Paradigma pendidikan di abad 21 harus menghadirkan pendidikan yang humanis.
Bagaimana pola pendidikan yang humanis tersebut?
Kami banyak menghabiskan waktu berdiskusi dengan Madam Mazra Yasir Ashar Shabry, Father, Bang Jiwi dan Kak Hasriani..

Izinkan saya sedikit menuliskan beberapa penggalan kata yang kucatatkan dari Madam, tolong diluruskan ketika ada kekeliruan yang tak bersesuaian. Faktor terlalu semangat menyimak dan lupa mencatat bait demi bait. 😁🙏

Paradigma pendidikan di abad 21 harus menghadirkan pendidikan yang humanis. Wajah perengkingan akan ditinggalkan. Guru hadir sebagai fasilitator belajar, menjadikan sekolah menjadi ruang yang nyaman untuk anak dan seperti ruang untuk mereka sendiri tanpa ada diskriminasi dengan harapan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mementingkan kepedulian, rasa empati, dan kolaborasi, bukan kompetisi.

Menghadirkan kesadaran bahwa anak ditempatkan sebagai subyek dan menempatkan kebutuhan anak adalah yang terpenting. Sehingga anak didik harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan ide, berkreatifitas, berinteraksi dengan lingkungan demi memperoleh pengalaman-pengalaman belajar yang baru. Anak didik bukanlah bejana kosong yang bisa diisi dengan bermacam jenis air, tetapi pada anak didik terdapat energi potensial yang harus dirubah menjadi energi kenetik. Untuk merubah, membangkitkan potensi atau kapasitas yang ada pada siswa adalah tugas guru. Dimana tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan, alat-alat dan ide-ide untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan.

Kalo ditanya apakah itu berat untuk dilakukan?
Iya memang berat, tetapi semua ada solusinya dan itu telah diuji dengan metode yang telah dipraktekkan di beberapa Negara. Kembali ke persoalan Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap.

Seorang anak harus punya hak untuk menyampaikan pendapat, bebas berfikir kritis, dan merasa di bahagiakan. Paulo Freire mengatakan belajar merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan praktik langsung. Untuk itu, setiap kita harus menjadikan proses belajar menjadi suatu aktifitas yang dilakukan seseorang, yang menyebabkan adanya perubahan tingkah laku di bidang pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap. Salah satu indikatornya dapat dilihat dengan lahirnya self responsibility (tanpa dinilaipun anak akan hadir, dan tanggung jawab itu lahir dari dirinya sendiri). Tentang metode untuk mencapai indikator tersebut harus belajar sama ahlinya yah,. Hehehe saya hanya dapat secuil yang bisa saya tuliskan seperti yang saudara (i) baca saat ini.

Pola pendidikan yang humanis adalah anak belajar bukan untuk mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide. Kenyataannya sekarang kita lihat di sekolah belajar itu seperti tidak punya makna sama sekali, daya serap anak didik jauh seperti yang diharapkan, ada guru yang hanya sekedar memberi hafalan kepada peserta didik. Peserta didik mencatat apa yang ada di papan tulis baris demi baris, yang kadang kala apa yang dihafal dan ditulis itu tidak tahu apa artinya sama sekali, ini disebabkan tujuan siswa belajar untuk memperoleh nilai bukan untuk menambah ilmu pengetahuan, begitu ujian selesai hafalanpun terbang tidak berbekas dan berkesan. Diperparah dengan kondisi virus covid yang terus berevolusi, hadir dengan varian baru, mengharuskan kita tidak tatap muka dengan siswa.
Proses pembelajaran yang demikian harus dihindari dan mari kita adakan reformasi dibidang tersebut.

Tujuan akhirnya, sejak dini anak harus diberikan stimulus positif dengan kemampuan kinestetik anak, karena pendidikan yang humanis lebih menekankan bagaimana cara menjalin komunikasi secara personal dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Karakter dalam pendidikan humanis dengan asumsi positif yaitu bagaimana peserta didik mempunyai akal dan sama dalam pengetahuan, untuk mengaktualisasi dirinya peserta didik diberi kebebasan, dan pada akhirnya anak setelah dewasa telah bersiap secara matang kembali ke masyarakat untuk memikirkan kepentingan orang banyak.
Tentang metode dan polanya bisa ditanya langsung ke Madam. Sekali lagi, yang kutuliskan ini hanya secuil dari banyak hal yang disampaikan malam itu.

Esok pagi sebelum balik ke Kolut, kami diajak berkeliling sekolah yang sementara dalam tahap pembangunan gedung dan SDMnya..
Terimakasih pemilik kebaikan..

#KerjaSambilBelajar
#NambahImanIlmuImun

(Visited 98 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Sekolah yang Keren”
  1. Merdeka Belajar.. Pembelajaran terpusat pada peserta didik. Profil pelajar Pancasila. ..

    1. Saya harus banyak belajar soal metode pembelajaran yg efektif ditengan pandemic saat ini Kak. Mohon bimbingannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.