Oleh: Luciana Mauberebetun
Hidup sebatang kara
Tanpa membelai kasih sayang ayah dan bunda
Menjalani hidup bersama teman-temanku
Di asrama dominikana ini,tersayat menyayat kepiluan
Tak ada seorang pun yang tahu apa yang aku rasakan
Rasa sedihku iri saat melihat mereka
Yang mempunyai keluarga utuh
Hidup dengan belaian kasih sayang orang tua
Ayah…..Bunda…..
Mengapa kalian tega membuangku
dan meninggalkanku sendiri….
Kesunyian hidupku kini berjudul sepi
Ayah…. Bunda….
Sungguh aku rindu belaian kalian
Aku rindu akan canda tawa ayah dan bunda
Kepada siapa aku harus mengadu
menumpang hidup penuh lika-liku
salahkah aku menyalahkan Tuhan?
Ataukah inilah jalan takdirku
Hidup tanpa belai kasih sayang ayah dan bunda
Dengan uluran tangan para suster yang dermawan
Dan baik hati menerima kami anak yang telah dibuang
Mereka dengan senantiasa merawat kami
Dengan setulus hati sampai besar
Dan membayar sekolah kami agar kami
berpendidikan, menganggap kami sebagai anak mereka sendiri
Hanya doa yang dapat ku panjatkan
Tuhan membalas budi ketulusan dan kebaikan para suster
Ayah… Bunda….
Aku sayang…sekali sama ayah dan bunda
Kini ku tahu apa yang harus diharapkan
Dengan tangis dalam diamku dan tawaku
Di balik tawaku ada kesedihan
Di balik candaku ada kesunyian
Hanya Tuhan yang tahu akan segala keluh kesahku
Yang selama ini terpendam

sangat mengharukan puisimu…itulah kehidupan, kadang kita diuji untuk bersabar menghadapi segala cobaan ini, lewat uluran tangan orang lain yang dianggap malaikat penolong, dialah yang akan membimbing kita ke jalan kehidupan di bumi persada ini menuju keabadian nun jauh disana yg tak kasat mata…..
Maju trus pantang mundur…belajar menulis hari ini…hasilnya akan kita petik di kemudian hari….
Suport Py Aldo’22