Oleh: Imam Abdullah El-Rashied
Bagian 3 dari 10
Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-
Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.
Mobil yang kunaiki kini sudah jauh meninggalkan Shibam di belakang. Kiri-kanan jalan yang nampak hanya bukit-bukit Ahgaff yang kokoh. Beberapa saat setelah Adzan Dzuhur mobil kini sudah tiba di Seiwun. Sesaat mobil berhenti di depan Qosr Al-Kathiri. Sebuah istana peninggalan Kesultanan Al-Kathiri yang didirikan pada tahun 1379. Kesultanan Al-Kathiri menguasa semua penjuru Hadhramaut mulai dari wilayah Dzafar hingga wilayah Syaruroh dekat Gurun Pasir Rub’ul Kholi. Kesultaan ini berakhir pada tahun 1967 bersamaan dengan runtuhnya kerajaan-kerajaan di wilayah Hadhramaut dan sekitarnya yang merupakan pertanda berdirinya Republik Yaman Selatan, mengikuti jejak keberhasilan pejuang revolusi Yaman Utara yang berhasil mendirikan Republik lebih awal. Kemudian pada tahun 1989, Presiden Yaman Utara Ali Abdullah Sholeh melakukan negosisasi bersama Presiden Yaman Selatan Ali Salim Al-Bidh untuk menyatukan Yaman Utara dan Selatan menjadi negara kesatuan republik. Hingga akhirnya pada tanggal 22 Mei 1990, secara resmi diumumkan akan berdirinya Republik Yaman dengan Ali Abdullah Sholeh sebagai Presiden dan Ali Salim Al-Bidh sebagai wakil.
Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Tarim, kota tujuan utama dalam perjalanku kali ini. Awalnya kami ingin mampir sejenak ke Makam Habib Ali Al-Habsyi, pengarang Maulid Simtud Duror di Seiwun, yang kitab maulidnya dalam dua dekade terakhir ini mulai digandrungi masyarakat Aswaja Indonesia menyaingi Maulid Al-Barzanji, Ad-Diba’i dan Asyraful Anam. Karena mobil travel tak seenaknya bisa kami hentikan dan disuruh untuk menunggu, maka dari itu niat kami untuk berziarah sementara ini diurungkan. Nampaknya kami akan mengunjungi Seiwun setelah selesai menapaktilasi tempat-tempat penting di Tarim.
Mobil terus melaju di atas aspal hitam. Sebelum tiba di Tarim, mobil sedikit berjalan pelan di daerah Husaisah. Aku menunjuk pada sebuah makam di Syi’ib Ahmad. Yah, itu adalah makam leluhur Habaib di Hadhramaut. Beliau adalah Imam Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Seorang pemuka Kaum Alawiyin yang berhijrah bersama 76 anggota keluarga dekatnya pada tahun 317 H dari Bashrah – Iraq ke Madinah, kemudian naik haji pada tahun 318 H. Di musim haji itulah orang-orang Hadhramaut meminta beliau untuk berhijrah ke Hadhramaut untuk mengajari mereka. Sebab di Hadhramaut kala itu sedang dikuasai oleh
Kelompok Ibadhiyah, salah satu sempalan Khowarij, sebuah sekte Islam garis keras. Dari itulah akhirnya Imam Muhajir hijrah ke Hadhramaut, tepatnya Kota Hajrain di Lembah Dou’an.
Sekitar jam satu siang sebuah papan penunjuk arah berwarna hijau di samping menyambut kami. Papan itu bertuliskan (تريم ترحبكم) dan “Welcome To Tarim”. Yah, Kota Tarim sudah di depan mata. Imam Abdullah Al-Haddad berkata: “Andai saja kau keluarkan seluruh hartamu untuk mengunjungi Kota Tarim, maka apa yang kau dapatkan akan lebih banyakdari pada yang kau keluarkan”.
Tiba di Kota Tarim. Kulihat Altimeter di Hpku menunjukkan angka 700 mdpl. Tarim adalah sebuah kota kecil seukuran satu kecamatan di Indonesia. Kota ini dikelilingi oleh bukit-bukit Ahgaff. Ada puluhan bukit yang memagarinya. Yah, Tarim adalah lembah kecil di tengah-tengah Lembah Al-Ahgaff. Pada tahun 2015, masa awalku di Tarim, aku sering mendaki beberapa bukit di daerah Nuwaidiroh dan Rahbah. Nah, pendakian inilah yang juga menjadi salah satu tujuan Abdul mengajakku untuk menemaninya mengeksplorasi Kota Tarim habis-habisan. Selama ini Abdul hanya bisa memandangi foto-fotoku yang sedang bergaya di atas puncak-puncak Tarim. Baik yang berlatar Sun Rise, maupun yang berlatarkan senja yang redup.
Saat aku turun dari mobil di pasar Tarim, rasanya hawa begitu panas menyengat. Perjalanan ini sungguh sangat melelahkan. Rasanya aku sudah tidak mampu menahan diri untuk melanjutkan puasa. Dahaga nyaris hangus membakar tenggorokanku. Bukankah orang yang sedang bepergian boleh membatalkan puasa? Sayangnya aku berangkat setelah Shalat Shubuh, jadi keringanan untuk meninggalkan puasa tak aku dapatkan. Seharusnya aku berangkat sebelum Shalat Shubuh agar boleh membatalkan puasa. Hanya saja, meskipun aku tak mendapatkan keringanan untuk membatalkan puasa lantaran safar, tapi aku boleh membatalkannya lantaran raya payah yang sudah tidak tertahankan lagi. Inilah yang disebut dengan Masyaqqoh. Sedangkan Kaidah Fiqih menyatakan (اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ) “Kepayahan itu mendatangkan kemudahan”. Sehingga barang siapa yang tidak mampu melanjutkan puasa lantaran terlalu payah dan berat menjalankannya, entah itu karena perjalanan yang tak memenuhi syarat seperti yang kulakukan ataupun karena pekerjaan yang sangat berat maka dia boleh membatalkan puasanya dan wajib mengqodho’nya nanti.
Dalam balutan cuaca yang super panas ini, aku mengajak Abdul untuk singgah sesaat di Jami’ Tarim untuk melaksanakan Shalat Dzuhur. Masjid ini dibangun pada tahun 375 H dan terus dipugar untuk memperluas area. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1392 H dengan ditopang 60 tiang kokoh di tengahnya. Tempat pemberhentian mobil travel tepat di samping Masjid Jami’ dan Pasar Tarim. Hanya saja kami tak bisa melaksanakan Shalat Jama’ Taqdim maupun Ta’khir. Hal ini karena kami sudah berniat untuk bermukim selama seminggu di Kota Tarim. Sedangkan salah satu syarat untuk dibolehkan melakukan Jama’ adalah tidak berniat tinggal lebih dari 4 hari di tempat tujuannya.
Lepas Shalat Dzuhur kami istirahat sejenak sambil menghubungi beberapa teman
yang bermukim di Tarim. Aku lupa untuk memesan penginapan sebelumnya, hal ini lantaran keberangkatan yang cukup mendadak sehingga aku tak sempat mencari info penginapan sebelum berangkat ke Tarim. Akhirnya kuputuskan saja untuk menghampiri temanku di asrama Univ. Al-Ahgaff di daerah Aidid – Tarim. Namun sebelum aku mendatangi salah satu tukang taksi di parkiran Jami’ Tarim, Abdul malah menahankun seraya berkata: “Oh iya Bang… Ini kemaren Mamang Ane yang kuliah S2 di Ahgaff udah mesenin satu kamar di Ba Hajj Hotel di Hawi. Ane lupa ngabarin ellu Bang, he he he”, ucapnya sambil sedikit tertawa kepadaku. “Lho, koq gak dari awal ngomongnya? Gue kan jadi bingung mau nginep di mana ini, mana Gue lupa mesen kamar penginapan lagi”.
Singkat cerita akhirnya kami menaiki taksi dari pusat kota Tarim menuju daerah Hawi. Sebuah perkampungan yang dulu ditempati oleh Imam Abdullah Al-Haddad, Sang Mujaddid Abad ke-11 H. Hawi Al-Khairat, itulah nama kampung ini. Di sini terdapat Masjid Al-Fath yang merupakan peninggalan Imam Haddad. Masjid ini awalnya hanya berukuran 3×4 m saja. Namun setelah direhab, kini masjid ini bisa menampung ratusaan jama’ah. Masjid ini akan menjadi salah satu rute ekplorasi kami. Masjid ini menyimpan beberapa peninggalan Imam Haddad. Berdampingan dengan masjid terdapat tempat mengajar beliau dan tempat jenazah beliau dimandikan, yang sampai saat ini masih dilestarikan dengan sangat terawat. Selain itu ada tempat terpenting yaitu Ma’bad, tempat Kholwah Sang Imam yang menempel bagian belakang bangunan asli Masjid Al-Fath. Konon katanya tempat yang sempit ini sangat mustajab untuk berdo’a. Bukankah Nabi Zakariya a.s. juga bertabarruk dengan berdo’a di Mihrab Sayyidah Maryam hingga beliau dikarunia seorang anak yang juga seorang Nabi yang bernama Yahya a.s., setelah penantian panjang dalam usia senja? Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
((فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36) فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ إنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ (37) هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء (38) فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ (39) قَالَ رَبِّ أَنَّىَ يَكُونُ لِي غُلاَمٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاء (40))
“(36) Maka ketika (isteri Imran) melahirkannya, ia berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan”. Padahal Allah tahu lebih tahu apa yang dia lahirkan, sedangkan laik-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan sesungguhnya aku memberinya nama Maryam, dan aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan untuk keturunannya dari (gangguan) setan yang terkutuk”.
(37) Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkannya kepada Zakariya. Setiap kali Zakariya
masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata: “Wahai Maryam! Dari mana kau peroleh ini?”, Dia (Maryam) menjawab: “Itu dari Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
(38) Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Tuhannya. Dia berkata: “Wahai Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a”.
(39) Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan Shalat di Mihrab: “Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan (dianugerahkannya) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, sebagai panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang sholeh”.
(40) Dia (Zakariya) berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana bisa aku mendapatkan anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku seorang yang mandul?” Dia (Allah) berfirman: “Demikianlah, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki”. [QS. Ali Imran : 36-40]
Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 4
