Pemuda identik dengan: potensi, masalah, peran dan harapan. Meski berbeda setiap orang punya definisinya masing-masing.

Pemuda secara fisik terus mengalami perkembangan, begitupun dengan psikis, juga terus mengalami perkembangan secara emosional. Sehingga dapat dipastikan pemuda menjadi pelopor kemajuan dimasa sekarang dan masa yang akan datang.

Bukan pemuda namanya, jika tidak memiliki semangat pembaharu yang progresif. Bukan pula pemuda, jika hidupnya hanya dihabiskan menjadi bagian dari masalah.

Founder sekaligus ex-CEO marketplace Bukalapak, yang kecintaanya terhadap teknologi sejak SD. Mengantarkan Achmad Zaky menjadi menjadi sosok pemuda yang dikenal dunia karena dedikasi dan semangatnya membawa perubahan untuk diri dan keluarganya.

Co-Founder dan CEO Payfazz. Berhasil mencatatkan namanya dalam daftar 30 Forbes Under 30 Asia, yang merupakan majalah global berfokus pada bisnis, teknologi, wirausaha, kepemimpinan dan gaya hidup. Mampu diraih oleh seorang anak muda asal Jambi yang dahulunya dijuluki Mas Tukang Donat. Itulah ia Hendra Kwik, dengan sederet prestasinya menjadi pelopor aplikasi Point Payment Online Bank (PPOB) Payfazz.

Nadiem Makarim, sangat tidak asing ditelinga kita semua. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, juga sebagai pelopor hadirnya aplikasi Gojek.

Mereka adalah contoh dari sekian banyak pemuda, yang membawa perubahan baik dalam kehidupannya, membawa manfaat luar biasa bagi banyak orang dan merupakan hal yang sangat patut dicontoh dan diberi apresiasi.

Mereka memulai dari titil nol dan titik terendah, di pelosok-pelosok kampung serta pelosok-pelosok ibu kota.

Pemuda Desa Watuliwu juga tidak kalah menariknya!! Nama mereka belum tercatat dalam Forbes dan belum pula tersorot banyak mata. Tapi gerakan mereka untuk membawa perubahan bagi Desanya, sangat patut diberi apresiasi.

Lomba Milenial Cinta Islam, nama kegiatan yang mereka lakukan di Mesjid Miftahul Khair Desa Watuliwu. Mulai dari lomba adzan, tadarrus, hafalan, serta Dai cilik. Mereka perlombakan.

Bukan kaleng-kaleng bos.!!

Sederhana tindakannya, namun membawa arti bagi kehidupan. Membawa pesan bahwa arus materialisme dan hedonisme tidak menyebabkan redupnya gerakan pemuda Karang Taruna Desa Watuliwu.

Mereka memulai dari Mesjid. Menjadikan Mesjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan bagi kaum Milenial. Mereka berbuat untuk tahu rasanya, dan mereka berfikir untuk mengukir sejarahnya.

Saya yakin, Desa-desa lain juga melakukan hal yang sama. Menggelorakan gerakan untuk dakwah dan pembaharuan, dan saya juga yakin bahwa Kolaka Utara TIDAK PERNAH kekurangan Pemuda yang terus memikirkan daerah tanah kelahirannya.

Kedepan, Kolaka Utara akan terus bersinar dengan cahaya agama. Mengakar kuat dan menjulang tinggi menggapai harapan, menuju masyarakat Madani seperti yang dicontohkan baginda Nabi Muhammad SAW.

#AH

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: