Ada yang mengusik mataku, manakala menyambangi Masjid Al Akbar Surabaya. Ketika akan berwudhu mata ini tertuju pada sebuah prasasti bertuliskan Green Toilet.

Usut punya usut ternyata, prasasti Green Toilet Masjid Nasional Al Akbar itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Orang nomor satu di Jawa Timur itu selain menandatangani prasasti peresmian operasional Green Toilet Masjid Nasional Al- Akbar Surabaya, pada 5 Juni 2020.

Entah sengaja atau tidak, setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dan kebetulan juga bapak saya menghebuskan nafas terakhirnya pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan peresmian Green Toilet Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, 5 Juni 2020.

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, keberadaan Green Toilet tersebut  terinspirasi dari Masjid di Bandar Sri Begawan.

Masjid itu tidak hanya di dalamnya saja yang ornamennya terlihat eksotis, tapi di toiletnya juga dong, hal ini membuat nyaman jama’ah maupun pengunjung yang akan beribadah, jujur saja memang toiletnya didesain sangat indah.

Sejauh mata memandang tempat wudhu yang berkonsep green toilet masjid ini sudah cukup bersih, menjadi bagian dari referensi bagaimana eco masjid dengan suasana yang dingin, asri, hijau kemudian yang disupport oleh toilet bersih dan indah, menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung berlama-lama bersantai-santai berada di Green Toilet.

Tempat Wudhu Masjid Agung Surabaya

Kenapa disebut green toilet, karena proses pembuangan limbahnya itu bisa di sungai untuk pemberdayaan ikan lele.

Sudah seharusnya bagaimana konsep membangun rumah Allah SWT itu seindah mungkin, agar yang beribadah itu lebih khusyu’, mudahan bisa meningkatan kemakmurannya dan bersama-sama mendapatkan pahala jariyah.

Pembangunan Masjid Nasional Al- Akbar Surabaya diawali peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Presiden Tri Sutrisno pada tahun 1995. Masjid Nasional Al Akbar Surabaya diresmikan oleh K.H. Abdurrahman Wahid pada tahun 2000.  

Green toilet yang diusung oleh Masjid Al Akbar Surabaya ini memiiliki orientasi pro-lingkungan hidup, terdapat sistem pengolahan limbah air wudhu dan limbah toilet berupa IPAL yang digunakan untuk menyiram tanaman dan untuk kolam ikan. Air pembuangan melalui IPAL sehingga, limbah toilet tersebut pun tidak berbau dan masjid menjadi semakin bersih.

Masjid agung ini mempunyai 4 zona Green Toilet. Zona pertama direnovasi pada tahun 2020, zona dua, tiga dan empat direnovasi pada tahun 2021. Hebatnya lagi kran tempat wudhu Green Toilet MAS ini bukan hanya satu buah, tetapi sebanyak 539 buah. Tentu tak sebanyak di Masjid Istiqlal Jakarta, toh demikian jumlah itu rekor sendiri bagi Masjid Agung Surabaya, kalau perlu keberadaan kran wudhu bisa bertambah lagi.

Adanya green toilet masjid ini setidaknya mengubah pandangan kita selama ini bahwa toilet itu identik dengan gelap, digembok lantaran kotor, berbau busuk, pesing.

Salah satu sudut ruang Green Toilet, sekaligus tempat swa foto yang memikat hati

Disni yang ada justru sebaliknya terlihat terang benderang, bersih, harum dan kinclong pokoknya tidak kalah dari kondisi toilet yang tersedia di hotel-hotel sana.

Di salah satu sudut ruangan green toilet dipasang dua buah kursi dan ditata sedemikan rupa. Hal ini mengundang jamaah yang berwudhu berswa foto mengabadikan kebersihan tempat wudhunya.

Selain Green Toilet, MAS ini menyediakan Taman Asmaul Husnah dan Digital Library. Tentunya keberadaan Digital Library dapat meningkatkan minat kaum muda dan milenial untuk membaca dan mempelajari banyak hal mengenai agama.

Semua kebersihan Masjid Al Akbar tidak akan pernah terwujud tanpa peran marbot, maupun jasa pembersih lainnya, pasalnya marbot masjid memiliki peran penting dalam mencegah debu-debu yang menempel di karpet maupun tembok. Mereka menjaga kebersihan masjid, sehingga tetap nyaman dan sehat bagi jamaah shalat lima waktu, maupun aktivitas lainnya di Masjid.

Para marbot ini berperan penting dalam menjaga kebersihan masjid. Mereka dengan iklas membersihkan lantai masjid sebelum digunakan untuk shalat berjamaah. Bahkan mereka berperan penting membersihkan toilet dan tempat wudhu MAS sehingga kebersiha green toilet dapat terwujud, adanya marbot  diharapkan keindahan masjid yang selama ini digaungkan dapat berlangsung kontinyu.

Tidak jarang orang memandang sebelah mata peran marbot. Pekerjaan marbot pun dianggap sebagai kegiatan yang tidak penting dalam mengelola masjid. Padahal tanpa keberadaan marbot, kebersihan masjid hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Harus diakui keberadaan marbot dalam lingkungan ke
masjid merupakan salah satu pilar penting khusyunya jamaah dalam melaksanakan shalatnya.

Tanpa kerja keras mereka barangkali sulit kita menemukan masjid yang selalu dalam keadaan bersih, suci, dan teratur. Sebab itu layak bagi mereka untuk kita berikan apresiasi.

Akhirnya, meski tak lagi muda, saya berminat apabila ditawari sebagai salah satu marbot di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.

(Visited 270 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.