Oleh: Ghinda Aprilia

Karena faktor ekonomi aku harus rela jauh dari buah hatiku, Dilla. Sakit sudah pasti, tetapi demi cita-cita aku rela walau berat hati. Hati ini remuk rasanya, untuk pertama kali aku harus jauh darinya. Subuh itu, Dilla yang masih terlelap tidur aku tinggalkan.

“Maafkan Mamah sayang, bukan Mamah tak sayang kepadamu nak, tetapi keadaan yang memaksa melakukan ini”.

Tak terasa hujan air mata membasahi pipiku, aku tahan rasa tangisku supaya tak kedengaran orang lain.
Melalui calo yang biasanya nyari rongsokan emas, aku dibawa ke rumah seorang sponsor di Purwokerto. Aku menginap di rumah seponsor pas bulan puasa. Masih teringat di jamu buka puasa dan makan sahur di ransom alias dibagi di piring. Haha untuk ukuran perut kami masih kurang, apa daya kita hanyalah tamu, kami sesama calon TKW (tenaga kerja wanita) hanya saling pandang. Kebetulan waktu itu aku berangkat sama Nyai, sepupu suamiku.

Awalnya yang aku pilih negara Brunei, tetapi ke sana harus ngasih uang DP sama sponsor, apa boleh buat, mau gak mau ke Singapura adalah pilihannya. Aku masuk PT Orienta Sari Mahkota, di daerah Jakarta Timur.

Di PT aku termasuk orang yang kreatif, kerja tanpa harus disuruh, intinya aku orangnya tidak bisa diam. Setelah biodata (yang faktanya di biodata itu salah, tanpa aku tahu namaku jadi Fatimah Hotip). Itu kesalahan fatal hingga sekarang.

Ibu Nining sebagai ibu asrama yang lumayan cukup cerewet dan mudah marah, duh gustiiiiii sepertinya orang ini mau hidup selamanya. Ibu Nining hanya bersikap baik sama laki-laki, “haha karena dia janda kalee caper,” saat di interview ibu Nining, dia nakut-nakutin kami.

“Kalian nanti di sana tidak seperti di Indonesia, harus membawa tabung gas sendiri, dari lantai dasar sampai ke lantai yang paling tinggi, di mana majikan kalian tinggal.”

Sejak itu aku berdoa, “Ya Allah, biarin majikan cerewet, anaknya banyak yang penting jangan punya majikan yang tinggal di Flat.” Haha itu pernyataan seorang ibu asrama yang menyesatkan, kalaupun harus membawa gas, tho di Singapura ada lift.

Pernah suatu hari di saat mau lebaran, aku disuruh bikin kukis, aku bikin walau sudah malam. Ada kesalahanku tidak tanya dulu bikin kebanyakan, dia ngamuk-ngamuk. Dalam hati aku bergumam, “sudah gue tolongin, duh gak ada terima kasihnya.” Apapun yang kami lakukan, nampaknya di mata bu Nining selalu salah. Selain kami piket bersih-bersih dan memasak, kami juga memasak untuk orang-orang kantor makan siang dan makan malam. Cara melayani dan menyajikan harus seperti melayani majikan.
Tiba saatnya bikin paspor, aku didampingi seorang perempuan, Bu Ririn yang super duper judesnya. Sikap dia sama para calon TKW sepertinya memandang kami kayak bukan manusia. Jika berbicara tidak pernah ramah, mukanya selalu ditekuk kayak Uweuk (burung Hantu).

“Nanti kalau kamu ditanya petugas Imigrasi, bilang dari Jawa,” dia ngasih arahan dengan muka muram. Aku bingung, aku dari Sunda, kenapa harus ngaku dari Jawa, Jawa mana?” Hatiku masih gak mudeng, karena tidak dikasih tahu sebelumnya.

“Bu,, saya harus ngaku dari Jawa mana?” Dengan nada takut aku beranikan diri bertanya.

“Bilang dari Jawa Tengah ke,” dia menjawab masih dengan nada sewot.

Embuh apa tujuannya aku harus ngaku dari daerah Jawa Tengah, sementara aku dari Bogor. Belakangan aku tahu itu pemalsuan dokumen, yang entah buat apa. Aku berangkat ke PT di saat orang lain pada kumpul dengan keluarganya. Menurutku di PT sepi, kesempatan mendapatkan majikan lebih cepat.
Seperti harapanku, tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan majikan, Alhamdulillah aku terbang ke Singapura. Di bandara aku sampai pagi hari, dijemput malam hari. Bayangkan sodara itu perut keroncongan, seharian tidak di isi.

Datang ke rumah penampungan, kami tidak langsung diberi makan tapi disuruh cek barang-barang dan harus membuat list barang yang aku bawa. Nauzubillah, yang menangani kami seorang pembantu Indonesia yang punya wajah sadis dan judes, kerjanya cuma bentak-bentak kami. Kami cuma dikasih makan selembar roti, begitupun pagi harinya, aku bernasib kurang baik makan roti bagian kulitnya yang keras. Kami harus piket bersih-bersih rumah, mencuci pakaian pakai tangan, baru diantar ke agen.
Di rumah agen aku nginep satu malam. Kami tidur berenam di dapur yang super sempit, bayangkan sebesar apa dapur Flatnya orang Singapura? Dapur itu bekas kami masak alakadarnya, langsung dilap dan kami jadikan tempat tidur.

Benar juga aku bekerja di Bukit Timah, bermarga Wong. Ini termasuk keluarga besar, seperti doaku, aku bekerja di rumah berlantai 3, dengan ukuran cukup besar. Terdiri dari 1 ruang kamar utama yang cukup luas (master room ) komplit dengan alat olah raga, kamar mandi plus ruang kerja, ini letaknya di lantai 3.
Kamar nona sulung plus kamar mandi, di sampingnya ada dua kamar tidur adik-adiknya lengkap dengan kamar mandi. Di samping kamar anak yang bungsu ada tempat sembahyang yang lumayan cukup luas, menghadap ke jalan raya (yang di kira tetangga saat lonceng berbunyi dikira jualan es cream).

Di lantai bawah selain ada ruang tamu yang cukup luas, bersebelahan dengan ruang makan. Di sebelah kiri ruang makan ada ruang dapur yang cukup luas, store room, dan kamar pembantu. Sementara di luar ada tempat mencuci baju, mesin cuci yang terlarang untuk dipakai.

Di samping halaman yang luas ditanami rumput, halaman depan tentu garasi mobil mewah (menurutku waktu itu). Selain ada mam, sir, 3 anaknya,1 mantu,1 calon mantu, 1 cucunya yang epilepsi dan 1 pembantu khusus cucunya, plus 10 denganku.

Bayangkan bagaimana sibuknya aku harus melayani orang sebanyak ini, rumah seluas ini plus dua mobil?”. Ditambah lagi pagi, siang malam, masak.

“Ini makananmu,” kata Erin pembantu yang serumah denganku, khusus menjaga cucunya yang epilepsi.

“Terimakasih mbak,” sahutku langsung aku makan bubur yang kebetulan perutku dah keroncongan. Baru masuk satu suap ada rasa yang tak biasa.

“Mbak,apa ini ada BBnya?” Tanyaku pada Erin.

“Iya”, jawabnya datar.

“Maaf mbak, aku gak bisa makan ini.” Perutku langsung mual.

Masih teringat pertama kali masuk ke rumah boss dengan bahasa yang pas-pasan, tahunya “this is.”
Menurutku ini termasuk majikan yang cerewet, tetapi aku harus terima kenyataan, pahit manis aku harus telan. Masih aku syukuri, dia tidak pernah mukul. Tugasku pagi-pagi jam 5 nyuci mobil, dilanjut memasak, membangunkan anak-anaknya pergi sekolah pagi. Habis nyiapin sarapan, aku hidangkan di meja makan buat mam dan sir jam tujuh, untuk anaknya aku nyiapin di meja tamu. Setelah cuci mobil nyemir sepatu sir plus menyiapkan kaos kakinya. Setelah anak-anaknya pergi, sir dan mam pergi ke kantor tinggal kami di rumah Erin, Cuan (anak sulung), Pingkun cucu mam.

Tugasku di awali dengan ganti air minum di kamar mam, ambil baju kotor, bersih-bersih kamar, nyuci kamar mandi, nyuci baju pakai tangan, nyuci piring atau mangkok bekas mereka sarapan. Siang hari aku juga masih menyiapkan mereka makan siang. Yang paling berat buatku mereka makannya beda-beda style, masih mending kalau ada barangnya. Sore hari aku harus menyiapkan makan malam untuk 10 orang. Harus putar otak juga, masak cuma barang yang ada di kulkas, tetapi berusaha harus masak yang berbeda tiap hari. Mereka makannya juga tidak bareng, mam dan sir biasanya terkadang pulang larut malam.

Gara-gara Flu Burung, ke kantor juga membawa bekal untuk mam, sir dan Stafnya. Tetangga sebelah pernah komplain.

“Terlalu pagi dari rumahmu sudah bau masakan.”

Setiap hari Minggu pagi aku belanja bersama Mam, jadi aku bisa melihat dunia luar walau cuma ke pasar dipantau mam. Lumayan cukup banyak karena orangnya banyak dan belanja cuma sekali. Pernah kehabisan garam, aku curi waktu ke warung hanya untuk membeli garam.

Setiap hari Rabu aku bersih-bersih kantor, yang lumayan cukup besar. Ya seharusnya itu bukanlah pekerjaanku, tetapi apa boleh buat, aku hanya pesuruh yang harus tunduk pada tuannya. Temanku masih muda dia juga pintar bicara, sementara aku hanya bahasaku pas-pasan. Pandai bicara di depan majikan, sementara aku cuma bisa diam. Dari segi tanggung jawab sepertinya kurang, sementara tugasku juga banyak. Pernah suatu hari aku mau menjemur kasur, aku melihat surat dia yang ditujukan untuk bibinya.

“Dia iri sama aku, dia menghilangkan sepatu, tali sepatu dan bola.” Kira-kira itu point isi suratnya.

Setelah selesai membacanya aku langsung ambil golok seraya berkata, “Jika kamu tidak percaya sama aku, bunuh aku.” Sambil aku kasihkan golok dapur yang super besar di tanganku. Aku nangis entah berapa lama, kebetulan waktu itu hari sabtu.

Hari Minggunya aku beranikan diri menghadap sir, yang kebetulan dia orang Malaysia, bisa berbahasa Melayu.

“Sir, aku minta maaf, atas kejadian kemarin, akupun takut kalian tidak percaya sama aku.”sambil menunduk aku bicara di lantai, sementara sir duduk di kursi roda sambil menghadap ke komputer.

“Dari tiga bulan kamu di sini, kami percaya sama kamu, kamu rajin dan bekerja bagus,” itu yang sir katakan, Alhamdulillah aku semakin percaya walau penuh air mata setiap saat di rumah ini.

Selama 5 tahun di sana, dari 5 patner kerja yang pengertian dengan tugasku cuma Yati dari Banyumas. Dia selalu membantuku tanpa aku minta. Terkadang aku gantian tugas momong pinkun, dia yang masak.
Mam termasuk cantik, tetapi dari tatapan matanya yang sinis, bibirnya yang tipis, menandakan dia punya perangai yang kurang baik. Kesalahan anak-anaknya aku yang dijadikan pelampiasan. Seperti si bungsu sering bolos sekolah.

“Kenapa kamu tidak bilang sama aku kalau dia bolos?” Tanya mam dengan penuh kemarahan.

“Sorry mam, I’m wrong,” jawabku sambil menunduk dan mata berkaca-kaca.

Di hari minggu sepulang dari pasar dan makan siang, kadang mam pergi sembahyang, karena dia termasuk orang taat, dan termasuk orang penting di perkumpulan agama Budha di sana. Sebelum berangkat dia langsung memberi pesan, “Keep it,” sambil ngeloyor, menyuruh naruh makanan steam tepung beras ditaburi sayur asin.

Tetapi pendengaranku “Eat it,” makanan itu aku kasih sama temanku, seperti tanpa dosa.

“Mana makananku yang kamu simpan? aku mau makan.”

Aku clingukan, dalam hati makanan yang mana? Dia ngamuk-ngamuk, aku belum faham dengan yang dia maksud. Setelah ceramah panjang kali lebar kali tinggi baru aku faham. Ada untungnya bukan aku yang makan.

Pernah juga saat anak keduanya Sen, telepon pihak travel Bali tanpa sepengetahuanku, yang mengetahui malah temanku. Tiba-tiba pulang kantor tengah malam langsung masuk kamarku.

“Siapa yang telepon ke Indonesia?” Tanpa ba bi bu, mam langsung bertanya dan curiga matanya tertuju ke arahku.

“Oh aku tahu, anakmu Sen telepon ke Bali”, Yati menjawab spontan dengan penuh semangat, sementara mam langsung melengos tanpa kata.

Yang paling tidak aku suka hari sabtu atau minggu kalau mam masak.Karena sudah bisa ditebak kalau masak aku yang mempersiapkan segalanya, tetapi sepanjang mam di dapur, mulutnya mecucu, matanya yang sipit berubah jadi belo kalau melotot. Dia seperti tanpa sungkan untuk memarahiku walau di situ ada mantu dan pacarnya Sen.

Anak bosku yang sulung sudah menikah, suami dan anaknya juga tinggal di situ, tetapi dia ada kelainan. Sering ngasih barang sama temanku, tetapi juga sering nuduh barang yang dikasihkan itu dikira mencuri. Sering barang yang sudah diberikan diambil kembali.

Anak kedua cerdas, tetapi lumayan cerewet, kalau ngomong sampai ngebentak-bentak tidak boleh salah sedikit. Kalau ngomong tidak ada titik koma, mirip sepur, pacarnya juga tinggal di rumah itu.

Anak ketiga laki-laki super bandel, Wei namanya, dia malas belajar, sering bolos sekolah. Pagi-pagi aku bangunkan tidur, kebetulan kamar dia di lantai dua. Sudah bisa ditebak saat dibangunkan pasti jawabnya, “5 menit lagi, kamu bangunkan aku,” itu sampai 3 atau 4 kali. Otomatis aku harus turun naik kamar beberapa kali. Dia juga sering tidak masuk sekolah, pagi-pagi berangkat, tetapi ketika ibunya berangkat, dia balik lagi. Sering juga dia pagi-pagi pindah ke kamarku tidur, ketika ibunya pergi, dia masuk kamar ibunya dan main game.

Pernah menjelang baligh , rambutnya dikasih warna. Dan sesuatu yang aneh baju-baju dia ada warna di dadanya, aku selalu dijadikan bahan pelampiasan. Dikira baju itu kena luntur, sepertinya tidak ada ampun, dia marah-marah walau aku merasa itu bukan salahku. Suatu hari bajunya ada warnanya lagi persis baju-baju sebelumnya. Padahal setelah dipakai, dia tahu aku tidak mencucinya. Dari situlah terkuak, kalau baju itu kena semir rambutnya. Wei walau dah dewasa masih ngompol. Sambil malu-malu dia menyuruhku ganti seprai.

“Aku kencing, ganti ya seprei dan selimut,” sambil mesem-mesem.

Wei pernah marah padaku, karena aku lapor sama Mam dia bolos sekolah. Dan dia bikin ulah, gegerlah seisi rumah.

“Kamu taruh di mana kunci rumah? Kita tidak bisa keluar rumah,” tanya Mam sambil membentakku.

“Tidak tahu, biasanya malam selalu aku taruh di sini,” seraya aku menunjuk ke arah Tv. Aku tahu, Wei yang menyembunyikan kunci rumah itu.

Tamat SMP, Sir memukul dengan Wei ikat pinggang yang sudah tentu ada besinya. Aku melerai sambil menangis. Sir kecewa dengan nilai jelek Wei.

“Selama ini, pembantu yang selalu dimarahi, karena kamu bolos tetapi kamulah yang bandel, kamu anak tak berguna.” Pertama kali itulah aku menyaksikan Sir marah besar.

Bekerja di rumah ini penuh air mata, terutama dengan tabiat mam, Alhamdulillah di rumah ini aku termasuk pemecah rekor bisa bekerja selama 5 tahun. Informasi sebelumnya yang aku dengar dari Nimfah pembantu tetangga asal Philipina, tidak ada pembantu yang bisa finish kontrak.

“Pembantu sebelumnya ada yang seminggu pingsan langsung pulang ke agen, ada juga yang 7 bulan kerja langsung ngebreak,” kata Nimfah bersungut-sungut sambil menempelkan jarinya miring di jidatnya, pertanda majikanku kurang baik.

Di saat mau finish kontrak, sir memintaku untuk nambah kontrak dengan iming-iming bonus $10000 jika aku mau bekerja nambah 2 tahun atau 5 tahun.

“Kamu kerja bagus, kami suka kamu, aku suka nasi goreng yang kamu masak,” sir merajukku.

“Apa aku harus percaya dengan bonus yang dikatakannya?” sedangkan untuk meminta gajiku pun sangat sulit, harus berkali-kali minta,” gerutuku dalam hati. Selama ini yang handle aku termasuk gaji itu mam. Aku tolak dengan halus kemauan Sir.

Di saat mau antar aku pulang, tiba-tiba Wei nyeletuk.

“You are is second mother“, entah ada angin mana tiba-tiba dia memujiku, aku langsung melirik ke arah Mam, ada perasaan gak enak hati ketika Wei berkata seperti itu.

Alhamdulillah aku diantar sampai ke Changi Airport. Belum sempat aku unggah tulisan ini, Sen kirim pesan memintaku untuk bekerja kembali, dengan iming-iming gaji bisa nego lebih besar dari gajiku di Hong Kong, aku menolak dengan halus.

(Visited 141 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.