Oleh: Dev.Seixas’25
Hari itu masih terlalu pagi
Aku hanya bisa mengerakan jemari di atas sampul bukuku dan menuliskan namamu…
Dari teriakan suara pertama
Kau sebut namaku adalah
Calon istrimu…
Aku bangga lalu tersenyum
Bukankah kita masih kecil
Ah, aku mulai merasa malu
Kutatap bayanganku di cermin depan lemari…
Kenapa shiii ia berkata
Jika aku adalah calon istrinya…?
Sejak hari itu aku tersipu malu bukan pada dirimu
Tapi pada diriku sendiri
Dengan mata berkaca-kaca
Aku mulai terhanyut…
Dalam khayalanku hanya ada satu bayangan hidup
Yang selalu hadir menemaniku kalah itu yakni dirimu
Bukan yang lain
Ketika terbangun pagi
Ku memandang cahaya pagi
Seolah kau hadir bersamaan
Dengan cahaya di pagi hari
Jika kamu hadir selalu…
Kita hanya saling menetap satu sama lain…
Tanpa pertemuan nyata
Tersenyum sendiri ketika berkhayal akan bayanganmu
Inikah yang dinamakan cinta
Pertama dalam hidup…
Rasanya seperti embun pagi
Menyambut pagi dengan
Memberi kesegaran pada bunga-bunga di taman…
Aku terlalu merindukanmu
Jauh kamu merindukan aku
Dari kerasnya suara yang terdengar kala itu oleh kamu juga teman-teman kamu…

Cinta pertama adalah cinta yang tak pernah terlupakan. Selamat Bu Dev. Bengkel Narasi bangga bisa bersama dengan penulis2 kreatif Dili.