Oleh : Je_Osland (ASN GOL_R)

.

.

.

Siang benderang dengan panas berdengkang, menggusar tubuh untuk mencari suasana sesejuk mungkin. Berniat berleha, aku mendapati ruang orang nomor dua kosong melompong. Aku duduk di kursi jati auditorium mininya. Didepannya, smart TV berukuran besar menganggur seperti memanggilku untuk menggauli, aku mulai memanjar remote canggih yang beroperasi dengan analognya, aku coba mengedip-ngedipkannya dengan mensearching Alexandro Querevalu di kanal Youtube (entah kenapa aku ingin merelaksasi benak dengan instrument indian ini).

Sembari merehatkan pipi ke meja bundar bersila kaca, dengan gumpalan tangan sebagai bantalan kepala. The last of the mohicans seperti mengilustrasi ilusiku ke belantara rimbun yang tak bertuan. Samar-samar imaji ku dihampiri  Ras Mongoloid Kuno dari Montezuma Castle. Tiba-tiba kelabat elang berbulu putih berdesir terbang mengitari ilusi. Elang itu terlihat uzur, tapi cengkramannya kokoh mencabik pohon sequoia raksasa.  Matanya masih mampu menatap tajam menyapu Selat Bering hingga Alaska. Nalurinya nampak kuat berperang laksana Geronimo di suku Apache. Selepas itu, kantuk melelapkan mata hingga beberapa kejap memulih tenaga.

Rawipun mulai menelungkup kebibir senja, sebentar lagi tumitnya pasti mencumbu samudera hindia. Tenggelamnya membungkus lelah aktifitas manusia penakhluk dunia. Hiruk pikuk perbuatan manusia diluluhlantah waktu, hingga malam menjedakan mereka untuk berhenti mengurai bermimpi.

Dari gedung tua bekas kolonial aku melihat silau cahaya berkelabat lalu, mimpi yang hadir disiang terik seperti nyata saat ini. Aku tak seperti melihat seorang pria renta masa, namun serupa elang putih di mimpi lalu. Elang putih yang menakhluk pohon sequoia raksasa, bak Geronimo yang menjaga Apache dari buasnya dunia luar.

Elang putih itu meronggok di pagaran (pagar) beranda gedung kolonial Belanda, disampingnya ada bungkusan mimpi yang disulam dari benang wol vicuna. Bungkusan mimpi yang ditata rapi. Banyak ruang disana, ada gumpalan semangat diruang pertama, ada onggokan amanah diruang berikutnya, terdapat tumpukan kekuatan diruang lainnya, semoga juga ada gundukan rindu disela ruangnya.

Sepertinya Elang Putih benar-benar meninggalkan Gurun Navajo, melanjutkan mimpi diujung gurun hunian pemikiran barunya. Diberanda renta yang dihoyak gempa, aku menyaksikan Elang Putih sedang bersiap melepaskan cengkamnya. Melepas segala apapun yang telah diejawantahkan, segala idealisme yang telah disemburkan, dan segala gurau dengan sejawat lantai duanya.

Benakku kembali melorot ke masa tiga tahun lalu, mula aku mengenal elang putih. Sebagai objek pembinaan dan pemeriksaan tahunan, Aku mendatangi beliau berharap sanggahku dipertimbangkan. Disana, aku mulai melihat ke”humble”an dalam sanubarinya. Juga lekat teringat, ketan goreng menjadi balasan jamuan dari ketan durian diselasar pantai depan pasumpahan. Selepas itu, aku bergabung dengan institusi tempat bernaungnya. Keakraban menjadi-menjadi, terkadang bergelut serupa sebaya, terkadang bersitegang urat leher tapi hanya untuk merentang senja.

Banyak kisah yang beliau urai dari perbauran pagi hingga pekat malam, mulai dari muda merdeka, sekelumit pengalaman sebagai abdi negara, hingga cerita ringan pengawal malam di gedung tua.

Dari banyak kisah, satu kisah hebat yang selalu tersemat dihati. Dihari baik setiap pekan, beliau mengajak langkah mengetuk pintu yatim hingga piatu, mengunjungi bapak tua pengangkat beban, ada tangis ibu renta pengais tumpukan sampah, menyemangati tukang parkir bertato yang telah hijrah di jalanNYA, terkadang bersua bocah kurus dengan selesma di lubang hidung. Selepas berbagi, beliau menghadiahiku untuk menikmati kuliner malam ditengah kota. Tentunya dengan menu-menu pilihan yang dilengkapi kopi pahit dengan gelas keramik khas tionghoa.

Sapaan subuh saban hari beliau kumandangkan “Semangat pagi oje ganteng!!!” Lengkap dengan lampiran foto candid jepretan Handphone jadul beliau yang selalu aku cemooh. Sedetik saja laun ke kantor, beliau menyergapku dengan serapah amarah. Memang benar, kedisiplinan adalah kunci untuk menjadi.

Terkadang aku melihat kerut mengerinyit dari dahinya, beliau terkadang lelah dengan kompleksitas permasalahan pekerjaan yang beliau hadapi. Aku mencoba menyemangati serupa pembijak yang menelurkan banyak buku “Pak! Sebaik apapun kumpulan putusan, akan terlihat buruk jika kepentingan individu/kelompok tidak terakomodir”. Sembari menepuk-nepuk pipiku beliau berujar ” Eeee… Pujangga!!!!”. Selepas itu aku melihat gurat lelah terbang dari raganya.

Yah… Elang Putih yang semangat bekerja. Beliau selalu berwasiat, “Je! tak semua pekerjaan berorientasi kepada uang. Jikok Kalah di Bawang, Mudah-mudahan Manang di Lado”.

Sungguh, aku tak berniat menjadi patung Indian kecil didepan Alexandro Querevalu saat pertunjukannya. Aku hanya berharap elang putih membumbung tinggi membawa mimpi yang ditenunnya.

Hari ini,
Untuk kedua kalinya, kembali dengan kepala tegak aku melepas pengelanaan baru orang-orang baik di Gurun Navajo. Orang-orang yang mengajarkan banyak hal, orang-orang yang membentang pengalaman untuk menjadi pelayan (abdi negara) yang bernilai.

“Apak Ganteng!!!  Jika lisan pemimpin sudah memeluk qalbu, maka disanalah maqom tertinggi seorang pemimpin. 💪
.
.
.
M. Yamin 70
Oje (Aspri >pukul 16.00)

(Visited 75 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.