Menyenangkan sekali bisa ikut menyimak workshop literasi bertajuk “Membangun Peradaban dengan Menulis” yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 Juni 2022 oleh Pusat Budaya Indonesia (PBI) dan Komunitas Penulis Kreatif Dili. Kegiatan hybrid ini digelar di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili, Timor-Leste. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Timor Leste, Prof. Dr. Phil Ikhfan Haris, M.Sc. mengatakan bahwa workshop ini dilaksanakan untuk mengakomodir minat para penulis muda, terutama yang berada di Dili.

Hadir sebagai salah satu narasumber adalah Ruslan Ismail Mage atau yang biasa dipanggil Bang RIM. Dia adalah seorang inspirator, penggerak, akademisi, penulis buku, founder Sipil Institute, founder Bengkel Narasi Indonesia, dan founder Pena Anak Indonesia. Tampil secara daring sebagai narasumber pertama, Bang RIM membakar semangat peserta dengan konsep orisinalnya “Sumpah Pena”. Tidak heran jika Dr. H. Tammasse Balla, pakar linguistik Universitas Hasanuddin menyebut RIM sebagai singkatan dari “Raja Indonesia Menulis”.

Bukan hanya teori, Bang RIM pun langsung mengajak anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) berkolaborasi dengan anggota komunitas Bengkel Narasi (BNers) untuk bersama-sama muncul ke permukaan dengan karya-karya kepenulisan yang inspiratif.

Setiap anggota dapat memperkenalkan keberagaman budaya, adat-istiadat, dan semua hal menarik tentang daerahnya agar bisa dikenal oleh khalayak luas. Tanggung jawab kita sebagai penulis untuk menyebarluaskan informasi yang bermanfaat dan inspiratif, khususnya tentang Timor Leste, kepada dunia.

Ruslan Ismail Mage

Hanya dalam hitungan jam, terbentuklah grup WhatsApp KPKers-BNers. Partisipannya sebanyak 70 orang. Menarik sekali, selain menggunakan bahasa Indonesia, partisipan pun akrab bertegur sapa dalam bahasa Tetum. Bersyukur tidak ada kesulitan yang berarti dalam berkomunikasi karena kita di Indonesia dan Timor Leste pada hakikatnya adalah saudara.

Mimpi Kepenulisan dan Perbukuan

Secara terpisah, saya pun berdiskusi via WhatsApp dengan penggerak KPKers, Devianti Seixas atau akrab dipanggil Kak Dev. Anak mantan Tentara Nasional Indonesia di Timor Timur ini begitu prihatin dengan kondisi literasi di Timor Leste.

“Di sini, tidak ada instansi yang mengelola ISBN. Jadi, menerbitkan buku yang ber-ISBN itu ibarat mimpi di siang bolong!” keluh Kak Dev.

Hal ini coba saya konfirmasikan ke staf Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Menurutnya, dahulu memang pernah ada approval ISBN untuk sebuah penerbit di Timor Leste, tetapi itu ketika masih berada dalam satu wadah NKRI. Sayangnya, saat ini sudah berbeda wilayah negara.

Satu lagi keprihatinan Kak Dev. Di Dili, tidak ada percetakan khusus untuk spesifikasi buku. Yang ada sekelas copy center. Tampilan buku sebatas soft cover laminasi dan jilid ring plastik. Sementara di Indonesia, dengan mudahnya kita menerbitkan buku dengan kualitas dan tampilan yang setara dengan buku-buku yang dijual di jejaring toko buku ternama.

Singkat kata, impian untuk memajukan literasi membaca dan menulis, termasuk perbukuan di Timor Leste memang masih perlu mengejar ketertinggalan. “Semoga kolaborasi dengan Bengkel Narasi ini bisa membawa percepatan bagi kami para penulis di Dili, Timor Leste,” pungkas Kak Dev penuh harap. []

(Visited 114 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.