Oleh : Ghinda Aprilia

Dari pengalaman pribadi hingga bekerja ke luar negeri sebagai TKW (tenaga kerja wanita) alasannya adalah karena ekonomi. Begitu juga ketika banyak teman-teman yang sharing dengan saya, alasannya rata-rata masalah ekonomi. Tetapi pada kenyataannya tidaklah mudah, banyak halangan atau rintangan, bahkan lupa kalau kita bekerja ke luar negeri khususnya Hongkong ini benar-benar tujuannya karena ekonomi. Di sini kita bisa bergaul dengan teman-teman sesama perantau di negri Beton. Mungkin karena tuntutan atau pengaruh dari luar yang awalnya kita rencanakan gaji dalam jangka waktu tertentu bisa untuk membeli rumah tetapi pada kenyataannya melesat.

Di saat banyak tuntutan, misal dari keluarga, atau ada hajat yang tidak bisa ditunda, di Hongkong ini bisa dengan mudah pinjam duit di Bank hanya modal paspor, ID dan tanda tangan saksi. Kebanyakan korban di sini adalah saksi, setelah peminjam dananya cair mereka menghilang, tinggal saksi yang harus bertanggung jawab membayar hutang-hutangnya hingga lunas.

Beberapa tahun lalu ada salah satu korban, sebut saja namanya Mawar (nama samaran). Saya ketemu dengannya saat dia ngoceh-ngoceh di dekat toko Indonesia yang ada di daerah Polam. Perlahan dengan bahasa hati saya mencoba menyapa dan sedikit menenangkannya. Dia bilang kesal dengan temannya yang meminjam uang di Bank tetapi tidak mau membayar kewajibannya bahkan menghilang. Sehingga dia sebagai saksi harus bertanggung jawab melunasi semuanya. Dan tentunya tidak mudah bagi Mawar untuk membayar hutang itu karena dia sendiri sebagai tulang punggung keluarga punya tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Untuk membayar hutang Bank Mawar meminjam kepada rentenir, seorang BMI yang menikah dengan orang asing, tidak main-main bunganya di atas 15% ini solusi atau malah menambah masalah? Ya bisa kita bayangkan Mawar malah terjerumus ke lobang yang sama, gali lobang tutup lobang harus membayar bunga dari pinjaman yang begitu besar, bunga berbunga.

Itu tidak hanya terjadi sama Mawar, juga terjadi sama Melati (nama samaran), Melati meminjam uang ke Bank dan temannya sebagai saksi, vmeminjam uang itu separuh. Jadi sesuai kesepakatan meraka berdua membayar separuh dari total jumlah yang harus di setor. 1bulan lancar, 2 bulan lancar, bulan ke 3 dan seterusnya temannya menghilang, no hp tidak bisa dihubungi. Tinggallah seorang diri Melati harus melunasi hutang itu.

Begitu juga dengan terjadi dengan Anggrek (bukan nama asli), dia sebagai peminjam dan juga saksi. Alasan dia meminjam karena ingin membantu teman yang lagi terlilit hutang bank. Tetapi setelah diberi uang pinjaman teman-temannya mangkir, terpaksalah dia meminjam ke rentenir dengan bunga 20%. Begitu juga dalih dia menjadi saksi karena sebagai teman tidak tega untuk menolak. Dia menjadi peminjam 6 kali dan saksi 6 kali, lamanya meminjam mulai dari 6 bulan, ada yang 18 bulan. Suka dukanya menjadi peminjam atau saksi tentu ada, selain bisa meringankan beban orang lain, dukanya ketika orang yang di tolong tidak tepat waktu dan menghilang. Pesan dia untuk kita semua khususnya yang bekerja di Hongkong, jangan ada urusan dengan bank.

Pengalaman pribadi saya dalam memenej keuangan adalah ;

* Ambil hak kaum dhuafa

* Menabung adalah wajib, bukan sisa tetapi suatu keharusan.

* Pengeluaran tidak boleh melebihi gaji, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

* Uang jatah libur itu wajib, untuk makan, isi octopus dan keperluan pribadi. Saya tidak mau repot-repot pinjam uang hanya untuk keperluan berlibur.

* Kewajiban jatah untuk keluarga.

* Membeli barang-barang yang hanya saya perlukan. Jika melihat barang bagus di bawah harga baru saya membelinya. Di Hongkong harus puasa mata, untuk menghindari melirik barang-barang yang menggiurkan.

Ini hanya secuil kisah teman-teman yang pernah sharing dengan saya, mungkin karena kegiatan saya ada di jalan jadi dengan mudah mereka bisa ketemu di saat berlibur. Pengalaman pribadi saya, ketika mau menolong teman, tolonglah semampunya, jangan paspor yang di jadikan jaminan, Paspormu nyawa keduamu di luar negeri, atau kita sebagai saksi peminjam karena merasa teman baik. Jangan sampai ada Mawar, Melati atau Anggrek yang lain, ingatlah tujuan utama kita bekerja, harus pandai-pandai mengatur keuangan. Pertama kali ke Hongkong, di boss pertama, beliau manager HSBC, Paspor saya selama 6 tahun lebih beliau yang pegang, dia ketakutan saya menggadaikannya ke Bank, saya pegang Paspor hanya saat pergi ke China, waktu itu saya sering mondar-mandir ke China sendiri. Pernah ada beberapa teman yang meminjam uang saya, ketika saya kasih mereka menghilang, padahal saya tidak menagih, jadi pertemanan pun bisa bubar gara-gara meminjamkan uang. Yuk mari sama-sama ingat kembali tujuan kita bekerja di luar negeri, bisa pulang sesuai target, dengan membawa sekarung dollar dan bisa berkumpul dengan keluarga sesuai target.

(Visited 89 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.