Oleh : Andi Satia
Minggu,10 Oktober 2021 di ambang sore .
Suara debur ombak jelas terdengar, yang sesekali gelombang mengantar menjilat bibir pantai Lacaria. Di depan rumah makan beratap biru, yang menghadap laut lepas , seraut wajah tengah berdiri seakan tak mendengar apapun di alam sekitarnya.
Sampai satu saat dia tersadar dari lamunannya, dia mendesah panjang,” Ada apa dengan diriku?”
Entah untuk kesekian kalinya dia mendesah panjang ,” Mengapa tak bisa hilang dari hati ini. Benar – benar perasaan yang menyiksa batin . Lalu dia mendekap dadanya yang terasa sesak . Dia merasa sangat tersiksa dengan perasaan yang dimilikinya. Selalu terkenang saat pertama kali masih bersamanya.
Hari – hari yang dilaluinya begitu indah. Dia merajut benang- benang asmara penuh kasih sayang. Dia selalu berusaha untuk menepis semua perasaan itu, namun tetap saja mengganggu pikirannya. Dia yakin hari- hari yang menyongsong di depan akan mengupas habis kehidupannya perlahan- lahan sampai pada titik kehancuran . Berapa lama lagi dia sanggup bertahan. Bumi tempatnya berpijak hanya menawarkan kesedihan yang amat dalam. Andai dia bisa, dia ingin lari dari semua ini , lalu memulai hidupnya dari awal lagi. Dia berharap dalam kesedihan ini , akan menemukan sejumput kekuatan untuk melupakan semuanya ,demi kebaikan untuk semuanya .
Tak terasa ada butiran kristal yang seketika menggantung di sudut matanya. Dia lalu bergegas mengais butiran yang mulai menetes dengan jari jemari lentiknya yang gemetaran . Ada seribu tanya dalam pilu seketika mengoyak batinnya akan satu masa saat dirinya masih bersama.
Kini semua telah berakhir. Saling diam membisu. Inilah yang terjadi. Ya….menjauh dari seseorang yang dulu sangat dekat dengan kita , bukan berarti memutuskan tali silaturrahim . Hanya saja tidak bisa seperti dulu lagi , karena terkadang memang kita harus menjauh agar tidak saling menyakiti , demi untuk menjaga hati yang bisa saja menghancurkan segalanya .
Jiwa yang begitu lelah, seketika sirna dengan hembusan lembut angin sepoi menerpa wajahnya . Dia tetap setia berdiri di bibir pantai Lacaria , pantai yang menjanjikan kedamaian hati dengan sejuta pesonanya . Selalu begitu. Setiap kali dia sedih, resah, hanya pantai Lacaria yang bisa mendamaikan hatinya dan membuatnya tenang, sambil memandang laut lepas, lalu membuang lepas segala keresahan yang ada di hatinya.
By Andi Satia

Mantap cerita nya puang bunda🥰semoga selalu menghasilkan karya² yang selalu dicintai oleh para pembaca🥰👌
Suka sekali baca hasil2 karyanya pung, sangat menarik dan sarat makna. Sukses terus pung
Mantap👍.Truslah berkarya puang Tia.
Karya Cerpen yg baik sebagai motivasi dlm proses mengingat dan menjalin hubungan silahturahmi
Puitis sekali. Sepertinya ada kesamaan cerita yg perna ada.
Sukses selalu atas karyanya .teruslah mencipta agar bisa melahirkan cerita cerita yg banyak disenangi oleh Setiap pembacanya
Cerita cinta yg mengungkit perpisahan itu sudah
Lumrah tapi kadang hati belum relah menerima itulah namanya takdir dan selau tabah menerima walapun hati terasa sakit. dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan