Oleh: Imam Abdullah El-Rashied

Bagian 5 dari 10

Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-

Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.

Shalat Taraweh di Masjid Ba’alawi selesai pkl. 00.15 a.m., selepas Shalat sekitar 20 menit berikutnya jama’ah akan disuguhkan dengan Qashidah Ramadhaniyah yang sudah berlangsung selama beberapa abad. Ada 3 Qashidah yang dibaca, yaitu Al-Witriyah, Al-Fazzaziyah dan Al-Qowafi. Hanya saja malam ini aku sedang terburu-buru, aku sudah menjadwalkan untuk berziarah ke Pemakaman Zanbal. Belum juga kami beranjak dari shaf yang kami duduki, ada suara gaduh di bagian belakang masjid. Seorang pelayan masjid yang sedang menuangkan Gahwah Khas Ba’alawi [Kopi khas Yaman yang terbuat dari campuran Kapulaga, Jahe dan Susu] tiba-tiba kalap dan tak sadarkan diri. Orang-orang ramai mengerubunginya, keramaian itu terus berlanjut hingga salah seorang di antara mereka ada yang berseru “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Telah pulang keharibaan rahmat Allah seorang marbot yang menghabiskan masa tuanya menjadi pelayan masjid setelah melaksanakan Shalat Taraweh. Oh, alangkah indahnya akhir hayatnya itu. Dia meninggal di masjid yang pernah disholati oleh wali-wali Allah yang tinggi derajatnya. Saat itu aku justru teringat Qashidah yang sering dibaca dalam Hadhrah Basaudan setiap selasa sore, Qashidah yang digubah oleh Habib Abdullah Bin Thohir Al-Haddad:

يَا اللهْ بِهَا يَا اللهْ بِهَا يَا اللهْ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةْ

يَا رَبِّ مَا مَعْنَى عَمَلْ وَكَسْبُنَا كُلُّهْ زَلَلْ

لَكِنْ لَنَا فِيْكَ أَمَلْ تُحْيِي الْعِظَامَ الرَّامَّةْ

قَدْ حَانْ حِيْنُ الْاِنْتِقَالْ وَالْعُمْرُ وَلَّى فِي ضَلَالْ

لَكِنِّيْ أَرْجُوْ ذَا الْجَلَالْ بِجَاهِ وَالِدْ فَاطِمَةْ

وَبِجَاهْ وَالِدْ فَاطِمَةْ نَسْأَلُكْ حُسْنَ الْخَاتِمَةْ

“Ya Allah berilah kami Husnul Khatiman (akhir yang baik)”

“Wahai Tuhan, apa makna amal kami sedangkan semua perbuatan kami adalah kesalahan?”

“Hanya saja kami masih mempunyai harapan pada-Mu (di mana) Kau bisa menghidupkan

tulang-belulang yang telah hancur”

“Telah tiba saatnya untuk pulang, namun umur telah berlalu dalam kesesatan”

“Namun aku berharap kepada Yang Maha Mulia dengan perantaran Ayah Fatimah (Muhammad saw)”

“Dengan perantara Ayah Fatimah kami memintamu Husnul Khotimah”

Aku masih termenung melihat kerumunan orang-orang di masjid. “Ya Rabb, berilah hamba-Mu Husnul Khotimah”, pekikku dalam hati. Sebelum kakiku melangkar keluar dari masjid, aku bertemu dengan Habib Umar Bin Hafidz. Salah satu Ulama Tarim yang masuk dalam kategori 50 teratas dari 500 Tokoh Muslim berpengaruh di dunia menurut versi The Muslim 500 : The World’s Most 500 Infulential Muslim’s, aku menyalami dan mencium tangannya.

Keluar dari Masjid Ba’alawi kami berlalu menuju pemakaman Zanbal yang sangat terkenal itu, di mana terdapat ribuan wali dimakamkan. Syeikh Abdurrahman As-Seggaf pernah mengungkapkan: “Di Zanbal itu bersemayam para tokoh Auliya’ yang jumlahnya lebih dari 10.000 orang. Di situ pula terbaring 80 wali dari kalangan Sayyid yang telah mencapai derajat Qutub (puncak kewalian)”.

Ketika sampai di depan Ribath Tarim, kami mampir sejenak di warungnya untuk mengistirahatkan rasa lelah sambil memakan telor rebus dan minum Rib, sebuah minuman dingin yang dibuat dari susu fermentasi dan gula, rasanya tak jauh beda dengan Es Tape di Indonesia. Yah, kebiasaanku dan teman-teman saat di Tarim sebelum Shalat Taraweh dimulai biasanya kami mampir dulu ke warung yang menempel di Ribath Tarim ini. Begitu juga di hari-hari biasa sebelum Shalat Jum’at dilaksanakan di Jami’ Tarim.

Cukup memakan 2-3 butir telor dan segelas Rib dingin, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Pemakaman Zanbal dengan membelah Pasar Tarim dan terus masuk ke gang-gang sempit hingga akhirnya kami keluar ke jalan raya dan melihat Zanbal hanya sekian puluh meter dari seberang jalan.

Malam-malam begini Zanbal terasa sepi, terlebih di bulan Ramadhan yang pusat kegiatan masyarakat Tarim adalah di masjid. Setelah melepaskan sandal, kamipun masuk dari pintu utama di sebelah kiri. Hanya berjalan sekitar 20 meter dari pintu utama, kita akan melihat kumpulan makam yang batu-batu nisannya sudah rata dengan tanah dan dipagari. Yah, itulah makam 70 Ahli Badar yang syahid dalam perang Riddah di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq saat beberapa suku di Hadhramaut menolak untuk membayar zakat. Sejenak kami berdiri di pintu masuk makam para sahabat tersebut, mengucapkan salam dan memanjatkan do’a.

Berjalan ke arah kanan sekitar 10 meter, ada atap yang menaungi jejeran makam yang disemen menggunakan campuran kapur dan tanah. Di bawah atap inilah terdapat

makam wali-wali besar Tarim, yaitu Al-Faqih Al-Muqoddam yang merupakan tonggak utama Thoriqoh Alawiyah dan beberapa kerabatnya. Di situ pula terdapat makam Syeikh Abdurrahman As-Seggaf, Syeikh Umar Al-Muhdhor dll. Saat itu lampu di pemakanan belum dinyalakan lantaran tak ada pengunjung, akupun berlalu ke bagian kanan atap lantas menyalakan lampu dan kipas.

Kami duduk bersimpuh di hadapan makam Al-Faqih Al-Muqoddam, mencium batu nisannya lantas membaca Yasin dan Tahlil. Imam Al-Bujairimi Asy-Syafi’i dalam Hasyiyahnya atas Syarah Manhaj Ath-Thullab (1/495) menyebutkan:

((ويكره أن يجعل على القبر مظلة وأن يقبل التابوت الذي يجعل فوق القبر كما يكره تقبيل القبر واستلامه وتقبيل الأعتاب عند الدخول لزيارة الأولياء نعم إن قصد بتقبيل أضرحتهم أي وأعتابهم التبرك لم يكره وهذا هو المعتمد))

“Dimakruhkan membuat payung untuk kuburan, begitu juga (makruh) mencium Tabut (kotak) yang diletakkan di atas kuburan, sebagaimanahalnya dimakruhkan mencium kubur dan menyalaminya, begitu juga mencium pintu masuk kuburan ketika hendak masuk untuk menziarahi para wali. Hanya saja jika mencium kuburan mereka begitu juga pintu masuknya itu dengan niatan Tabarruk maka tidak dimakruhkan dan ini yang mu’tamad (pegangan dalam madzhab”.

Disebutkan dalam Umdah Al-Qori Syarh Shohih Al-Bukhari (14/471):

((أن الإمام أحمد سئل عن تقبيل قبر النبي وتقبيل منبره فقال لا بأس بذلك))

“Imam Ahmad Bin Hanbal ditanya soal mencium kubur dan mimbar Nabi saw? Maka beliau menjawab: “Itu boleh-boleh saja”.

Yah, soal mencium kuburan Ulama tak mengharamkannya, hanya makruh saja kecuali jika diniatkan untuk mengambil berkah (Tabarruk) maka itu tidak makruh.

Soal Tawassul dengan orang yang sudah meninggal, Disebutkan dalam Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi (8/274), Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (7/420) Al-‘Utbi berkata:

((كُنْتُ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} فَأَتَى أَعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَجَدْتُ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا [ النِّسَاءِ :64 ] ، وَقَدْ جِئْتُكَ تَائِبًا مِنْ ذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّي وَأَنْشَأَ يَقُولُ : يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ فَطَابَ مِنْ طِيبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ فِيهِ الْعَفَافُ وَفِيهِ الْجُودُ وَالْكَرَمُ قَالَ الْعُتْبِيُّ : فَغَفَوْتُ غَفْوَةً فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} يَقُولُ : يَا عُتْبِيُّ الْحَقِ الْأَعْرَابِيَّ ، وَأَخْبِرْهُ بِأَنَّ اللَّهَ

تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لَهُ))

“Dulu aku berada di samping kubur Nabi saw, lantas seorang badui datang seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman: “Andaikan apabila mereka telah berlaku dzolim terhadap diri mereka kemudian mereka menemuimu dan memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun turut memintakan ampun untuk mereka, sungguh mereka akan menemui Allah sebagai Dzat yang menerima taubat dan Maha Pengasih” [An-Nisa’ : 64]. Aku menemuimu dalam keadaan bertaubat dari dosaku dan meminta syafa’atmmu kepada Tuhanku”. Kemudian orang badui itu berkata: “Duhai sebaik-baik orang yang tulang (jasad)nya dikuburkan di tanah, sungguh lantaran wanginya (jasad) itu tanah menjadi wangi. Jiwaku adalah tebusan untuk kubur yang kau singgahi, di dalamnya terdapat harga diri, kedermawanan dan kemuliaan”. Al-‘Utbi berkata: “Kemudian aku terlelap dan melihat Rasulullah saw dalam tidurku seraya berkata: “Wahai ‘Utbi, susullah orang badui itu dan katakan padanya sesungguhnya Allah swt telah mengampuninya”.

Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 6

(Visited 124 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.