Menak Jinggo Sekar Kedaton
Salah satu genre karangan fiksi (novel) yang cukup banyak diterbitkan beberapa tahun terakhir ini adalah novel sejarah (fiksi sejarah). Jenis novel ini biasanya menggunakan nama nama tokoh yang real atau nyata dan pernah hidup di masa lampau, namun jalan ceritanya tetap merupakan karangan hasil imajinasi penulisnya. Menurut Wikipedia, Fiksi Sejarah adalah sebuah genre kesusastraan di mana alurnya terjadi dalam sebuah setting yang berada pada masa lampau.
Di Perpustakaan umum Provinsi Sulawesi Selatan (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan) yang berlokasi di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, terdapat banyak koleksi fiksi sejarah. Ada Panji Wirapati, Lambung Mangkurat, Menak Jinggo Sekar Kedaton, Ken Arok Cinta dan Tahta dan masih banyak lagi yang lainnya. Kalau fiksi sejarah dari luar negeri ada The Last Empress yang mengisahkan perjalanan hidup Kaisar China Perempuan, yang ditulis dengan sungguh memukau.
Salah satu novel sejarah yang baru saja selesai saya baca, adalah novel “Menak Jinggo Sekar Kedaton” karangan Langit Kresna Hariadi. Bukunya sangat tebal, hampir 900 halaman. Lebih sebulan baru selesai kubaca…. (oops, slow reader…!). Novel Panji Wirapati yang juga pernah saya baca, juga tebal. Kalau Panji Wirapati bersetting masa masa perjuangan Pangeran Diponegoro di tanah Jawa pada abad ke-19 lalu, sementara itu Menak Jinggo, setting waktunya lebih jauh lagi kebelakang, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit pada abad ke-11.
Novel Menak Jinggo ini ditulis dengan alur cerita yang sangat menarik. Ada raja Hayam Wuruk dan istrinya. Istrinya 2 orang, istri pertama (permaisuri) memiliki anak perempuan: Dyah Kusumawardani dan istri keduanya memiliki anak laki laki bernama Bhre Wirabumi yang diberi nama olok olok oleh permaisuri dengan nama Menak Jinggo, yang membuat raja menjadi murka…
Konflik terjadi karena adanya kepentingan antara orang orang yang mengharapkan Kusumawardani yang jadi Ratu (Prabu Putri) dengan orang orang yang justru mendukung Bhre Wirabumi yang jadi raja menggantikan ayahandanya. Konflik bukan cuma antara para keluarga raja (bangsawan) tetapi juga antara para Emban (para perempuan pembantu di istana). Ada Emban yang sangat berkuasa karena merasa dengan permaisuri, ada emban yang cerdas, ada yang bodoh dan bahkan ada Emban yang dihilangkan (entah dibunuh atau dibuang kesuatu daerah) karena berkonflik dengan emban lainnya dan berbagai kepribadian lainnya.
Ada kisah percintaan antara putri raja dengan pengawalnya sendiri, ada kisah persahabatan antara para prajurit, ada kisah menarik tentang rombongan pesinden yang berakhir tragis, kisah putra raja yang tinggal di sebuah desa dan membantu penduduk desa dalam berbagai masalah.
Membaca novel ini, benar benar membawa kita ke masa silam, masa kerajaan Majapahit berkuasa. Detail suasana istana dan suasa kota raja cukup mengesankan. Hukuman mati yang mengerikan bagi para pelanggar hukum juga diuraikan disini. Cermin, ternyata adalah barang mewah dimasa itu, hanya keluarga raja yang memiliki. Pedagang biasanya menunggu sekian lama pedagang dari Gujarat (India) yang biasa membaca cermin untuk diperdagangkan di bumi Majapahit.
Nama nama tokoh dalam novel ini adalah nama yang nyata, bukan rekaan. Pada masa itu benar benar ada orangnya. Yang menarik bagi saya, nama nama tokoh laki laki pada masa itu banyak yang nama awalnya adalah nama binatang, misalnya Gajah Mada, Gajah Enggon, Kuda Narapadya, dan ada juga Kebo (Kerbau)….
Yang agak berat bagi pembaca, terutama yang bukan orang Jawa, menurut saya adalah banyaknya tokoh dalam novel ini yang namanya khas Jawa klasik. Satu tokoh memiliki nama yang panjang panjang, dan satu orang memiliki banyak nama. Misalnya Raja Hayam Wuruk, juga bernama Raden Tetep, ada juga nama-nya yang lain saat menjadi dalang ketika masih muda. Kalau saja ada illustrasi silsilah yang dipasang disalah satu halaman buku, pasti akan sangat membantu pembaca. Atau illustrasi gambaran atau denah Istana. Tapi ada juga baiknya, artinya pembaca akan melatih otaknya merangkai hubungan keluarga antar tokoh tokoh dalam novel. Juga akan melatih berimajinasi tentang suasana kota raja dan suasana Istana dan suasana kampung di masa tahun 1200-an.
Inilah salah satu novel sejarah terbaik yang pernah saya baca…. Recommended kepada para pencinta novel sejarah.

