Hari ini Senin, 28 Maret 2022, adalah hari terakhir ujian sekolah untuk siswa kelas XII setelah 6 hari mereka melaksanakan ujian.

Semua berjalan sebagaimana mestinya, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada kejadian-kejadian yang berarti. Mereka datang tepat waktu, berbaris di depan ruangnya masing-masing dan mengerjakan soal ujian dengan tertib dan aman. Hingga tiba waktu ujian mata pelajaran kedua akan berakhir.

Mereka secara bersamaan saling sahut-menyahut di dalam grup yang memang disediakan selama ujian sekolah berlangsung karena soal bukan dalam bentuk kertas tetapi dalam bentuk file. Kami selaku panitia ujian merasa heran karena ini terjadi di menit-menit terakhir ujian. Kami selaku panitia melakukan monitoring ke ruangan dan mencari tahu penyebabnya. Semua kembali kondusif.

Bel berbunyi menandakan waktu untuk mengerjakan ujian berakhir. Satu demi satu mengumpulkan lembar ujian mereka dengan rasa lega karena ujian telah berakhir. Belum ada kejadian berarti sedikitpun.

Saya menyampaikan untuk melakukan apel pulang terakhir di SMA Haji Agussalim bagi mereka. Satu dua kata terucap oleh bibir ini. Kata yang penuh kelembutan dan senyum ceria. Meminta maaf atas segala kesalahan yang terjadi.

Awalnya saya masih tidak peduli ketika mereka bercerita, bermain dan bercanda tanpa ada sedikitpun perhatian yang mereka berikan. Namun lambat laun emosi mulai meningkat tetapi kesabaran masih berusaha untuk menekannya. Hingga akhirnya meledak dengan dasyatnya ketika seorang guru yang merupakan wali kelas mereka berbicara. Saya menghentikan pidatonya karena sudah tidak mampu menahan emosi akibat tingkah laku mereka yang telah sangat melewati batas.

Air mata bercucuran yang disebabkan karena amarah yang telah membara di dalam dada. Bukan marah kepada mereka secara langsung tetapi marah pada diri saya sendiri karena merasa telah gagal mendidik mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Mereka tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikitpun. Mereka tetap melakukannya walau tidak semuanya terlibat. Ya dengan secara otomatis volume emosi meningkat hingga ke level paling atas.

Saya terdiam dengan air mata masih mengalir dengan darasnya dan dada yang terasa sesak. Hingga akhirnya seorang guru senior di sekolah kami, ibu Sugiarsih namanya, menggambil alih. Dalam satu kali tarikan nafas secara bersama-sama dengan siswa-siswi berteriak dengan kata “Praaaaaaank“.

Mereka secara bersama-sama tertawa dengan sangat puas karena telah berhasil menjahili saya dan rekan saya, ibu Nurlina.

Aaaaaaa.. Saya hanya berteriak dan menangis dengan sangat keras karena merasa malu telah marah-marah dengan mereka. Mereka benar-benar berhasil.

Pengawas ruangan dan anak-anak semua telah sepakat untuk melakukan hal itu tanpa sedikitpun rasa curiga. Akting mereka memang sangat luar biasa. Kerja sama yang sangat apik. Dua jempol tangan ditambah dengan jempol kaki tidak akan bisa menggambarkan bagaimana akting mereka hari ini. Terlihat sangat real.

Sebuah lagu dilantunkan oleh salah satu dari mereka yang mengisyaratkan bahwa sebentar lagi kita semua berpisah menuju masa depan yang telah menunggunya di depan sana.

Seiring dengan petikan gitar yang terdengar dan alunan suara yang merdu membuat suara tangis dari semua yang ada terdengar saling sahut- menyahut. Saling mengulurkan tangan dan berpelukkan melepaskan kekesalan dalam diri untuk saling memaafkan semua kesalahan yang diperbuat.

Di akhir acara, ditutup dengan foto bersama yang akan diabadikan dalam lensa kamera. Foto yang nantinya akan memenuhi beranda jejaring sosial masing-masing dan akan terlihat setiap tahunnya sebagai memori yang terkenang.

Saya harus akui bahwa angkatan ini adalah angkatan yang penuh dengan berbagai macam warna-warni. Angkatan yang memiliki sejuta kelakuan ajaib. Angkatan yang mempunyai cara tersendiri untuk selalu dikenang, baik itu kelakuan baik ataupun buruk.

Genap 3 tahun mereka menuntut ilmu di SMA Haji Agussalim Katoi. Walau tidak cukup 2 tahun mereka belajar di sekolah secara tatap muka karena pandemi yang memaksa mereka untuk belajar dari rumah, tetapi tidak mengurangi kenangan yang mereka tinggalkan di sekolah ini.

Kenangan terakhir yang mereka titipkan untuk selalu dikenang dan diceritakan di kemudian hari adalah kejadian hari ini.

Selamat berpisah untukmu, anaka-anakku angkatan 22. Semoga di masa depan kalian menemukan jalan menuju kesuksesan. Bertemu untuk menciptakan kenangan dan berpisah meninggalkan kenangan. Hari ini aku di prank, sampai aku menangis dan muridku tertawa. Itulah yang dimaksud judul ini, “Mataku basah dan engkau tertawa”. Sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan.

Goodbye, see you next time in the different moment. You are always my students, now and forever.

(Visited 48 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.