Cerita Pendek ” Terima Kasih Telah Menerima Masa Lalu ku “, terdapat pada buku Antologi Cerpen ” Kisah Di antara Kita “. Buku antologi ini adalah merupakan sebuah bukti dari kegiatan Pelatihan Kelas Mentoring Cerpen yang diadakan oleh Grup Guru Dahsyat Nusantara, dipimpin oleh Bapak Riswanto, serta dimentoring oleh Ibu Erza Surya Werita. Setelah melalui seleksi penulisan yang sangat ketat dalam berbagai aspek penulisan, akhirnya cerpen ini berhasil lolos seleksi bersama cerpen karya 20 penulis lainnya. Bangga rasanya hasil karya kita bisa lolos dengan menyisihkan karya- karya penulis kenamaan lainnya.

Terima Kasih Telah Menerima Masa Lalu ku

Diah adalah seorang wanita yang biasa saja. Tidak terlihat sesuatu yang menonjol dari sosoknya. Ia berpostur sedang, imut, kulit kuning langsat, rambut lurus, pipi tembem, mata sipit, suaranya pun cempreng. Tidak cantik sama sekali, kalau hanya memandangnya sekilas saja. Tapi, ups, tunggu dulu,jangan lihat orang dari luarnya saja. Si Diah ini orangnya tulus banget, sabar, senyumnya bisa merobek mata. Diah juga orangnya suka bantuin teman yang lagi kesusahan. Ia tidak segan-segan meluangkan waktu dan tenaganya demi seorang sahabat.

Banyak rekan kerja yang mengaguminya. Parasnya memang tidak cantik. Apalagi ia sering tampil dengan polesan bedak tipis saja. Ia pun tidak menggunakan kosmetik racikan untuk mempercantik dirinya. Beda dengan rekan kerja lainnya. Ia tampil apa adanya. Bahkan ia merasa risih kalau harus tampil dengan gaya yang berbeda dengan kesehariannya. Selain rasa solidaritasnya yang sangat tinggi, Diah juga orangnya cerdas. Banyak ide-ide brillian lahir dari pemikirannya. Kalau ada masalahg dalam pekerjaan, kadang ia dimintai solusinya.

Beda lagi ceritanya dalam soal asmara. Diah tidak pernah merasa beruntung ketika menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Ia pernah bercerita pada saya tentang kita cintanya mulai dari bangku SMA sampai saat ini. Dulu, di bangku SMA, ia termasuk gadis yang gampang sekali tertarik pada lawan jenisnya. Tapi ia cuma sebatas mengaguminya saja. Tidak pernah pacaran. Maklum, Diah adalah gadis yang pemalu. Untuk pacaran dan terbuka menyatakan perasaan kagumnya pada seorang cowok itu tidak akan terjadi. Tapi perasaan kagumnya pada seorang cowok yang bernama Tommy ia simpan di dalam hatinya saja. Tidak ada yang tahu rasa itu. Diah juga bercerita kalau pernah tertarik dan jatuh cinta pada seorang cowok yang mirip banget dengan penyanyi idolanya. Cowok itu pintar mainin gitar sambil nyanyiin lagunya Slank dan Amy yang penyanyi Malaysia itu. So sweet dan menyentuh banget dan ia ikut larut dalam alunan merdu itu. Diah bercerita sambil senyam senyum.

Kalau dengan cowok ini , ceritanya lain lagi. Cowok ini terang-terangan mengumbar perasaannya ke Diah. Meski pun Diah menerimanya, tapi ia masih malu-malu kucing untuk mengakuinya. Cowok itu semakin penasaran dan terus mengejarnya. Tapi mereka tidak pacaran juga, soalnya mereka harus terpisah. Diah harus kuliah di tempat lain.

Di tempat itulah juga , Diah merasakan sakit yang teramat dalam. Ia terluka, terpuruk dan terjatuh karena hubungan asmara yang terjalin begitu dalam dengan seorang pria harus kandas karena terhalang restu dari keluarga besarnya. Kuliahnya amburadul. Keluarganya marah. Diah pun dikembalikan ke kampung halamannya untuk kuliah di sana. Diah harus berpisah dengan laki-laki itu.

Diah menjalani masa-masa yang penuh kehampaan. Kosong, tak berarti, tak ada gairah. Tak berselang lamanya, ia mendengar berita kalau laki-laki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hatinya dan sudah mengorbankan segalanya ternyata sudah menikah. Hati dan perasaannya hancur. Ia berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi.

Waktu kadang masih menyisakan sebuah cerita. Pada detik-detik terakhirnya di kampus, Diah akhirnya menemukan sosok laki-laki yang begitu ia kagumi. Dan rasa itu berbalas. Mereka pun pacaran. Dua tahun menjalani masa-masa indah itu. Belajar bersama, makan di warteg yang murah meriah, nonton bareng, pulangnya naik pete-pete tua. Pokoknya Diah merasa hidup kembali, lukanya sudah kering dan berharap laki-laki itulah yang terakhir dan menjadi pasangan hidupnya kelak.

Tapi mimpi tinggallah mimpi. Jalinan asmara yang dirajut dengan penuh ketulusan harus kandas lagi. Laki-laki yang selalu membuatnya tertawa, kadang menangis karena rindu kalau lagi berjauhan ternyata mengkhianatinya. Tidak sengaja Diah bertemu dengannya di bagian akademik kampus. Dengan tanpa rasa berdosa dan bersalah ia menyalami Diah dan memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya yang baru. Diah memang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa kalah dengan gadis itu. Parasnya putih, halus dan masih muda sekali. Hatinya seketika seperti serpihan-serpihan kaca yang tidak bisa utuh kembali. Di kos, ia tumpahkan semuanya. Tidak ada cinta yang tulus dari seorang laki-laki. Semuanya adalah pengkhianat rasa. Dulu ia pernah merasa hancur, remuk dan sekarang tidak ada lagi yang tersisa. Rasa itu hilang menyisakan sakit yang teramat dalam. Kisah lama terulang kembali. Diah tidak pernah menyangka kalau laki-laki itu tega mengkhianati ketulusannya.

Tak terasa mereka sudah tinggalkan kampus masing-masing. semuanya hanya tinggal kenangan. Untuk kedua kalinya dalam hidup ini, ia mendengar kalau laki-laki yang pernah dekat dengan raganya juga sudah menikah dengan gadis yang digandengnya dulu. Tak terasa butiran halus di pipinya jatuh. Mungkin ia sudah tidak bisa lagi berdamai dengan rasa itu. Capek dan tak berdaya lagi. Durasinya sudah usai. Wahai hati, terkadang engkau pun tak berdaya menampung semua beban rasa itu.

Diah menjalani hari-hari dengan kesibukannya yang padat. Kini ia sudah menjadi seorang guru. Saat-saat pertama menjalani profesinya, ia kembali banyak dikagumi dan dikejar-kejar oleh guru-guru yang masih bujangan. Tapi rasa itu sudah hilang. Ia sudah menyerahkan semuanya pada Yang Di Atas. Tidak ada lagi cerita yang akan terulang.

Akhirnya, Diah mengakhiri ceritanya dulu dengan penuh rasa bahagia yang terpancar dari raut yang berseri-seri. Diah ternyata sudah dipertemukan dengan seorang sosok yang sabar, tulus dan mau menerima semua masa lalunya yang begitu suram dan menyakitkan. Ia mengucapkan terima kasih yang mendalam pada sang suami yang sudah berlapang dada menerima segala kekurangan dan menerimanya apa adanya.

Ternyata, bahagia itu lahir dari sebuah ketulusan. Ternyata bahagia itu terkadang datang dari orang yang tidak pernah ada dalam cerita hidup kita dan kini sudah menjadi bagian dari lakon hidup itu.

Diah, bahagiamu adalah bahagiaku juga.

Watansoppeng, 15 Mei 2021

(Visited 184 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.