Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Pramoedya Ananta Toer

Sebagai mahluk hidup manusia, memiliki pengetahuan (Knowledge), kebijaksanaan (Wisdom), dan wawasan (Insight) adalah kualitas yang sangat indah untuk menjalani kehidupan yang hebat. Alangkah bahagianya seandainya kita dapat memperoleh ketiganya melalui pembelajaran jangka pendek seperti di sekolah. Sayangnya tidak semudah itu – intensitas panca indera kita tidak maksimal kita pergunakan, padahal sumber pengetahuan terbaik kita adalah tangkapan indera yang kita miliki. menggunakan seluruh komponen tersebut untuk mengaplikasikan pengetahuan dan wawasan yang telah anda miliki sebelumnya. Tangan memengang pena, untuk menulis, hasil respon pikiran dari otak, otak menerima respon dari apa yang pernah kita lihat dengan indera mata,  dengar dari fungsi telinga kita, mencium fenomena alam dari indera hidung kita, rasa dari indera lidah kita. Sentuhan dari kulit ari kita. Siklus ini harus nyambung terkoneksi apa bila kita ingin bernarasi sehingga melahirkan hasil cipta, karya dan karsa yang akan menjadi mahakarya yang akan merubah peradaban. Pembahasan tentang Narasi harus bermula dari konsepnya yakni narasi, Salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Narasi yang kuat berkarakter sungguh sangat tajam, senjata mematikan  lawan bicara. (Najwa shihab). Secara etimologis dari berbagai sumber mrnyebut Narasi berasal dari kata kerja latin “narrare” yang berarti mengatakan. Kata ini berasal dari kata sifat gnarus yang berarti mengetahui atau terampil.
atau Narasi adalah sebuah teks yang berisi runtutan peristiwa berdasarkan urutan waktu. Narasi dapat berupa rangkaian peristiwa dalam urutan kronologis atau kisah dengan kilas balik atau beberapa garis waktu.

Narasi ditemukan dalam semua bentuk kreativitas manusia, seni, dan hiburan. Ini termasuk pidato, sastra, teater, musik dan lagu, komik, jurnalisme, film, televisi dan video, video game, radio, rekreasi dan pertunjukan, beberapa lukisan, seni pahat, menggambar, fotografi, dan seni visual lainnya. Begitu urgensinya bernarasi maka perlu dikaji dan dipelajari secara detail, mungkin banyak hal ilmu pengetahuan kita miliki tapi tidak bisa kita optimalkan dalam bentuk narasi yang sempurna yang faktor berpengaruhnya adalah kurang maksimalnya siklus proses pancaindera kita tadi. Ibarat kendaraan salah satu onderdilnya kurang bagus maka kendaraan kita bisa mogok atau tidak fungsional karena businya misalnya kotor atau ada perangkat yang sudah aus, maka solusinya adalah perbaiki di tempat service atau bengkel dalam definisinya wikipedia adalah
Bengkel atau lokakarya adalah sebuah bangunan yang menyediakan ruang dan peralatan untuk melakukan konstruksi atau manufaktur, dan/atau memperbaiki benda.
Bengkel Narasi tentu bermaksud secara filosofis bukan makna lahiriah tetapi kurang lebih sebagai wadah bagi komunitas yang punya persamaan visi dalam hal hal narasi bertujuan untuk melahirkan hasil cipta, karya dan karsa yang fenomenal bagi pecinta literasi (berusaha untuk seide dan sepaham owner bengkel literasi) bagi penulis seperti saya ini adalah panggung untuk berekspresi, yang di dalamnya manusia manusia potensial yang membentuk habitus penulis, dengan social capital dengan arena aktualusasi diri ( pinjam teorinya Pierre Bourdieu). Pierre Bourdieu menciptakan istilah Habitus  sehubungan dengan istilah gaya hidup dan struktur sebagai istilah kunci dalam teori budayanya. Pierre Bourdieu menyatakan selera bukan dibentuk pada bakat alam, tetapi selera dibentuk atau diorganisir oleh sesuai dengan pendapatan dalam masyarakat; semua praktik tindakan adalah representasi pada kelompok social dalam posisi mereka di masyarakat dan keinginan mereka dalam menempatkan diri pada kekuasaan; Dengan kata lain BENGKEL NARASI, secara struktur dibentuk dengan maksud positif untuk mengedukasi dan memberi arena bagi membernya untuk berbuat dan beraksi bukan lagi bentuk konsep tapi lebih pada action.
Menulis adalah menghasilkan suatu teks. Dan untuk menghasilkan teks yang baik haruslah mengetahui beberapa aturan-aturan penulisan seperti, pemilihan diksi yang tepat di mana kata benda, tempat, kata kerja, keterangan. Dalam menulis lebih memahami sintaksis (S P O K). Serta mengerti tentang ejaan yang benar. Dengan itu semua diharapkan dapat menghasilkan tulisan yang lebih baik.dan itu ada self servisnya di BENGKEL NARASI. Saya secara pribadi merasa bahwa  kegiatan menulis ini haruslah dilakukan dengan dorongan hati nurani. Menulis haruslah dengan jiwa kejujuran untuk meluapkan segala isi hati dan kepala. Dengan mengetahui manfaat menulis sebagai ajang berbagi kebermanfaatan hidup bagi banyak orang, maka hal itu pastinya akan mengalahkan keinginan kita untuk menjadi penulis hebat.

Marilah jangan berhenti menulis, karena dalam menulis ada sebuah pesan inspiratif, betapa menulis adalah suatu aktivitas mulia yang sangat menyenangkan. Maka menulis bagi orang-orang yang terpelajar adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan. Tidak ada hari tanpa menulis.one day one note. Mari self service di Bengkel Narasi

The sooner the better (kata JK).

6 Mei 2021

23 Ramadhan 1442H

Penulis:

Dr. Sudirman, S. Pd. M. Si.

(Teroris Literasi)

(Visited 45 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

One thought on “SELF SERVICE DI BENGKEL NARASI”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.