Tak bisa dipungkiri, sehat merupakan idaman bagi setiap manusia, sehat lahir dan batin tentunya. Namun bila sakit mendera, tentu sangat merasakan ketersiksaan. Sakit bagai bencana, tak mampu melakukan aktifitas apapun, hampir lumpuh pergerakan  bila menderita sakit yang terkadang  datang dengan tiba-tiba tanpa ada aba-aba, tanpa sebab atau tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, begitulah kira-kira. Begitu pula dengan diriku, tiba-tiba sakit , sehingga merasakan sakit di sekujur tubuhku tanpa ada sedikitpun bagian tubuh yang tersisa yang tidak sakit, seluruhnya. Saya hanya bergumam lirih, Saya sakit apa ya, ya Allah. Nyaris tidak bisa bergerak ditambah seperti ada beban yang menambah berat badanku.

Sakit itu mendera sejak Hari selasa, tanggal 29 Juni 2021 sekitar jam sebelas lewat, sepulang dari warung makan tempatku memesan  nasi kotak untuk acara Sosper  esok hari. Sekitar saju jam karena sempat juga mampir bersilaturrahmi dirumah kelurga yang kebetulan tetanggaan dengan warung makan yang saya kunjungi tersebut.  sempat disuguhi rambutan, kue toples dan teh panas. Alhamdulillah, saya mencicipinya karena saya memang orang yang tidak pernah menolak bila  dsuguhii makanana apapun, semua  enak di lidah saya.  Sepulang dari pesan nasi kotak, rasa ngantuk berat menimpaku hingga tak mampu menunggu waktu shalat duhur saya tunaikan, langsung saja menuju tempat tidur dan akhirnya tertidur pulas.  Sekitar jam 13 siang itu, entah pas atau lewat,  saya tdk peduli, yang jelas sudah lewat awal waktu shalat yang afdal, saya langsung bangun. Ketika  kugerakkan badanku untuk bangkit, saat itu juga saya merasakan sakit yang tidak terhingga di sekujur tubuhku, sakit yang tidak pernah saya rasakan  sebelumnya. Sayapun sontak kaget dan membatin Ya Allah, ini ujian untukku. Ini pasti karena dosa yang kumiliki, semoga sakit ini menjadi penggugurnya.

Sakitku kali Ini pasti  teguran padaku, tentu banyak lalainya. Urusan duniaku masih  lebih kuutamakan dari urusan akhiratku di usia lebih dari setengah abad ini. Setiap kali kuupayakan untuk bergerak,setiap kali itu saya tak memiliki kekuatan. Seluruh persendianku susah kugerakkan, kaki tak mampu berdiri dan tanganpun  tak mampu menopang badanku, bahkan seluruh telapak kakiku sakit tak terkira. Kutenangkan hatiku sambil beristigfar tak pernah putus sebagai pengakuan kesalahanku yang teramat banyak tapi belum sempat menyadarinya. Kukumpulkan dan kukerahkan seluruh tenagaku, semampuku untuk bangun lalu merangkak ke kamar kecil  buat bersihkan badan dan  wudhu. Setelah wudhu, saya keluar  dengan keadaan masih  merangkak  mengambil mukena untuk shalat.        

Ketika shalat dhuhur kumulai di rakaat pertama, saya masih mampu bertahan  beridiri, tetapi ketika  rakaat ke dua, tulang-tulang kakiku tidak lagi mampu menopang badanku yang amat berat untuk berdiri, badanku tersa remuk redam.  Akhirnya saya hanya duduk sampai rakaat terakhir usai. Teringat kisah nabi Ayyub yang diberi sakit oleh Allah berpuluh tahun tentu deritanya jauh melebihi yang saya rasakan saat ini tapi beliau begitu sabar menjalaninya. Walaupun beliau nabi, paling tidak sebagai motivasi buat diriku sendiri, yang baru saja hitungan jam diberi sakit, tapi ya Allah hanya Engkau yang Maha Tahu sakit yang kuderita kali ini. dengan menenangkan sendiri hatiku, bukankah ketenangan separuh dari obat, kesabaranpun juga  menjadi obat bagi setiap si sakit. Bahkan telah terlintas dibenakku sembari  memohon ampun kepada-Nya, “ya Allah mungkinkah ini sakitku yang terakhir? berilah saya kelapangan hati menghadapinya, keikhlasan menerimanya, dan ketabahan menjalaninya agar saya bisa mengakhirinya dengan Husnul Khatimah.” Walau masih terbersit di hati saya, ah  ajalku belum tiba, malaikat maut belum saatnya datang menjemput rohku  dalam empat puluh hari ini, tapi mewanti-wanti diri lebih baik, toh tak ada jalan lain yang harus dilalui kecuali melewati pintu maut . “Kullu man ‘alai fani : semua akan binasa.” Dan banyak lagi ayat lain tentang kematian yang dikabarkan dalam al Quran bahwa “setiap yang benyawa pasti akan mengalami kematian.” Olehnya itu, kematian jangan ditakuti, tapi dipersiapkan dengan mengumpulkan pundi-pundi amal yang bernilai ibadah.

Dalam kesakitanku, di pagi hari rabu tanggal 30 Juli 2021, karena jadwal Sosper telah ditentukan, undangan telah beredar oleh desa yang kami pilih. Maka tidak ada pilihan,”saya harus bisa berjalan, harus bisa menyampaikan materi, yang terpenting pula harus bisa tersenyum, terlihat prima seperti tak terjadi apa-apa.” Alhamdulillah, sesuai jadwal yang telah disepakati, bersama staf Kantor DPR, yg juga sudah berada di rumah, kamipun berangkat menuju tempat acara. Lagi-lagi syukur dengan tak henti-hentinya segala kalimat talbiah  dan pujian, semuanya menyatu dalam zikir sebagai doa dan harapan, termasuk zikir Asmaul Husnah. Sampai acara selesai, Kades  beserta aparatnya, Camat beserta stafnya yang sempat hadir, Bainkabmas, dan enam sampai tujuh puluhan masyarakat yang diundang tidak tahu menahu kalau sebenarnaya saya dalam keadaaan sakit. Hingga seluruh rangkaian acara selesai dan semua yang berkaitan administrasipun diselesaikan tanpa ada yang kurang sesuatupun. Alhamdulillah, ya Allah, kasih sayang-Mu tak terhingga.  Sosper sudah usai, tapi masih ada tanggung jawab lain yang menunggu, sumbangan untuk Palestina yang disepakati harus ditransfer paling lambat hari rau rabu tagl 30 juni 2021 juga bersamaan hari terlaksananya acara Sosper, yang sedianya rencana sebelumnya, sepulang dari Sosper, setelah shalat, lanjut menagih ke bebeapa  MT desa, dan ke teman-teman pengurus BKMT  yang sampai  hari itu masih banyak yang belum terkumpul. Tapi apa boleh  buat, setiba di rumah, sakit tak bisa lagi saya kendalikan, hanya shalat dhuhur dngan duduk lalu langsung terbaring kembali.

Hingga sore hari, rasa sakitku belum menampakkkan perubahan yang berarti. Kucoba ramuan kampung, memblender daun papaya lalu menyaringnya, batang serei direbus dengan gula merah, dan banyak lagi ramuan dedaunan yang banyak  di halaman rumahku yang memang sengaja saya tanam. Kurma, propolis Imogen semua saya konsumsi, soalnya terlalu malas ke dokter sejak bencana Pandemi C19 melanda dunia. Hanya kebetulan ada adik ipar yang bekerja di Puskesmas yang memberiku obat dokter tanpa resep dokter. Makanan sumber Vitamin-vitamin yang ada di  kampung, kuupayakan mengonsumsi. Ada rasa kwatir, penyakit yang saya derita ini, mungkin akan lama mendera saya karena sakit yang begitu berat saya rasakan. Tapi sekali lagi, kelapangan, ketenangan, keikhlasan, dan  ketabahan, dan kepasrahan total pada kehendak Pemilik Kekuasaan, tidak lupa mengambil Al-Quran dengan penuh keyakinan bahwa Al-Quran mengandung Asy-syifa (obat) bila yakin.

Masih dalam kesakitan, Kamis tanggal 1 Juli 2021 setelah shalat dhuhur, saya kembali  ke tempat tidur karena sejak pulang dari Sosper, kebanyakan hanya di kamar. Tidur salah satu pilihan, mengistirahatkan raga dan jiwaku dari rutinitas duniaku yang mungkin penyebab sakitku yang Allah sengaja menegurku agar minimal menyeimbangkan rutinitas dunia dengan membuat perbekalan menuju kehidupan abadi setelah maut menjemput, mampir di alam barzah, menunggu hari berbangkit selanjutnya melanjutkan  perjalanan panjang  yang nantinya melewati titian Shiratal Mustaqiim  yang di bawahnya ada api yang menyala yang telah dipanaskan ribuan tahun yang bila dibandingkan waktu dunia, sehari di akhirat seribu tahun di dunia, tentu sangat mengerikan.  Dapatkah seluruh yang kita lakukan selama ini bernilai ibadah  di mata Allah sehingga menjadi catatan dalam  buku amal kita sebagai pemberat timbangan kebaikan ketika berhadapan pengadilan akhirat kelak? Tentu kalau hanya mengandalkan shalat fardu sangatlah jauh, zakat ? belum tentu sesuai,  silaturrahmi? Juga tidak dijamin, bisa jadi kita banyak melukai tanpa tahu. Sedekah? Juga bisa jadi pernah menyertakan dengan penyesalan dan umpatan. Puasa bulan ramadhan, tentu juga masih jauh, puasa syawal dan puasa senin kamis juga  belum tentu karena bisa jadi disertakan dengan riya’ dan lain lain amalan yang kita anggap sudah banyak, tetapi ketika  di depan hakim akhirat justru semua menjadi habis.

Kuupayakan hatiku tak ada jedah terpaut pada Allah, pasrah total.   Ya Allah, tanpa keterlibatan-Mu dengan Hidayah dan Anugrah-Mu hamba ini tak mungkin mendapat pertologan. Sangat paham, diri ini kalau dibandingkan bermilyar-milyar planet-Mu yang lain, nilai setitik debupun sangat kami syukuri karena planet bumi-Mu saja bagai sebutir beras di Padang Pasir bila bersanding dengan milyaran Planet-Mu yang lainnya.  Teramat banyak nikmat-Mu yang hamba sia-siakan selama ini, nikmat sehat dan nikmat sempat yang begitu banyak yang  selalu hamba abaikan. Saat ini, hamba terbaring lesuh, penuh kesakitan, semua tak ada artinya bila kesehatan tidak memadai. Di masa liburan kali ini, ingin kembali kutari-tarik penaku agar mampu merangkai kata bermakna tapi ternyata justru sakit yang kuderita semua kuterima.  Namun ketika saya  terbangun setelah waktu shalat ashar tiba, tiba-tiba sakit yang teramat sangat yang saya rasakan selama tiga hari, selasa siang, rabu, dan kamis sore seketika sedikit menghilang. Saya mencoba dengan perlahan menggerakkan tubuhku tidak lagi sekaku dan seberat sebelumnya, ya Allah betapa girangnya hatiku, syukur tak terbatas. Kumencoba bangkit dari pembaringan, langkah kakiku agak ringan, telapak kakiku juga tidak terasa sakit yang sangat.  Saya lansung berdiri dan berjalan menuju toilet membersihkan diri dan berwudhu, lalu mengambil mukenah. Ternyata sore itu saya sudah mampu shalat dengan berdiri lagi. Ya Allah, senangnya tak terkira. Alhamdulillah tugas sumbangan untuk Palestina kutunaikan walaupun dengan kaki yg sempoyongan tetap kulaksanakan dan dananya telah sy transfer ke rekening tujuan.

Di hari Jumat ini, dengan kesehatan yang mulai pulih kembali, segenap jiwa ragaku, rasa syukurku tak terbatas, tak terhingga, tanpa limit, syukur  yang tak mampu digambarkan meliputi luasnya semesta milik-Mu. Ya Allah, hamba berharap, tuntun hati hamba menjadi hamba yg istiqamah Karena tahu kalau jiwa kami dalam genggaman-Mu walau pilihan baik buruk tetap di tangan kami. Tapi anugrah-Mu, hidayah-Mu, dan Magfirah-Mu selalu kami dambakan. Kini penaku kembali menari-nari, merangkai kata yang bermakna semoga menjadi inspirasi buat diriku, keluargaku, keluarga BNku dan seluruh manusia yang mengharapkan dan menciptakan kebaiakan agar dengan tarian pena-pena kami menjadi penunutun di jalan menuju  pintu-pintu syurga-Mu kelak  ketika hari berbangkit telah tiba bersama hamba-hamba pilihan-Mu. Aamin.

(Visited 140 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.