Sekitar 10 tahun lalu, hari dan tanggalnya sudah lupa, suasana ruangan di kelasku terasa tiba-tiba penuh warna-warni. Sepertinya setiap sudut dan ruang memancarkan aroma romansa yang membuat hatiku mendayu-dayu. Aku yang duduk di bangku paling belakang sesekali curi pandang kepada sosok yang diperkenalkan ibu guru. Ia seorang siswa baru pindahan dari sekolah lain di Sulawesi Selatan bernama Aidil.

Selesai perkenalkan siswa baru, ibu guru mengakhiri pertemuan dengan pesan, “Rajin-rajinlah belajar dan bergaul dengan baik sesama siswa”. Kami pun bergegas saling berebutan keluar ruang kelas. Tak segaja kami bersenggolan dengan murid baru itu sehingga buku ditangannya terlepas. Dengan gerak refleks saya memungut cepat buku itu lalu menyodorkan sambil memandang wajahnya yang mempesona. Maaf ya Aidil, saya tidak sengaja, kataku padanya.

Hanya bahasa senyum dari bibirnya menandakan dia menerima maafku. Melihat senyumnya, jantungku dag dig dug laksana mengiringi lagu nada-nada cinta. Terlebih ketika dia menatap mataku sambil berucap, “tidak apa-apa Bunga, aku juga minta maaf tadi menyenggolnya”. Kami akhirnya berkenalan dengan saling menjabat tangan, lalu beriringan melangkah menuju kantin sekolah.

Sejak pertemua itu, dari hari ke hari kami semakin akrab, hingga tidak terasa UN (Ujian Nasional) tinggal seminggu. Teman-teman pada sibuk belajar bersama dengan membuat kelompok belajar. Kami pun membuat kelompok belajar yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara. Teman-teman sepakat mengangkatku menjadi ketua dengan pertimbangan saya pelajar peringkat pertama setiap tahun.

Sebagai ketua kelompok belajar, saya mengusulkan supaya Aidil jadi sekretaris dengan pertimbangan punya laptop dan komputer. Karena alasanku masuk akal, semua teman-teman menyetujui usulku tanpa syarat. Belajar bersama terasa waktu berlalu begitu cepat. Seminggu rasanya baru sehari bersama teman-teman belajarku.

Suatu ketika Aidil mendatangiku sambil membisikkan kata-kata mutiara cinta yang romantis di telinga kananku. Perasaanku seperti dibawa hanyut dalam lautan kebahagiaan, hingga tak terasa air mataku menetes dan berkata dalam hati, “Sebenarnya kata itu dari dulu aku ingin ucapkan, tetapi aku wanita jadi berat rasanya untuk memulai mengungkapkan kata hatiku yang paling dalam kepada pria idaman hati sejak awal perkenalan itu”. Dengan terbata-bata kuucapkan kata hatiku, “Saya pun mencintaimu dengan tulus apa adanya”.

Mendengar saya menerima cintanta, Aidil menundukkan kepalanya dan berkata, “Terima kasih, aku akan melamarmu setelah kita tamat SMA ini”. Pernyataan tiba-tibanya itu membuatku kaget dan berkata dengan manja, “Aidil, apa tidak terlalu cepat”? Dengan menggenggam kedua tanganku Aidil berucap, “Aku takut jika hatimu akan berpaling kepada orang lain seiring waktu berjalan”.

Baiklah kalau begitu, saya tunggu lamaranmu Ahad depan setelah pengumuman kelulusan ujian Nasional, kataku sambil berlalu melambaikan tangan kepadanya. Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa hari Ujian Nasional pun dilangsungkan dan kami lulus dengan nilai yang bagus. Alhamdulillah saya kembali menjadi peringkat pertama dan Aidil peringkat ketiga. Lagi-lagi dengan gerakan refleks kami berpelukan dan bergembira atas prestasi yang kami raih.

Ada aturan di sekolah kami siswa yang meraih nilai tertinggi UN SMA, dari peringkat 1 sampai 4 mendapat beasiswa dan diterima di Perguruang Tinggi tampak tes. Alhamdulillah kami bersyukur kepada Ilaihi Rabbi atas nikmat kelulusan ini. Ya Allah ya Rabb, tak hentinya kami bersyukur atas nikmat-Mu ini, kami janji akan belajar lebih bersungguh-sungguh lagi di kampus nanti. (Bersambung)

(Visited 65 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.