Malam tanggal 14 Muharram 1448 Hijriyah. Purnama sempurna di langit timur. Muncul malu-malu di sela daun dan pucuk kelapa sawit. Timbul tenggelam di balik awan tebal. Ketika ia terbebas dari dedaunan, dan awan pergi perlahan, ia menampakkan pesonanya yang angkuh nan elegan, memancarkan sinarnya yang temaram namun tajam menghujam bumi.
Terlihat bundar penuh. Makhluk bumi menyambutnya dengan suka cita. Karena semua satu suara, itu adalah purnama. Bahkan, banyak yang kompak menyambutnya dengan puasa. Ya, puasa Ayyaumul Bidh, yang dikerjakan oleh umat Islam selama tiga hari setiap tanggal 13, 14, 15 kalender hijriyah.
Mari bandingkan dengan penampakan awal bulan hijriyah. Ketika itu bulan kelihatan dari bumi seperti garis melengkung. Lalu besoknya agak membesar. Seperti sabit. Kecil. Samar. Terkadang ada yang harus menggunakan teropong untuk bisa melihatnya. Itu pun kalau suasana cerah. Tidak ada yang melindungi. Terutama awan.
Berbeda dengan wajah terlihat bundar penuh dimana umat manusia sepakat dan akur lalu puasa. Di sini, ada perbedaan dalam melihat bulan yang masih kecil itu. Ada yang menganggap itu bulan, ada juga yang tidak. Banyak instrumen untuk mengukur munculnya bulan itu. Seperti teropong, kalkulasi fisika dan astronomi. Parameternya juga berbeda. Yaitu ketinggian bulan atau posisi vertikal dan elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari.
Karena berbeda instrumen dan parameter, maka hasilnya pun sering berbeda pula. Ada yang melihat bulan hari ini, ada yang besok. Umat Islam menyambutnya dengan berpuasa, atau salat idul fitri, meskipun waktunya bisa berbeda.
Yang berbeda ini, sebenarnya kebanyakan adalah pemimpin umat dan pengambil kebiajakan. Lalu masing-masing pengikutnya mengambil sikap beragam. Ada yang setia apapun kata pemimpin, ada yang pragmatis, apatis, biasa-biasa saja, dan ada yang mencari sesuai selera atau yang mana lebih mudah. Contoh, puasa belakangan, dan lebaran duluan.
Sikap apapun yang dipilih berdasarkan bulan yang kelihatan seperti sabit tadi, seharusnya tidak perlu menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat. Pilihan boleh berbeda, silaturahmi tetap paling penting.
Ungkapan ‘perbedaan pendapat adalah rahmat’ berlaku jika masing-masing yang berbeda itu bijak menyikapi perbedaan. Di satu sisi menghargai pendapat orang lain, dan tidak bawa perasaan atau baper. Di sisi lain, teguh dan konsisten terhadap pilihannya.
Pemimpin umat dan pengambil kebijakan yang menimbulkan perbedaan itu juga bertanggung jawab untuk mengarahkan umat. Jangan biarkan mereka berdebat dalam ketidaktahuan. Yang paham menjelaskan. Yang tidak paham tidak usah sok paham, lebih baik belajar.
Kita hanya beda jalan. Bukan beda tujuan. Mengingat kembali pepatah Latin disampaikan Alain de Lille pada 1175 berbunyi Mille viae ducunt homines per saecula Romam. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pertengahan oleh Geoffrey Chaucer pada 1391 menjadi Right as diverse pathes leden diverse folk the righte way to Rome. Sekarang populer dengan ungkapan All roads lead to Rome. Dalam bahasa Indonesia, Banyak jalan menuju Roma.
Ya memang, tujuan sama, yaitu menuju rida Allah dan mencapai surga bersama-sama. Namun harus saling menghargai, bahwa jalan yang ditempuh berbeda-beda.
Sama dengan tujuan perjuangan meraih kemerdekaan yang diceritakan dalam Film Di Bawah Lindungan Ka’bah, diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) 1938 terbitan Balai Pustaka dengan judul yang sama. Waktu itu ada yang memulai perjuangan setelah menimba ilmu pengetahuan di luar negeri, ada pula yang berjuang dalam negeri. Ungkapan penting dalam film itu untuk menyikapi perbedaan ini adalah: Tujuan sama, apa boleh buat, jalan berbeda.
Jadi, bulan itu selalu dan selamanya bulat. Ia adalah satelit bumi yang berputar dalam garus edarnya mengelilingi bumi. Kalau kemudian dia tampak seperti sabit di awal bulan Hijriah dan bundar penuh di pertengahan bulan, itu hanya sudut pandang manusia. Kalau sudah tahu itu, harusnya tidak ada lagi yang bersitegang hanya karena satu melihat dan yang lain tidak.
Kalau tidak mampu mengubah dunia, ubahlah pandangan terhadap dunia. Seandainya bulan selalu purnama, maka takkan ada dusta di antara kita.
Paser, Kalimantan Timur, 30 Juni 2026
