Oleh : Gusnawati Lukman
Dear seseorang yang jauh di sana…
Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik. Aku duduk termenung memandangi senja yang hampir digantikan malam. Berusaha mencari bayangmu dari kejauhan. Samar-samar kudengar nyanyian kelelawar yang siap mencari rezeki malam. Kita dibatasi jarak, ruang dan waktu. Tak bersua bukan berarti aku tak merindu.Tak menyapa bukan berarti aku melupakan. Suatu saat ada pertemuan, Aku ingin menjabat erat tanganmu. Menyatukan sukmaku, mengalirkan segenap rasa.
Namunpun demikian, seandainya tidak pernah ada temu, izinkan aku bersama bayanganmu. Bercumbu,saling merayu, tertawa, menangis, lalu tertidur. Sakit rasanya menyadari semuanya hanya fatamorgana. Terkadang aku ingin mengucapkan selamat tinggal ketika hubungan kita ada di titik nadir. Tapi aku takut penyesalan karena kehilanganmu akan membayangi perjalanan hidupku.Aku tidak ingin ada perpisahan. Aku ingin selalu bersama bayanganmu karena fisikmu tidak dapat aku sentuh.
Dear…..Bagaimana aku bisa baik-baik saja, ketika aku ingin mengirim pesan untukmu, tiba-tiba aku sadar komunikasi kita sudah tidak terjalin mesra lagi. Membaca pesan aku saja sudah ogah-ogahan,apalagi yang lainnya. Aku ingin selalu menjadi sahabat terbaik untukmu.
Semoga waktu akan berpihak kepadaku. Selalu ada ruang di hatiku untukmu. Tidak ada yang abadi, namun rasaku abadi untukmu.
Watansoppeng, 6 Februari 2022
