Oleh : Ghinda Aprilia
Sarti nama lahir ummiku, “Wa Atit,” itu nama panggilan keluarga dari Engkong Saca, bapaknya. Mungkin sudah banyak cucu dan buyutnya. Aku memanggil dia, “Emak.” Konon kata emak, dia terlahir 5 tahun sebelum merdeka alias tahun 1940, (embuh benar atau tidak karena ibunya dia meninggal saat emakku bayi).
Emak diasuh oleh neneknya, sementara Kong Saca menikah lagi. Terbawa arus cerita dia sedih banget, saat Engkong tidak ada di rumah, dia dikasih makan oleh ibu tirinya seampar Pisin (piring kecil tatakan gelas). Tetapi saat engkong di rumah, dia disuruh mandi, saat mereka makan tidak boleh mendekat.
Emak menikah di usia 9 tahun. Tidak terbayang kalau zaman sekarang, 9 tahun sudah dinikahkan. Katanya dijodohkan dengan teman sepermainannya. Senang kalau dia cerita Zaman Jepang (Zaman Arem, kalau tengah malam gelap-gelapan), tidak boleh menyalakan Lampu.
Beliau sosok pekerja keras, cerewet (ah dimana-mana itu biasa ibu-ibu mah cerewet). Tugas utama beliau sebagai ibu dari 11 anak-anaknya, yang konon katanya anak pertama meninggal setelah melahirkan keguguran.
Anak ke 2 kecemplung di Empang, anak ke 3 embuh meninggal karena apa, kehilangan story sedangkan anak bungsu meninggal umur seminggu. Al Fatihah untuk semua saudara-saudaraku yang sudah mendahului kami.
Tujuh saudara yang masih hidup, tak terbayangkan bagaimana emak harus menghidupi kami, bapakku juga bukanlah orang mampu, keadaan ekonomi kami pas-pasan, otomatis Emak juga harus bekerja keras untuk menopang biaya hidup kami sehari-hari. Otomatis kami sebagai anak-anaknya juga diwajibkan untuk bekerja.
Hari minggu kami wajib ngarit rumput, ngambil kayu bakar, berkebun atau ke sawah (hiks sawah tetangga). Bonus di hari minggu boleh nonton Tv (Serial si Unyil atau Aneka Ria Safari) di rumah tetangga asal sudah beres pekerjaan wajib.
Saat yang saya tunggu-tunggu di kala bekerja di sawah atau kebun saatnya makan siang. Walau makan cuma Ikan Asin dan Sambal terasa nikmat, Alhamdulillah.
Sedih, tapi itu yang harus aku jalani, setiap perintahnya, aku tak sanggup untuk menolaknya. Di usiaku yang tergolong dini, aku harus bekerja keras, mungkin biasa kalau cuma bantu-bantu tetapi jika aku kuli di sawah orang, hati ini berontak. Pekerjaan terberat harus nyuhun padi, kayu bakar dan rumput dengan jarak jauh.
Aku juga malu dengan guru dan teman-teman di sekolah. Tetapi aku ambil hikmahnya, ketika dewasa, hidup berbaur dengan orang orang lain aku termasuk orang yang super aktif, tidak bisa diam.
Ketika musim panen hasil tanam di kebun tiba, aku juga di wajibkan menjual keliling kampung bersama kakak atau adikku. Ada kacang panjang, ketimun dan kacang tanah. Waktu itu rasa malu juga ada, tapi apa boleh buat, aku gak mampu menolak titahnya emak.
Pernah suatu hari ketemu guruku, “gubraaakkkk,” aku menjatuhkan diriku ke Jurang.
Kalau logikaku sekarang,”apa salahnya berjualan?” Aku ambil hikmahnya dengan berjualan emakku sedang mengajari aku Entrepreneur, “kereeeeennn kan Emakku?”
Anak banyak, pendapatan minim membuat emak harus putar otak supaya anak-anaknya bisa makan kebagian semua. Ultimatum dari emak, “Beurang cuma dahar Hui di cocol Sambel Terasi,” (siang cuma makan Singkong dengan Sambal Terasi).
Kami hanya mengangguk karena itu yang tersedia. Mungkin sekitar tahun 80an semua Masyarakat di sana atau mungkin rata-rata di daerah lain juga ada yang mengalami kesulitan beras (mengenaskan sodara).
Manusia itu ada kekurangan dan ada kelebihannya, itu firah. Satu sifat emak yang tidak Aku suka, dia pilih kasih terhadap anak-anaknya.
Suatu hari saat dia lagi menyapu lantai aku melihat kakakku makan Sukro.Aku langsung bilang
“Mak aku mau Sukro,” sambil melihat ke arah kakakku yang lagi asyik makan Sukro.
Masih dalam posisi menyapu lantai, “tuiiiiiing,” tiba-tiba menjewer telinga kananku, sakit sudah pasti, aku hanya bisa menangis dalam batin (tega banget emak gue).
Postur tubuhku dengan kakakku lebih bongsor aku. Ha ha zaman baheula terbesit di hati, “jangan-jangan akulah kakaknya.”
Jika membelikan baju kakakku ngumpet-ngumpet, ketika mau berpergian baru tahu dia pakai baju baru….Aaahhh sakitnya tuh disini bari nepak dada.
“kejadian itu berulang-ulang,” gerutuku dalam hati. Aku ambil hikmahnya sebagai ibu dari kedua putriku, aku tidak mau membeda-bedakan anak-anakku. Aku perlakukan yang sama dengan hak dan kewajiban yang sama.
Aku pernah berbuat kesalahan fatal, dijalan ketemu bapakku, lalu dia menitipkan uang sebesar rp 1000 untuk beli beras. Aku dan teman-teman berlari hingga lupa entah kemana itu uang raibnya. Baru tersadar di rumah uang itu tinggal rp500, saking takutnya hari itu aku seharian main di depan rumah Mariyam dengan perut lapar, tanpa makan minum.
Emak buta huruf, dia tidak bisa membaca dan menulis,tetapi beliau termasuk “Jenius,” pandai berhitung tanpa menggunakan jari-jarinya, ketika menghitung perkalian, penjumlahan seolah-olah di luar kepala (Hahaha kalah cepat dech, lebih pintar emakku).
Dalam hal keuangan beliau termasuk jeli, rikrik atau hemat. Kalau aku kirim duit disempatkan menabung, aku tahu keinginan dia salah satunya pingin ke Mekkah (maafkan ya mak semoga suatu saat aku bisa mewujudkan impianmu).
Tetapi ketika keluarga ada yang darurat, tidak segan-segan mengeluarkan uang simpanannya tanpa harus diminta.
Emakku turut andil dengan berdirinya MI AI Bayan Mandiri.
Suatu hari, pengobat rindu dengan emak dan putriku via Hp.
“Hallo Pat”…. terdengar suara emak yang cempreng, di seberang sana.
Assalamualaikum Mak, cageur? Balasku sambil mengerjakan tugas negara di rumah Lopan.
Emak selalu bersemangat kalau di telepon, apalagi menyangkut urusan duit.
“Begini, tanah di samping Mesjid yang sudah diwakafkan, itu sama masyarakat mau di bangun Madrasah, emak minta 300 ribu saja,” lanjut emak bersemangat kalau bicara masalah duit.
“Iya Mak,” sahutku, (dalam hatiku langsung tertuju ke salah satu mbak yang masih aku ingat dari kartu nama dia yang di kalungkan di lehernya “Khalifah.”
Sejak itulah aku langsung terinspirasi mencari dana ke teman-teman dan sampai saat ini masih aku lakukan. Inilah hebatnya “Emakku inspirasiku”
Pola pikir dan pola hidup yang kurang bagus juga faktor usia, emak jatuh sakit, selain gula darah naik, juga darah tinggi. Emak juga termasuk perasa orangnya, jika ada sesuatu yang tidak sreg dengan pikirannya atau ada masalah selalu dimasukin ke hati (maklum beliau sudah sepuh dan sensitif).
Sedih sudah pasti, disaat dia sakit keras, sempat koma aku tidak ada di sampingnya. Uang bukan segalanya, andai memungkinkan waktu itu aku sudah balik.
Sikon Pandemi Hongkong yang tidak juga membaik, salah satu kendalanya. Apapun untuk kesembuhan emak dilakukan, dibawa ke rumah sakit tetapi dia berontak, akhirnya sama keluarga dibawa pulang.
Satu hari di rumah langsung koma, “Ya Allah, sembuhkan Emak,” sambil tetap hp di tangan menyaksikan langsung emak yang sedang di Talqinkan.Aku berharap dan berdoa “Ya Allah berikan mu’jijat-Mu , sembuhkan dia, beri kesembuhan untuknya, beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Alhamdulillah di hari itu juga, emak bisa makan dan minum lagi. Hari-hari di gubuk emak seperti ada orang kematian, ba’da Maghrib ada pengajian dan 24 jam beliau dalam pantauan.
Beberapa bulan telah berlalu, khabar baik putriku dapat jodoh titajong (Jodoh tak terduga). Prinsip kami tidak pacaran, tapi aku merelakan putriku menikah muda.
Angan-angan ketemu emak semakin yakin bisa terwujud. Hampir setiap hari aku Video Call beliau.
“Assalamualaikum Mak Geulis,” kalimat yang selalu kuucapkan ketika meneleponnya. Bentuk kasih sayangku terkadang aku menyapanya seperti anak kecil.
“Mak, cepet cageurnya, Dilla nikah di dandanan make baju anu alus,” (Mak, cepet sembuh, Dilla menikah mau di dandanin pakai Baju bagus).
“Hooh, hayang pang alusna, warna pink, warna beureum,” ( Hooh mau warna pink dan merah), selorohnya.
Hanya itu pengobat rindu ketika emakku sakit keras.
Seminggu sebelum pulang.
“Emak sudah tidak mau makan,” tiba-tiba pemberitahuan di grup WhatsApp Ibnu Khotib. Hatiku langsung “deeeeegh,” Ya Allah beri kesempatan Hamba untuk ketemu,” pekikku dalam hati.
Semakin hari keadaannya semakin memburuk. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bisa berdoa dan pasrah dengan ketentuan-Nya.
Malam kamis tanggal 18 November, 2 hari sebelum aku terbang, aku menyaksikan emak koma dan sedang di Talqinkan. Hati serasa disayat-sayat rasanya, aku tak sanggup untuk melihatnya.
Aku hanya mengikuti keluarga besarku yang sedang mengaji.
Rupanya aku kelelahan, hp silent, ketika adikku tlp aku tidak tahu, malam itu pukul 23.30 emak pergi.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.”
Aku menyayangimu mak, tetapi Allah lebih sayang kepadamu, aku berusaha menguatkan hatiku, bosku selalu support dengan keadaanku.
“Emakmu sudah bahagia di Syurga, tidak ada yang bisa kamu lakukan selain berdoa,” ujar bosku .
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” Dia bertanya lagi.
Dia fikir dalam agama islam prosesi pemakaman bisa sebulan seperti tradisi di agama mereka, menunggu antri upacara dan pembakaran jenazah.
Mak kini rasa sakit itu tak ada lagi, teriakanmu menahan rasa itu tak tampak lagi. Mak tentu sudah bahagia di sana, hanya doa yang bisa kami haturkan.
Terimakasih mak, dengan kecerewetanmu, aku lebih siap lagi menghadapi orang-orang di sekelilingku.
Dengan kerja kerasmu, aku ambil hikmahnya bisa lebih giat lagi. Terlalu dini untuk kerja berat menjadikanku bisa hidup mandiri.
Disiplin yang kau ajarkan, membuat aku bisa lebih menghargai waktu. Setetes air susumu, takkan sanggup aku membalas jasamu.
Hari ini 26 Desember 2020, genap sudah 40 hari kepergianmu. Waila Arwahi khususon yaa Ahlal kubur “Emak Sarti Binti Saca.” Al Faatihah………
