Memahami Allah dengan bantuan bacaan bagi saya adalah zikir yang terang“. Ayat pintas ini dapat ditemukan di bawah anak judul Zikir (h. 21-26) buku bertajuk Malaikat Menulis Dengan Jujur, buah karya Ida Azuz. Sepenggal kalimat yang menghentak kesadaranku akan pengertian zikir yang selama ini kupahami. Rupanya, jalan makrifat bisa disusuri dengan membaca, sesuai perintah pertama Sang Maha Guru, Allah Subhanahu wataala.

Apa yang disingkap Ida, penggubah yang juga seorang dosen cum aktivis ini, seakan menjadi panashih atas yakinku bahwa zikir tak harus mengalun dari bilik-bilik nan remang, dengan pezikir berbalut pakaian putih yang mematut-matut kesadaran akan maut yang mengintai. Bagi Ida, pun bagiku, tak perlu menanti maut bila sekadar ingin menjumpaiNya.

Pembahasan perihal zikir hanyalah salah satu tema yang disingkap oleh Ida. Setidaknya ada 17 judul yang tersaji dalam kumpulan tulisan dengan pengantar manis dari seorang penulis kawakan, Hernowo. Kesemua tulisan mengajak pembaca untuk berefleksi atas berbagai kejadian-kejadian kecil yang dialami penulis —mungkin juga kita, tetapi dengan makna-makna besar.

Tengoklah kelihaian perempuan berdarah Bugis-Ambon bernama lengkap Faidah Azuz Sialana ini merengkuh makna dari ketukan di pintu rumahnya kala ramadan hari ke 2 pada 6 Oktober 2005 (hal. 8-10). Si pengetuk pintu, seorang lelaki kurus, tetapi dengan sorot mata berbinar, datang menyodorkan kresek berisi makanan untuk berbuka, diiringi kalimat ringkas, “ini dari istri saya, Bu.”

Ida yang menyadari rumahnya lebih bagus dari rumah si lelaki, bahkan kamar Ida lebih sejuk dari si pemberi penganan, lalu melontar tanya reflektif ke dalam diri —pun kepada kita para pembaca, siapa sebetulnya yang lebih kaya? Siapa yang lebih dermawan? Ida dibelasah rasa sedih dan malu meski membalas pemberian itu dengan balasan yang lebih mahal secara rupiah.

Ida pun teringat dengan dengan doanya seusai salat asar, sekira sejam sebelum lelaki kurus dengan tangan berurat tanda pemiliknya seorang pekerja keras itu mengetuk pintunya, “Ya Allah… tuntun saya untuk berubah, tuntun saya untuk mencapai perbaikan hidup… ajari saya memaknai semua yang Engkau ciptakan.”

Dari kejadian tersebut, Ida belajar perihal kelihaian Allah memberi rezeki dari arah yang tak disangka-kira, pun memetik hikmah perihal keberanian dan keikhlasan dari seseorang yang kekurangan secara finansial. Ida juga lalu menyadari betapa tindakan lelaki berpipi cekung, yang juga tukang becak langganannya telah mencegahnya dari kepongahan.

Tengoklah pula kala Ida mendapatkan pengajaran soal cara berdoa yang makbul. Ilmunya tidak diperoleh dari ustaz-ustazah di forum pengajian dan pengkajian agama, melainkan dari seorang perempuan peranakan Cina-Ambon yang menetap di Surabaya sejak tahun 50an. Perempuan yang duduk di sampingnya di seat 14 dalam sebuah penerbangan dari Makassar menuju Surabaya (hal. 11-15).

Kalau meminta jangan hanya mengandalkan tengadah tangan. Demikian Ibu Nona Tan —nama peranakan Cina-Ambon itu— berbisik halus ke telinga Ida. Lanjutnya, kita mesti tunduk, sujud lama-lama, baca Al Fatihah, kemudian pada kalimat iyya na’budu wa iyyaka nasta’in, berhentilah di situ. Minta dengan penuh kerendahan hati. Sesudah itu, lanjutkan baca Al-Fatihah kembali, mulai dari ihdinashshiraatal mustaqiim dst. hingga amin. Angkat kepala pegang dada dan usap wajah.

Lalu sebagai sesama perempuan berdarah Ambon, si perempuan tua itu melanjutkan bisiknya ke Ida dengan suara geletar dalam bahasa Ambon, “Angka hati par antua di atas“. Ikhlaskan diri pada Allah, demikian Ida mengartikan. Nasihat yang membuatnya tercenung, bukan hanya karena lisan itu telah menelusupkan pemahaman ke relung terdalam kalbunya, tetapi Ida merasa wajah Ibu Nona Tan begitu teduh (h. 15).

Catatan reflektif Ida lalu dilengkapi dengan beberapa kisah perihal suasana yang melingkupi kerusuhan Ambon, baik saat kejadian, maupun sebelum dan setelahnya. Soal terbakarnya perpustakaan Aba Agil di Batugantung Waringin, tempat Ida mengaji di era 70an. Atau suasana masjid Al-Mukhlishin sebagai satu-satunya bangunan yang tak terbakar di Batugantung, meski masjid itu pula yang menjadi saksi —menurut Ida— bahwa ada jamaahnya yang murtad, sebab kerusuhan tak hanya meluluhkan bangunan, tetapi juga melantakkan tatanan sosial.

Dengan lirih, Ida mengabarkan perihal bekas peluru yang disaksikannya menembus dalam lalu menyebar seperti tebaran paku di masjid Al-Mukhlisin. Betapa perih Ida dalam bisiknya, ‘adakah luka itu juga membekas di hati saya?’ (h. 76). ‘Saya merasakan kulit-kulit saya seperti tertusuk. Saya mencintai masjid ini, saya bahkan kerap mengelus dindingnya (h. 77).

Dengan emosi yang membuncah, Ida melanjutkan dengan gumam nan pedih, ‘Saya juga menempelkan pipi di dinding yang luka secara sembunyi-sembunyi…. Betapa ingin rasanya saya mendengar bisikan masjid itu… dendangnya… kesahnya… Saya merasakannya sampai ke ulu hati. Betapa ingin saya menggelembungkan diri, menutupi luka masjid.’ (h. 77).

Lihatlah, betapa lihai Ida mengaduk-aduk jiwa dengan diksi yang lahir secara spontan dari hati. Ulasan ini pun lahir dengan mata yang berkaca-kaca. Strategi menulis Ida, oleh Hernowo dalam pengantarnya dinamainya menulis di ruang privat sebagai langkah awal, menulis secara subyektif. Gaya menulis yang akan berefek pada proses peningkatan kualitas diri dengan memperlakukan aktivitas menulis sebagai cara ‘membuang’ apa saja yang mengganjal di pikiran (h. xxii).

Seperti dititahkannya sendiri, Ida melontar tanya, ‘Bagaimana bisa saya membaca di dalam kegelapan‘ (h. 25). Lalu Ida menjawabnya sendiri, ‘Saya membutuhkan zikir yang terang, lewat bacaan yang dituturkan dengan bahasa yang saya akrabi’ (h. 26). Melalui ‘Malaikat Menulis Dengan Jujur’, Ida berhasil menghadirkan tulisan-tulisan dengan bahasa yang kita —pembacanya— akrabi, bahasa yang menjelma menjadi zikir nan terang. Begitulah!

Judul: Malaikat Menulis Dengan Jujur | Penulis: Ida Azuz | Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa | Cetakan: Pertama, Februari 2007 | Jumlah Halaman: 130 | ISBN : 979-3651-98-9

(Visited 34 times, 1 visits today)

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: