Semarang adalah kota yang mengajarkanku arti hidup mandiri dan persahabatan. Tempat yang tak pernah terfikirkan olehku untuk bisa kukunjungi dan menetap hingga 4 tahun lebih.

Ketika kata “Kota Semarang” terdengar, sejuta kenangan membayang di pelupuk mata. Di tempat inilah awal pertemuan 6 anak perantau dari Sulawesi Tenggara ke tanah Jawa menuntut ilmu dan bertemu dengan seorang gadis dari Demak. Menjalin persahabatan bagaikan saudara, hingga sekarang walau semuanya telah memiliki kehidupan masing-masing, tetapi selalu ada jalan untuk berkumpul walaupun tidak pernah lengkap.

Di kota ini kami mengukir sejuta kenangan yang sangat berkesan dan tak akan terlupakan. Dari kejadian yang penuh tangis,t sampai yang penuh tawa bahagia. Dari nyasar pas cari kerja, pindah-pindah kost kesana kemari, kebanjiran saat tidur, dan paling kocak adalah ketinggalan angkot.

Pengalaman yang paling kocak adalah saat ketinggalan angkot. Jadi singkat ceritanya seperti ini. Saat itu, aku dan temanku bernama Ayu pulang dari kost temanku yang namanya Esse. Ketika asik cerita, angkot datang menghampiri. Karena posisi Ayu membelakangiku, sehingga dia tidak melihat kalau aku telah berjalan ke arah angkot berhenti. Aku dengan asiknya berjalan sambil cerita tanpa menyadari bahwa dia tidak ikut denganku. Dia masih asik cerita sendiri dan ketika membalikkan badannya, dia terkejut karena hanya seorang diri.

Aku dengan tanpa berdosa masuk ke dalam angkot dan duduk. Saat menengok keluar jendela dan betapa terkejutnya diriku saat melihat Ayu masih di luar dan saya baru sadar kalau telah meninggalkannya sendiri. Dia terlihat bingung mencariku. Aku langsung menelfonnya dan mengabari kalau dia tertinggal.
Kami tertawa terus menerus hingga perut terasa sakit.

Ketika teringat akan semua kenangan itu, aku selalu tertawa seorang diri. Ternyata hidup di perantauan tanpa sanak saudara tidak mudah. Harus siap puasa tiap hari untuk menghemat biaya makan. Siap cuma makan sekali sehari semalam ketika kiriman terlambat masuk atau orang tua belum bisa kirim karena belum ada uang. Sering bawa bekal ke kampus agar tidak jajan. Makan enak ketika minggu awal kiriman datang dan minggu terakhir penuh perjuangan agar uang cukup sampai kiriman berikutnya datang.

Merantau mengajarkanku cara mengatur diri. Mulai dari keuangan, kedisiplinan, kemandirian dan kesabaran. Jika aku tidak mampu mengatur keuangan dengan baik, maka orang tua akan tersiksa mencari uang lebih banyak lagi. Jika aku tidak disiplin, maka aku tidak akan selesai tepat waktu. Jika aku tidak mandiri, maka aku sudah lama kembali ke kampung tanpa membawa apa-apa. Dan jika aku tidak sabar, maka aku sudah lama menyerah karena tidak sanggup menjalani kehidupan diperantauan.

Di tempat inilah aku menemukan dan mengerti arti sebuah persahabatan yang abadi. Persahabatan yang sampai saat ini masih terjalin sangat erat. Persahabatan yang bisa saling merasakan walau tak diungkapkan. Bisa mengerti tanpa diberi penjelasan yang panjang dan saling membutuhkan satu sama lain. Walau raga terpisah jauh, tapi hati dan jiwa selalu saling merindu dan memeluk lewat doa.

Semarang dengan sejuta kenangan indah dan menyedihkan.

(Visited 71 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.