Menurut Wikipedia, Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Dulu, perjalanan wisata hanya berkunjung pada tempat tempat indah seperti pantai, bukit, gunung, landmark sebuah kota, dan lain lain. Namin sekarang, berbagai jenis perjalanan wisata dapat dilakukan. Ada wisata pantai, wisata kuliner, wisata religi dan juga wisata kelam.

Wisata Kelam? Mungkin istilah ini kurang familiar bagi kita. Istilah ini memang baru banyak digunakan 2 atau 3 dekade terakhir ini. Istilah ini pertama kali digunakan oleh John Lennon dan Malcolm Foley dalam bukunya “Dark Tourism; The Attraction of Death and Disasters”. Ya, wisata kelam (gelap) atau dalam istilah bahasa Inggrisnya “Dark Tourism” adalah pariwisata yang melibatkan perjalanan ke tempat tempat yang secara historis terkait dengan kematian dan bencana. Lalu adakah yang tertarik berkunjung ketempat tempat tersebut? Ternyata banyak. Bahkan banyak negara yang menggalakkan pengembangan pariwisata kelam-nya. Negara seperti Mozambik dan Rwanda di benua Afrika dan Kamboja dan Vietnam di Asia termasuk Negara negara yang banyak mempromosikan wisata kelamnya. Di Turki, juga banyak makam atau kuburan para pahlawan dan Sultan dan permaisuri dari Kekaisaran Ottoman (Daulah Utsmaniyah) yang selalu ramai dikunjungi pelancong.

Indonesia termasuk negara dengan potensi wisata kelam yang besar. Jika dikembangkan dan dipromosikan dengan baik tentu akan bisa meningkatkan pendapatan perkapita nasional kita. Apa saja destinasi wisata yang masuk kategori Dark Tourism? Makam (pekuburan) tokoh terkenal seperti ulama, pahlawan, pejuang, monumen bencana alam, upacara kematian, pekuburan unik, dan sebagainya. Contohnya adalah Monumen Tsunami di Aceh, Monumen Tragedi Bom Bali di Denpasar, upacara kematian Rambu Solo di Toraja, Sulawesi Selatan dan yang lainnya. Di Yogyakarta ada Museum “Sisa Hartaku” yang menampilkan sisa sisa harta benda warga Yogya yang terkena dampak meletusnya Gunung Merapi beberapa tahun silam. Di Jawa Timur, lokasi Lumpur Lapindo sering dikunjungi orang untuk melihat dampak bencana atau sekedar untuk fotofoto.

Selain di Toraja, di Sulawesi Selatan, juga cukup banyak destinasi wisata kelam. Di Toraja, selain upacara kematian Rambu Solo, juga ada Kete’Kesu dan pekuburan bayi yang dimasukkan kedalam batang pohon. Makam Syech Yusuf di Gowa sudah lama menjadi tujuan wisata kelam. Banyak peziarah yang datang berkunjung, baik dari Sulawesi Selatan, maupun dari berbagai daerah lain, bahkan dari mancanegara. Makam Sultan Hasanuddin dan raja raja / bangsawan Gowa lainnya, makam Arung Palakka (Raja Bone) di Katangka, Makam Pangeran Diponegoro. Monumen Korban 40.000 Jiwa dan Monumen Emmy Saelan juga dapat dikategorikan destinasi wisata kelam.
Berkunjung ketempat wisata tujuannya adalah untuk bersenang senang dan bergembira. Namun tujuan ke destinasi wisata kelam biasanya untuk perenungan, mengenang sejarah (historis), ziarah dan juga tujuan penghormatan.


[…] Tentang Wisata Kelam atau Dark Tourism, pernah saya tulis di https://bengkelnarasi.com/2021/11/15/wisata-kelam-dark-tourism-yang-juga-populer/ […]