Oleh : Je Osland


Belum juga tumit menyentuh bumi, telapak kaki mereka sudah membucah menuju kehadiran ku. Dibalik pintu kaca, kedua puluh jari mereka melambai-lambai agar raga ini merapat. Tuju mereka hanya dua, Pertama sorakan hatinya akan kehadiran teman bermain, Kedua menunggui rentengan kantong plastik di kedua kepalan tangan ku.

Raga ini pun mulai merapat ke pintu kaca, sembari menyodori kantong berisi beberapa kilo buah segar, aku excited menyapa “Selamat sore gadis cantik abak, Hei dujang danteng dabak!!!”.

Namun balasan tak serupa yang diharap, mungkin karena kantong tak berisi make up mainan dan mobil truk yang sudah dipesan tiga hari yang lalu. Aku tetap berusaha mendekat dengan rayu yang menyentuh kalbu, akhirnya mereka luluh, dengan tegas mereka bersuara “cuci badan dulu biar corona nya hilang!!!” yah, setiap pulang “bakureh” aku memang tidak pernah berani menyentuh mereka sebelum menyeka raga.

Fajar mulai memekat, kami menuju anjungan untuk bercengkrama di peraduan. Aku berbisik ke perempuan mungil itu “Hei Sabai Nan Aluih! Kisah apa yang akan kita urai di malam ini?” seketika dia protes dengan setengah berteriak “Nabe (dia biasa menamakan dirinya, Maksudnya Uni Abe/ Uni Sabai) bukan Sabai Nan Aluih!!! Nabe adalah Sabai Raminang Jeosland!!!”.

Tawa mulai aku layangkan dengan tujuan mempertegas canda ku. Sembari melekatkan pipi ku ke pipinya, aku berbisik “Nak! Sabai Nan Aluih adalah hikayat hebat yang menginspirasi abak mu” lagi-lagi aku tak bisa memiih bahasa sederhana untuk membuat dia mengerti, kikuk dan terasa bodoh saat membuat dia bertambah bingung.

Aku memutar otak untuk menyederhanakan maksudku agar dia bisa mengerti, aku ambil gadget buatan china ku dan mendekap dia untuk mengajak menonton. Sebelum gadget yang LCDnya mulai terlepas itu aku nyalakan. Aku berusaha unjuk kemampuan untuk menjelaskan tentang penamaannya.

“Nak! Sabai Nan Aluih adalah seorang gadis cantik yang lemah lembut, cerdas, rajin membantu orang tua dan punya keberanian untuk menjaga Abak, Mande dan Adeknya” ujarku meyakinkan, “Nabe bukan Sabai Nan Aluih!!! Nabe Sabai Raminang” lagi-lagi teriakannya menghantam gendang telinga ku.

“Kalau uni abak panggil Nanaysha boleh?” huuffttt pernyataan apa lagi ini, membuat dia tambah bingung dan amukan amarahnya bertambah meledak.

Aku tak peduli, aku mulai ego dan berusaha bercerita, dengan harapan otaknya mampu mencerna “Nak! Dulu saat nabe di perut mande, Papa abak Almarhum Anas Nazar Malin Sati mendatangi abak di Petang Kamis Malam Jum’at. Lewat mimpi, beliau yang gagah menepuk pundak abak!” Sembari merangkul beliau berkata, “anak mu, cucu papa adalah seorang perempuan, maka namai dia dengan NANAYSHA dan engkau cukup memanggilnya NAY”.

Ini memang perjalan dimensi hayal yang aku sodorkan, seorang lelaki tangguh yang telah menempa kehidupan ku sedari kecil, lelaki yang memaksa aku menjadi pemikir, lelaki yang menantang aku untuk selalu kritis terhadap sekitar, lelaki yang melecut aku untuk selalu berani melawan tirani, lelaki yang meminta aku untuk menjadi pemenang, Yah!!! Seorang lelaki yang selalu mendominasi dilingkupnya, ngiang suara kerasnya selalu memantik semangat untuk tetap berkarya hingga saat ini.

Yah!!! Sayangnya nama itu tak aku sematkan pada gadis kecil yang kami nanti kehadirannya. Sudah banyak literatur yang aku cari tentang nama pemberian mimpi itu, namun tak satupun makna yang aku temui.

Dan alasan kedua ku adalah karena beliau terlalu maju dalam pemberian nama ku, nama ala-ala western yang beliau lekatkan sehingga asing ditelinga 80an. Begitupun aku, aku ingin serupa beliau! Laksana mesin waktu, akupun kembali kemasa dulu untuk menyematkan nama “Saisuak” ke calon bayi ku.

Kembali ke diskusi ku dengan sabai, aku mulai mensearching tentang Sabai Nan Aluih di aplikasi You tube, tentu dia akan lebih gampang mencerna jika media bergerak yang aku sodorkan.

Sayangnya hanya “kaba” Sabai Nan Aluih melalui “Rabab” yang banyak diunggah. Akhirnya aku menemukan sebuah content creator yang mencoba mengangkat hikayat Sabai Nan Aluih dalam bentuk film pendek.

Kami mulai mencoba menikmati alurnya, jelas tergambar bagaimana sabai menjadi pembicaraan seantero kampung akan budinya, mengajarkan para “mande-mande” membuat penganan, hingga dengan tangkasnya Sabai Nan Aluih belajar silat hingga mengaji di Surau.

Sepertinya Sabai ku mulai tertarik, dia mulai berujar “Sabai itu baik ya bak!” dalam hati aku bergumam “Hmmmm aku mulai bisa bermain difikirannya”.

Situasi pelik akhirnya muncul, saat Rajo Nan Panjang mulai melakon dengan hulubalangnya, dengan berpetitih Rajo Nan Panjang mulai bertitah ke hulubalangnya untuk menghantar “Siriah Carano” ke rumah Rajo Babandiang sebagai cendera untuk meminang Sabai Nan Aluih.

Otak ku mulai bersilang sengketa “penjelasan apa yang akan aku utarakan?” Sabai lantang bertanya “Kenapa bapak tua itu mau mengambil Sabai Bak?” alamaaak… Tak mungkin juga aku berbicara tentang pernikahan, akhirnya aku bicara sekenanya “Sabai itu anak baik, jadi bapak tua itu ingin mengajak sabai ke rumahnya, untuk menolong bapak tua itu”.

Dirumah gadang hunian sabai, terjadi perdebatan hebat antara mande Sabai yang benama Sadun Saribai dengan hulubalang Rajo Nan Panjang, Mandenya terlihat murka atas pinangan seorang Rajo Nan Panjang yang terkenal akan kezaliman dan kesewenangannya.

Sabai kembali bertanya “Bak! Kok Sadun Saribai nama ibunya, memangnya ibunya “Bayi”? dia berfikir tentang nama Saribai yang melekat pada ibunya, aku kembali menjelaskan dengan mengada-ngada “dulu ibunya juga bayi, makanya dinamakan Saribai”.

Akhirnya Rajo Babandiang berpesan kepada hulu balang untuk menyelesaikan permasalahan pinangan itu di Padang Panahunan.

Waktu yang disepakati datang, sebelum Rajo Babandiang berangkat menuju padang panahunan, Rajo Babandiang mendapati adik Sabai yang bernama Mangkutak Alam yang sedang meraut bambu layangan. Dengan bijak Rajo Babandiang berpesan kepada anak laki-lakinya untuk menjaga mande dan kakaknya.

Lagi-lagi sabai bertanya “Bak! Kok dedek Tan bukan Mangkutak Alam namanya?” aku tau anak ini terlalu kritis dalam setiap peristiwa yang aku suguhkan. Kembali mengada-ngada aku jawab seenaknya “Kalau Mangkutak Alam hobinya bermain layangan, kalau adek kita Tan Randai kan hobinya main mobil truk?” dia seperti puas dengan jawaban ku “oiya ya bak!”.

Andai aku juga utarakan jika sebelum nama TAN RANDAI ALMINANGKABAWI aku putuskan untuk adeknya, ada beberapa list nama yang aku siapkan : CATI BILANG PANDAI, HANG TUAH BUNGUSI, TAN MALAYA DIRAJA (selain anak-anak ku bersuku Tanjung aku memang tertarik dengan pergerakan tokoh kontroversial Tan Malaka).

Akhir cerita, Sabai serius mengikuti film pendek tersebut hingga habis. Bagaimana ayahnya terbunuh oleh senjata api pandeka Rajo Nan Panjang, hingga Sabai membalaskan dendam dengan membunuh Rajo Nan Panjang.

Tatkala larut memejamkan kantuknya, dengan memeluk lengan sebelah kanan ku tidurnya seperti menari-menari dengan cerita yang aku suguhkan di malam ini.

Pagi gulita mulai menyinsing, setelah aku mandi untuk bersiap menuju sawah tempat “Bakureh”. Dia terbangun sembari berkata “Bak!!! Nabe mau menjadi Sabai Nan Aluih”, bahkan sampai hari ini dia terkadang memanggil aku dengan Rajo Babandiang, menyebut Mandenya dengan Sadun Saribai, dan menyapa adeknya dengan sebutan Mangkutak Alam.

Catatan :
Jamuan “Semesta Berkisah” ini, bahan bakunya terbuat dari hikayat Minangkabau lama yang berjudul “Sabai Nan Aluih”.

(Visited 181 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

2 thoughts on “SEMESTA BERKISAH”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.