Pada tahun 2010 mencari donasi sambil mengedarkan majalah-majalah islam yang beredar di Hong Kong. Bukan hanya keuntungan yang saya dapatkan, tetapi ada nilai syi’ar. Biasanya teman- teman tomboy rasa kepeduliannya tinggi, imbalannya saya kasih buku. Walaupun tidak ngasih infak kadang- kadang ada yang saya kasih gratis, memberi dengan maksa.

Ya sudah menjadi rahasia umum di Hong Kong ini banyak teman-teman yang menyimpang (maaf) salah satunya menjadi tomboy atau menyukai sesama jenis.

Proses tak membohongi hasil, di antara mereka banyak yang hijrah, ya melalui majalah yang saya edarkan banyak mendapat hidayah. Saya sering pendekatan menyapa mereka, tentu saya harus menyesuaikan diri dengan gaya dan bahasa mereka.

Menjadi kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, manakala mereka menemui saya sudah berhijab. Ada juga yang masih buka tutup hijab, tetap saya kasih semangat, karena untuk berubah itu perlu waktu.

Perkenalan saya dengan teh Mawar (bukan nama asli) ketika ngencleng di depan Bank Mandiri. Dia menjual Pempek bersama pasangannya Melati (nama samaran), kebetulan saya suka makanan ciri khas dari Palembang ini.

Mawar pandai mencari peluang bisnis, cerdas dan cekatan. Saya kaget ketika melihat penampilan dia yang sudah berubah, berpakaian tertutup dan berhijab. Hal ini membuat saya penasaran untuk bertanya langsung, walau hati berat takut menyinggung perasaannya.

Di luar dugaan, dia siap berbagi dengan maksud bukan membuka aib tetapi semoga ini bisa memotivasi teman-teman yang masih di jalan yang salah.

Mawar ke Macau sebagai visitor, pada tahun 2004, bisnis bangkrut, untuk menghilangkan stress jalan-jalan ke Macau. Sebulan kemudian dia memutuskan bekerja di Macau sebagai pekerja migran.

Tahun 2006 memutuskan untuk pindah bekerja di Hong Kong. Bekerja di 2 majikan, 4 tahun kemudian memutuskan untuk pulang dan menikah. Hidup tak selamanya mulus sesuai wacana, setelah menikah, punya anak  dan mencoba bisnis, sempat sukses, tidak lama bangkrut, ditipu orang.

Uang hasil kerja dari Hong Kong ludes, hingga Mawar memutuskan untuk kembali ke Hong Kong pada tahun 2013, meninggalkan putra semata wayangnya yang berumur 13 bulan.

Hingga saat ini dia belum pernah pulang, insyaAllah, tahun depan sudah memutuskan resign dari Hong Kong.

Mawar tomboy dari kecil, hormon laki-laki lebih dominan. Walau berdandan feminin, tetap mentalnya tetap laki-laki. Bapaknya sangat paham dengan keadaan Mawar, ketika minta masuk sekolah STM tidak dituruti.

Tidak ada komunikasi dengan suaminya selama 3 tahun. Dia merasa minder dengan suaminya seolah kalah power. Suaminya nampaknya malas sementara dia punya banyak bisnis, mulai travel, warung dan asuransi.

Di tengah kesepian dia ketemu teman curhat, diawali seringnya sharing dan bertemu. Rasa kasihan terhadap Melati yang teraniaya suaminya. Dari sekedar peduli timbul benih-benih cinta. 4 tahun bersama, tentu bukan hal yang untuk hijrah. Terlebih Melati sebagai pasangan belum bisa terima kalau Mawar mau berubah.

Yang membuat titik balik hijrah total, setiap melakukan dosa itu teringat nasehat emaknya. Teringat almarhum bapaknya yang tidak berdaya di alam kubur, disiksa karena dosa anaknya. Sedangkan bapaknya adalah orang yang taat sama agama.

Tidak hanya Mawar, Melatipun tidak lama kemudian berhijrah, bahkan nampaknya sudah bercadar. MasyaAllah,  tak henti-hentinya saya ikut bersyukur, terharu, ketika melihat perubahan mereka berdua.

Saya turut senang Mawar punya kegiatan positif selain bisnis juga dia sering memotivasi teman-teman lewat medsos.

Pesan singkat untuk teman-teman yang masih menjadi tomboi. Dia berharap mari kembali ke fitrah kita. Bertaubat lah, setelah mempunyai keputusan untuk hijrah jangan ditunda-tunda. Mengingat umur kita sudah tidak muda lagi. Ajal tak mesti sakit, ajal tak mengenal usia.

Semangat teh Mawar, selamat telah menjadi manusia di atas rata-rata. Masa lalu biarlah berlalu, semua orang punya masa lalu, sekecil apapun dosa tak terkecuali saya, Anda atau yang membaca coretan saya ini. Yang lebih penting adalah masa depan, taubatan nasuha.

Untuk menambah wawasan kita simak yuk kutipan dari caribidan@SKATA.

Saat mendengar kata tomboy, yang terbesit di pikiran Anda mungkin perempuan yang berpakaian seperti lelaki, dengan potongan rambut cepak sembari melakukan hal yang biasa lelaki lakukan. Tak disangka, anak perempuan Anda menunjukkan ciri demikian. Ia lebih nyaman mengenakan celana daripada rok, lebih senang berlarian di luar rumah ketimbang main boneka, tentunya dengan teman-temannya yang didominasi oleh anak laki-laki. Anda pun heran karena tidak merasa memaparkannya lebih banyak pada aktivitas dan benda yang identik dengan laki-laki. Lantas, apa ya penyebabnya?

Ternyata, penyebabnya beragam, baik yang datang secara natural maupun pengaruh cara didik orang tua. Berikut adalah hal yang bisa menyebabkan anak perempuan menjadi tomboy:

1. Paparan hormon testosteron saat dalam kandungan

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Avon Longitudinal Study of Parents and Children menemukan bahwa ketika janin perempuan terpapar kadar hormon testoteron yang tinggi, ia akan cenderung menunjukkan perilaku tomboy seperti lebih memilih mainan anak laki-laki.Meskipun demikian, peneliti menyatakan bahwa pengaruh hormon testosteron terhadap perilaku anak hanya sekitar 2%, yang berarti terdapat lebih banyak faktor lain yang bisa memengaruhi perilaku anak perempuan.

2. Meniru sosok yang dikagumi

Ada pula sebuah kasus nyata dari (sebut saja) Irma. Ia lahir dari ibu tunggal. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ia tumbuh melihat sang ibu melakukan semua sendiri. Bekerja, mencuci piring, bahkan mengganti ban mobilnya sendiri. Di sisi lain, ibunya pun bisa meninabobokan dirinya seperti sosok ibu pada umumnya hingga Irma tertidur. Ibunya senang menggunakan celana dan memotong rambutnya sangat pendek. Biar praktis katanya, mengingat ia melakukan banyak hal sendiri. Irma pun tumbuh menjadi anak yang aktif, cenderung berjiwa bebas, dan lebih nyaman berpakaian ala lelaki seperti ibunya. Meskipun demikian, Irma juga senang memasak bersama ibunya. Jadi, kekaguman Irma terhadap sosok serba bisa sang ibu dan kedekatan keduanya membuat Irma mengekspresikan diri seperti ibunya. 

3. Lingkungan terdekat didominasi lelaki

Menjadi tomboy bisa jadi juga karena pengaruh didikan serta peran keluarga. Melissa Hines, PHD, peneliti dari City University di London menemukan bahwa sosok laki-laki dalam keluarga (ayah, kakak lelaki, atau peran lelaki dewasa lain di rumah) menjadi salah satu pengaruh anak perempuan menjadi tomboy. Memiliki beberapa kakak laki-laki mungkin memengaruhi cara anak perempuan bermain dan bertingkah laku, juga jenis mainan dan pakaian yang disediakan oleh orang tua.

4. Bentuk perlindungan diri

Pada anak perempuan yang mulai beranjak remaja, lingkungan perkotaan dengan tindak kriminal yang tinggi membuat mereka memilih untuk tampil seperti laki-laki agar tidak menarik perhatian orang yang berniat jahat. Hal ini juga berlaku pada kasus perundungan atau bullying yang bergaya seperti lelaki agar bisa dianggap kuat dan tidak lemah.

5. Bagian dari fase tumbuh kembang

Terakhir, alasan anak perempuan menjadi tomboy adalah karena mereka hanya ingin melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Tak ada alasan spesifik di baliknya. Ada sebuah fase dalam tumbuh kembang anak di mana anak menjadi lebih energik, aktif secara fisik, dan bersikap cuek. Perilaku ini lah yang “diterjemahkan” oleh orang tua sebagai tomboy. Padahal, anak hanya ingin bereksplorasi dan penasaran akan hal baru.

Jadi, tidak ada yang salah dengan perilaku anak perempuan yang cenderung seperti anak lelaki. Kacamata orang dewasa di lingkungan tempat ia tumbuh lah yang sering “melabeli” perilakunya sebagai tomboy, bahkan berusaha mendorong anak untuk menjadi seperti anak perempuan lain. Terdengar sepele, namun labelling dan komentar demikian bisa membuat anak ragu akan diri dan potensinya, hingga bisa kehilangan self-esteem (cara ia menghargai dirinya dibandingkan orang lain).

Penelitian pun menunjukkan bahwa seberapa tomboy anak dipengaruhi oleh definisi tomboy yang dimiliki orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Misal, anak perempuan yang suka main bola sudah dianggap tomboy meskipun ia tidak agresif seperti anak laki-laki pada umumnya.

Jika Anda sebagai orang tua terbuka dengan pilihan anak, bisa jadi minat anak dapat difasilitasi lebih cepat dan bakatnya pun terasah. Bukan tidak mungkin hobi bermain bolanya menuntunnya menjadi atlet sepak bola wanita, kegemarannya akan kegiatan outdoor membuatnya penasaran akan apa isi bumi dan menjadikannya seorang geolog, atau dorongan tubuhnya untuk senantiasa berlari, melompat, memanjat membuatnya tangguh sebagai seorang taruna kelak. Setuju?

Caribidan

©SKATA

(Visited 86 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

2 thoughts on “Anak Tomboy Taubatan Nasuha”
  1. 4 tahun bersama, tentu bukan hal yang untuk….
    kalimat ambigu, maksudnya bagaimana?
    Bagian bawah kan cuplikan dari artikel lain, harus disebutkan narasumbernya ya Ghinda.
    Lanjutkan kisah inspirasinya saja.

    1. Manini, maksudnya sharing, libur bareng, kemana-mana bareng, saya tidak mau terlalu jauh bertanya, tetapi sudah bisa menafsirkan. Itu sumber dari Caribidan@SKATA , nggih Manini nanti saya sertakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.