Pesawatku terbang ke bulan. Ingat pesawat, ingat masa-masa pertama kali terbang ke langit biru nan tinggi. Waktu itu aku ditunjuk sebagai salah satu utusan yang mewakili sekolah untuk mapel Bahasa Inggris pada ” Bimbingan Teknis Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional “, di Sun Hotel, Surabaya selama 4 hari. Senang campur takut menjadi satu rasa. Bagaimana tidak, aku baru pertama kali akan naik pesawat terbang. Membayangkannya saja aku sudah sesak. Takut di ketinggian. Sebenarnya aku menolak waktu ditunjuk sebagai wakil sekolah. Tapi tidak bisa lagi merubah surat tugas yang langsung dari pusat.
Aku pun mempersiapkan semua kelengkapan yang akan dibawa,mulai dari pakaian, buku-buku, serta alat-alat kosmetik. Tidak lupa bawa cemilan-cemilan untuk di jalan nanti. Bersama ketiga teman dari mapel yang berbeda, akhirnya kami berangkat ke Makassar. Di perjalanan, aku selalu bicara bagaimana nanti di pesawat. Teman-teman cuma tertawa saja mendengar semua celotehanku. Soalnya mereka sudah terbiasa naik pesawat. Mereka sudah tinggi jam terbangnya.
Tiba di Bandara, aku berusaha untuk menenangkan hati yang sudah mulai terasa dag dig dug. Mata mulai jelalatan menilik setiap sudut di Bandara megah itu. Ratusan penumpang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak nampak kekhawatiran di raut wajah mereka. Beda dengan aku yang sudah mulai pucat. Keringat dingin. Tapi aku berusaha tenang,dan bersikap biasa-biasa saja. Malu kalau ketahuan. Dan untungnya, lipstik yang aku pakai saat itu merah membara, jadi tidak nampak bibirku yang sudah pucat dari tadi.
Tiket sudah lengkap. Siap-siap menunggu jadwal keberangkatan. Panggilan untuk naik ke pesawat sudah terdengar. Aku duduk tepat di tengah-tengah dekat seorang anak kecil dengan bapaknya. Wajahnya riang,suaranya keras bicara dengan bapaknya. Aku cuma diam. Dadaku mulai sesak. Takut. Apalagi tempat dudukku terpisah dengan ketiga temanku. Aku mulai membaca Ayat Kursi dan surah-surah pendek lainnya. Berusaha menenangkan diri.
Setelah beberapa menit mengudara, pesawat tiba- tiba oleng, terdengar suara keras sekali seperti menabrak sesuatu. Aku semakin takut. Banyak penumpang yang berteriak Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar berulangkali. Seorang bayi juga menangis keras sekali. Dan kata orang, kalau bayi menangis, itu pertanda akan terjadi sesuatu. Aku menoleh ke anak kecil yang masih santai-santai cerita tanpa rasa takut. Aku berusaha juga tenang, mulai berserah diri padaNya.
Pramugari menyuruh kami tenang. Perlahan, pesawat sudah mulai normal kembali. Setelah beberapa lama, kami tiba di tempat tujuan dengan selamat. Dan dari cerita beberapa penumpang yang ada di pesawat tadi, ternyata waktu terjadi benturan itu adalah saat kami tepat berada di atas perairan Masalembo yang memang katanya keramat. Aku jadi merinding mendengarnya.
Pembukaan Pelatihan pun dimulai. Aku masih trauma jika mengingat kejadian di pesawat tadi siang. Aku selalu membayangkan bagaimana kalau pulang nanti terjadi hal yang seperti itu lagi. Di kamar aku diskusi dengan teman- teman. Aku pun bercanda bagaimana kalau pulang nanti kita pakai kapal laut saja. Ada yang setuju karena tahu kalau aku tambah takut setelah kejadian kemarin.
Aku mulai berusaha menikmati semua hal di tempat pelatihan ini. Makanannya pun sudah terasa nikmat. Kami pergi keliling kota Surabaya. Mall, Pasar tradisional, tempat-tempat kuliner. Sekalian membeli ole- ole untuk kami bawa pulang nanti.
Akhirnya, Bimteknya selesai. Dag-dig-dug lagi karena mau naik pesawat. Kami sudah memborong tiket kemarin. Tapi, aku berusaha untuk tenang. Sudah lebih rileks juga dari kemarin.
Akhir cerita, kami tiba dengan selamat dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah menanti. Selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Berserah kepadaNya dan menjalani segala ketentuanNya itulah yang terbaik…
Watansoppeng, 3 Juni 2021
