Cerita Anak Desa

Sebuah desa wilayah pegunungan, 2014 silam dengan akses jalan yang sangat memprihatinkan. Melewati jalan itu ibarat kata satu kali langkah sepuluh kali goyang.

Jalan berlubang dan berdebu di kala cuaca panas. Tetapi, ketika musim hujan tiba, sandal cantik sepatu indah harus dilepas untuk menempuh jalan desa ini. Tanah lumpurlah yang menjadi hiasan kaki dengan gaya celana gulung hingga lutut. Jangan heran jika kami yang tinggal di desa ini berjalan di jalanan rata dan bagus pun langkah kaki kami akan berbeda dengan orang lain.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “Ala bisa karena terbiasa”. Terlepas dari hal jalanan, saat itu pun di desa belum ada akses jaringan Listrik. Jika petang sudah mulai datang, azan Magrib berkumandang, hewan-hewan peliharaan kembali ke peraduan, terasa hening dan sunyi. Melihat sekeliling, semua sudah terlihat remang-remang. Memandang ke atas, langit pun kelam.

Hari berlalu, bulan pun berganti. Pikiranku tertuju pada keinginan untuk membuka lapangan kerja agar diriku tidak terkurung dengan keadaan. Mencoba membuka mata, membuka hati, berpikir dan berpikir.

Aku ingin menciptakan sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat untuk semua. Seketika jiwaku terpatri pada satu niat; ingin membuka PAUD.

Awalnya aku mengira ini adalah hal yang tidak sulit. Melihat kondisi desa yang belum memiliki PAUD yang aktif, sedangkan jumlah penduduk desa dengan kisaran 800 KK. Sangat disayangkan, berapa banyak anak desa yang masa emasnya terabaikan dan masa pendidikan karakternya terbuang.

Dengan sedikit pengalaman di dunia PAUD sebagai pengelola PAUD jenjang usia 2-4 tahun di tempat yang sadar pendidikan, tentunya tidak akan sama dengan tempat yang awam dengan pendidikan, terkhusus usia dini. Berbagai persepsi dan keterbatasan informasi di kalangan masyarakat belum sempat terpikir olehku saat itu.

Waktu berlalu. Aku pun membuka mulut dan menyampaikan buah pikiranku ini ke pemerintah setempat dan alhamdulillah mendapatkan dukungan penuh. Singkat cerita, berdirinya lembaga ini semata-mata bermodalkan nekat.

Aku tidak memiliki dana awal. Tetapi, sebagai orang yang baru beberapa bulan menetap di desa ini, tentunya ini adalah sebuah tantangan. Aku tidak habis akal untuk mencari solusi bagaimana caranya menjalankan tujuan ini.

Di sebuah dusun yang jauh di puncak desa, dengan melewati jalan tani dengan lereng gunung di kiri dan jurang terjal di kanan, aku mengunjungi sebuah mesjid tepat sesudah salat Jumat. Dengan izin Kepala Dusun, aku membuka Forum Musyawarah Perencanaan Pendirian PAUD.

Musyawarah berlangsung semarak dengan modal Teh Gelas dan Biskuit Gabin. Tetapi, ada masalah muncul. Ternyata tidak semua masyarakat bisa berbahasa Indonesia. Untungnya ada seorang tokoh dusun yang menguasai beberapa bahasa daerah dari sejumlah suku yang ada. Dengan demikian, komunikasi bisa berjalan dengan baik. Alhamdulillah, rencanaku mendapat respon positif. Lokasi PAUD ditetapkan di bawah kolom rumah warga. Hasil musyawarah tersebut sangat aku syukuri.

Sepulang ke rumah kediaman keluarga, aku kembali berpikir dengan cara apa bisa membuat ruangan untuk pembelajaran? Sementara aku pun tidak memiliki modal dana. Tidak habis pikir, aku pun mendapat solusi.

Di rumah saudara tempat saya tinggal terdapat beberapa bekas tikar lantai rumah yang masih lumayan bagus dan tidak terpakai lagi. Aku pun membeli terpal meteran yang termurah. Bahan-bahan tersebut aku bawa ke lokasi kolom rumah warga yang disiapkan.

Dengan semangat gotong-royong warga dusun, akhirnya ruangan siap dan pembelajaran pun bisa berlangsung. Tenaga gurunya adalah warga dusun yang mengabdi secara sukarela. Kami belum mengarahkan untuk iuran sekolah. Kami lebih mengutamakan membangun minat dan kemauan para orang tua untuk memasukkan anak-anaknya ke PAUD.

Perjuangan belum berhenti di sini. Di sisi lain, ada sejumlah aspek yang harus dipenuhi agar lembaga pendidikan ini bisa diakui. Langkah kaki tidak berdiam. Pikiranku terus berjalan. Tiba di posisi yang kandas pun sudah dilalui. Akhirnya, semua berhasil dengan indah.

Anak-anak sudah senang bermain dan belajar di PAUD. Orang tua pun bisa bergabung satu sama lain, penuh semangat, beraktivitas dalam rutinitas yang setiap saat kami rancang bersama.

(Visited 626 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.