP. Sebagai PNS, kinerjanya tidak diragukan lagi. Hebatnya, ACIP sangat produktif dalam keseharian. Pernah saya lihat bagaimana indahnya foto tanaman-tanaman yang ada di pekarangan rumahnya. Saya dengar ACIP pun punya kebun kakao dan tergabung dalam sebuah kelompok tani. Jika tidak ada pekerjaan overtime atau dinas ke luar kota, maka setiap Senin hingga Jumat sore ACIP pasti berada di sanggar senamnya. Jadi, tidak ada waktunya yang terbuang.

Terbitnya buku “Senam Jiwa” ini menjadi contoh nyata bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menuliskan pemikirannya menjadi sebuah karya yang layak dibagikan kepada sesama. Kekuatan mental, keberanian, kemauan, dan komitmen kuat untuk menulis menjadi kunci kolektif pembuka gembok-gembok writing block. Di Bengkel Narasi, satu-persatu kunci tersebut kami unlocked.

Akhirnya, saya ucapkan selamat dan sukses untuk sahabat ACIP dan Kuspriyanto atas terbitnya buku ini. Saya yakin buku ini akan memacu sahabat Bengkel Narasi lainnya untuk menghasilkan produk literasi. Jika ragu untuk menulis sendiri, maka berkolaborasilah!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 20 November 2021
Sumardi

(Visited 83 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Senam Jiwa: Sambutan Sumardi, Praktisi Manajemen SDM Aparatur”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.