Oleh : Yusriani Nuruse
Pagi masih menunjukkan pukul 04.00 wita,Widya masih terlelap dalam tidur karena lelah yang ia rasakan.Sudah beberapa pekan tak ia rasakan tidur normal.Ia kerap terbangun mengurusi Yudhi suaminya yang menderita penyakit skizofrenia paranoid dan diabetes. Gula darahnya tdk pernah turun karena Yudhi tak sekalipun mau mendengar nasehat Widya istrinya agar sedikit mau berpantang makanan.
Namun ia tiba-tiba tersentak kaget dengan teriakan Yudhi yang menggema.Widya menenangkan perasaannya sejenak dan bergegas menemui Yudhi di kamar sebelah. Widya memang memilih tidur bersama anak lelakinya yang baru berumur 8 tahun karena Yudhi kerap mengamuk atau berhalusinasi bicara sendiri. Hal itu untuk menghindari hal yang tak diinginkan dan juga lebih aman buat Widya dan anaknya.
Dengan mata melotot Yudhi meminta Widya menyiapkan makanan. Namun nasi di dapur sudah basi. Widya baru hendak memasak, namun Yudhi meminta makan saat itu juga.
Widya lagi-lagi harus menahan emosi dengan lontaran kata-kata Yudhi yang seakan tak sedikitpun menghargai lelah Widya yang selama ini mengurusnya.
Bagaimana mungkin Widya bisa menyiapkan makanan dalam hitungan detik?
Widya menyiapkan mie instan buat Yudhi agar bisa sekedar mengganjal perutnya agar Widya bisa masak dulu, atau menunggu pagi dan membeli nasi kuning.
Yudhi menyantapnya beberapa sendok mie instan itu, namun tiba-tiba “BRAAAKKK” mangkok itu sudah terbang dan hancur berantakan di depan tempat tidur. Menyusul gelas kopi yang Widya suguhkan buat Yudhi.
Sejenak Widya diam seribu bahasa. Ia tak ingin memulai paginya dengan pertengkaran.
Widya memilih masuk ke kamar anaknya dan mengurus anaknya berangkat ke sekolah. Tegar, anak satu-satu mereka hanya memilih diam ketika mendengar Yudhi memecahkan sesuatu.
Widya mengantar anaknya kesekolah dan mampir membelikan nasi kuning dan roti buat Yudhi.Lelaki itu semakin hari semakin tidak bisa dimengerti. Setiap punya keinginan harus langsung dipenuhi. Begitu banyak permintaan yang terlontar, seakan sengaja membuat Widya kelelahan. Namun Yudhi tak berhenti mengoceh memojokkan hati Widya, yang spontan Widya memungut pecahan mangkok yg agak besar dan membantingnya tepat di depan Yudhi tanpa bicara. Dadanya bergemuruh, namun Widya tak ingin menangis lagi. Widya tetap mengucap Istighfar dalam hati agar setan tidak terlalu kuat menguasainya.
Dan kini giliran Yudhi diam seribu bahasa.
Widya menghempaskan tubuh lelahnya di kursi,menelan salivanya yang terasa pahit.Entah sudah berapa banyak mangkok,piring,gelas yang telah pecah berkeping-keping, menorehkan luka dihati Widya. Namun entahlah, sekuat apapun badai menerpa, tali layangan itu tak juga pernah putus. 13 Tahun sudah terombang ambing mengikuti arah angin, namun tali layangan itu seakan selalu kuat menahan hantaman badai.
Semoga Widya mampu menghadapi badai kehidupan ini. Cukup sudah pecahan mangkok itu sebelum tergantikan dengan mangkok plastik.
Watansoppeng, 15 Januari 2022

Pengen ada sambungan cerita bunda… Widya yang sabar akhir membanting juga walau hanya pecahan Mangkok dibanting ulang mangkokx sebagai ekspresi lelah n muak hadapi layangan yg bertahan tak putus… Ceritax aku suka… 😍😍😍