Oleh: Devinarti Seixas
Bulan ini bulan Agustus tepatnya mengingatkan aku pada tanggal 17 Agustus hari kemerdekaan Republik Indonesia yang kini merupakan negara tetanggaku Timor-Leste.Negara yang kini menjalin hubungan Bilateral yang erat dengan Timor-Leste.
Berbicara soal bilateral aku sangat berterima kasih pada para pengabdi yang di KBRI Dili,Timor-Leste.Sungguh peduli dalam hubungan nama sebuah hubungan antara negara yakni kerjasama Bilateral berawal dari nama-nama terdahulu yakni Dubes lama Bapak Sahat Sitorus yang misinya telah usai dari beliau aku mengenal Sutradara Indonesia dalam sebuah kegiatan Workshop yakni Bapak Garin Nugroho, tentang dunia Perfilman, juga Bapak Sekretaris 2 KBRI yakni Pak Bambang Purwanto yang juga misinya telah usai. Namun, dari beliau aku mengenal visi dan misi serta motivasi bagaimana seseorang tak boleh alergi terhadap teguran karena teguran merupakan hal yang membangun,hingga aku mengenal Staf PBI di bawah naungan KBRI yakni Pak Vandha lalu Pak Atase pendidikan lama yang misinya juga telah usai yakni pak Achmad Tavip Syah yang memang awalnya tidak memberi izin tapi pada akhirnya memang para pengabdi pintar harus membaca dengan hati bukan mata,hingga aku memulai aktivitas Literasi di PBI.
Sebelum awal mula aku mengenal seorang rekan kerja staf PBI yakni saudara Aje yang berkata pada ku satu kalimat” Mari kita bersama untuk bisa membangun jiwa generasi muda kita karena selama ini aku juga berpikir demikian” Jadi berarti bukan hanya aku tapi jiwa-jiwa itu telah ada di sekian hati banyak generasi yang lain.
Dengan mendapat fasilitas satu tempat untuk kegiatan literasi dari persetujuan KBRI yang awal mula seharusnya butuh 25 orang yang diizinkan oleh Atase pendidikan lama Pak Achmad Tavip Syach karena dampak Covid-19 justru tak aku duga yang datang malahan 53 orang yang hadir. Rasanya aku mau menangis saat itu. Apakah aku telah melanggar aturan,tapi mulut aku tak bisa lagi berkata apa-apa ketika ku lihat banyak generasi muda yang hadir hingga melebihi volume kursi yang tersedia di ruangan Demak,termasuk salah satu staf kementrian pendidikan yang ikut serta dalam kursus tersebut yakni Saudara Antonio Guterres.
Aku sadar aku salah,tapi jika kesalahan itu demi kebaikan generasi muda ku,aku bakalan bertanggung jawab atas banyaknya peserta yang hadir untuk mengikuti kursus literasi pertama kali di Pusat Budaya Indonesia.Saat peserta yang hadir pertama kali mendapat tempat duduk tapi yang terlambat aku berkata,berani tidak duduk di atas keramik karena aku harus memberi kesadaran bahwa kita baru mau menderita satu jam untuk pemahaman literasi,coba kalian pikir penderitaan kaum pejuang kita selama masa perjuangan yang makan waktu puluhan hingga ratusan tahun.Ternyata generasi muda aku paham kata-kata ku dan kami sepakat meskipun ada yang duduk di lantai karena bukan masalah aturan tapi dampak covid—19 saat itu yakni 2021.
Selama kursus berlangsung ku lihat wajah generasi awalnya belum pahan pengertian literasi sesungguhnya,padahal tiap hari mereka melakukan kegiatan literasi di sekolah maupun di rumah atau dengan chat melalui aplikasi pun adalah kegiatan literasi.Setelah pemahaman baru ku ajari materi konsep penulisan dan aku mendengar motivasi dari masing-masing peserta dan mereka sungguh-sungguh bahkan ada yang menuliskan artikel tentang asal muasal literasi pertama di Timor-Leste.Aku melihat ada tiga siswa yang paling rajin di di Angkatan Pertama kelas PBI yakni Erjol,Luis dan Armindo serta dua mahasiswi yakni Auxilia serta Juvita adalah member atau staf lama yang selalu bertahan meskipun yang lain bubar karena beberapa alasan pribadi.
Akhirnya dampak covid-19 membuat kami harus satu bulan kursus tiga bulan berhenti hingga selesai pada akhir tahun.Saat Penerimaan sertifikat bagi semua siswa Kpkers baik kelas literasi dasar dari Becusi bawah,Kelas asrama Dominikan hingga kelas online dan PBI semua total 130 orang yang mendapatkan sertifikat pertama kali dari KPKer termasuk 7 orang dari asrama S.T.Clara Maloa merupakan angkatan Pertama.Ada beberapa tempat yang tak bisa lanjut karena dampak covid 19 yakni Literasi dasar di Becae,Oe-Upun Oecusse serta asrama Dominkana Oecusi dan asrama Yatim Piatu Sao Miguel Aarcanjo Betano Same karena pengaruh Covid-!9.
Setelah penerimaan sertifikat,kontrak kerjasama mendapat fasilitas tempat oleh KBRI terhenti lagi.Aku patah semangat ketika Pak Atase Pendidikan Achmad Tavip Syah melalui Via telepon jika sudah selesai masa pengajaran literasi dari KPKers telah selesai sesuai dengan data.Mungkin menangis itu adalah salah satu jalan untuk terus berjuang,karena tidak ada pihak yang belum mengerti jika Literasi itu sebenarnya sesuatu hal yang amat penting bagi suatu negara.
Setelah pembagian sertifikat,Pak Achmad Tavip Syah pun misinya akan usai,aku bingung harus gimana sedangkan Pak Sahat Sitorus sebagai duta besar pun misinya telah usai.Aku bingung harus ke mana lagi mencari tempat untuk pengajaran literasi.Akhirnya aku kabari lagi sang pengabdi yakni Orang pertama yang mensupport kegiatan ini dan beranggapan jika literasi penting bagi generasi muda yakni Pak Bambang Purwanto,lalu beliau terus memberi nasehat jika jangan patah semangat cobalah bersurat kembali ke KBRI,jika kegiatan bersifat positif pasti akan diizinkan kembali oleh pihak KBRI.
Aku lalu berjalan mengikuti motivasi dari para senior akhirnya bersurat kembali sebelum pak Achmad Tavip Syah usai misinya .Ternyata ada persetujuan untuk lanjut lagi pengajaran selama setahun.Aku sempat menangis karena aku pikir kita jangan lepaskan generasi muda terpencar tanpa kegiatan karena generasi muda butuh perhatian penuh dari kita. Aku bersyukur lalu aku paham jika niat pak Achmad Tavip Syah juga baik hanya setiap keputusan memang harusnya dari KBRI.Satu pesan bermakna yang aku peroleh dari Pak Bambang ketika misinya usai adalah jangan alergi terhadap teguran karena sebenarnya teguran adalah sesuatu hal yang tentu niatnya membangung serta satu motivasi lagi dari Pak Achmad tavip Syah jika misinya akan usai jadi ketika beraktivitas di PBI tetap taat pada peraturan dan ingat Dev,saling paham terhadap sesama staf yang kerja di gedung ini karena gedung ini merupakan gedung rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor-Leste.Termasuk adanya pak Tario ikut dalam pertemuan tersebut.
Terkadang aku teringat kembali nasehat Ir.Jumari haryadi yakni ketika seorang ingin naik kelas ia harus belajar supaya nanti lulus ujian selalu saja tertanam dalam benak ku ketika aku pertama kali mengenal beliau sebagai motivator pertama kali.Setiap manusia memiliki sisi perjalanan yang berbeda entah baik dan buruknya perjalanan tentu semua sudah merupakan takdir bagi setiap insan dan aku telah melewati semuanya.
Akhirnya datanglah Dubes baru yakni Bapak Okto Dorinus Manik serta Atase baru yakni Prof.Dr.Phil. Ikhfan Haris M.Sc.Aku terus mengajar sesuai dengan program yakni awalnya hanya literasi konsep penulisan disusul lagi literasi bahasa Jurnalistik akhirnya literasi portugues dan English yang saat ini ada di dominkana.Meskipun tahapan pengajaran aku sendiri tapi aku harus bisa karena demi generasi ku juga negeri ku.
Kehadiran Atase baru yakni Bapak Prof.Dr.Phil.Ikhfan Haris M.Sc mensuport dan turut memberikan harapan serta motivasi baru menyangkut dunia Penulisan dan jurnalistik.Aku berterima kasih karena aku tidak tahu bagaimana caranya penerbitan dengan ISBN karena di TL ISBN memang belum ada.Akhirnya Atase baru meeting sebentar dengan aku membicarakan tentang kegiatan workshop Membangung Peradaban Dengan Menulis.Sejak hari itulah kebangaan datang secara tiba-tiba bahwa aku ingin mimpiku mengebangkan literasi dalam dunia penulisan bisa direalisasikan melalui kegiatan workshop ini karena aku sadar jika selama aku membangung cabang organisasi KPKers Timor-Leste banyak generasi muda yang memiliki impian hanya kurangnya motivasi.Dalam kesempatan selama pengajaran literasi konsep penulisan aku menemukan banyak generasi muda yang mampu jadi calon penulis di masa depan.
Kami pun sepakat karena atas dukungan dari atase pendidikan KBRI dalam kegiatan workshop dengan tema “MEMBANGUN PERADABAN DENGAN MENULIS” yang berlangsung pada tanggal 11 Juni 2022.
Hari itulah hari pertama aku mengenal bapak RUSLAN ISMAIL MAGE yang awalnya sudah diperkenalkan oleh Prof.Dr.Phil.IKHFAN HARIS M.Sc. Sungguh aku bangga pada tutur kata yang berlatar belakang berfilosofi pribadi yang mampu menghipnotis calon penulis pemula sebagai satu bekal yakni salah satu diantaranya adalah aku secara pribadi sebagai penulis pemula meskipun sejak usia 5 tahun aku sudah memiliki impian ingin jadi seorang jurnalis & penulis.Melalui kegiatan workshop itu mampu membuat aku mengenal para jurnalis hebat dan penulis yang berlatar belakang Prof.Dr adalah sesuatu yang amat luar biasa bagi aku di hari itu.Selain Bapak Ruslan aku mengenal pula Bapak ZULKARNAIN HAMSON seorang Direktur jurnalis online senior Indonesia juga Seorang Jurnalis berprestasi dari kompas TV ABDULLAH FIKRI.
Seusai Workshop Literasi meskipun tinggal di daratan yang terpisahkan oleh samudra namun seolah kami hidup bersatu di satu dunia yakni dunia literasi jurnalis & Penulisan karena kami memiliki tekad yang sama dimana mengalir dari otak yang berbeda tapi memiliki satu tujuan yakni membangun Peradaban di dunia Literasi (Penulis & Jurnalis).Sejak hari itu banyak pula para peserta yang ikut dalam workshop tersebut yakni peserta kursus Literasi Dari KPKers juga beberapa Mahasiswa UNTL yang sengaja saya undang karena generasi muda harus terus di bekali dengan pengalaman baru.
Hingga aku merasa SALUT DAN BANGGA pada Bapak Ruslan dimana meskipun tidak saling mengenal di dunia nyata namun mampu menitipkan tugas ke aku agar bisa menjadi lagi Founder Bengkel Narasi Dili yang akhirnya telah melahirkan calon-calon penulis pemula hasil didikan anak-anak KPKer TL.KPKers TL-Bengkel Narasi yang kini menjadi satu grup WA yang menjadi wadah untuk calon penulis pemula dari Timor-Leste.Semua itu terjadi karena atas bantuan Pak Atase Pendidikan KBRI Prof.Dr.Phil.Ikhfan Haris M.Sc.
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa karena berawal dari Ir.Jumari Haryadi,Sekretaris 2 KBRI Bapak Bambang Purwanto, Dubes KBRI Sahat Sitorus,Bapak Vandha,Atase Pendidikan lama Bapak Achmad Tavip Syach,Atase Pendidikan baru,Bapak Prof.Dr.IkHfan Haris M.Sc. juga Bapak Trio,aku mampu mengenal dan mendapatkan lagi satu kepercayaan yang nantinya akan berlanjut lagi untuk satu tujuan yakni membangung lagi Perhimpunan Jurnalis & Penulis Indonesia-Timor Leste yang dipercayakan oleh Bapak Zulkarnain Hamson Direktur JOIN indonesia.
Segala yang berbeda jadi satu karena tekad dan komitmen dan harapan Dev moga Pak Ruslan Ismail Mage tetap jadi panutan bagi generasi muda Timor-Leste.Tentu sebagai seorang yang memiliki impian jadi penulis selalu bersyukur karena dari hasil tulisan dan pengajaran literasi kami mampu dipertemukan meskipun bukan dari dunia nyata tapi setidaknya sudah saling berbagi layaknya seorang motivator hebat.Dengan kegiatan Workshop mampu membuatku mengenal orang –orang yang luar biasa seperti bapak Ruslan Ismail Mage beserta rekan-rekan hebat lainnya.Terima kasih banyak anda orang hebat meski tak punya sayap untuk terbang tapi namamu telah terbang ke Timor-Leste lewat kelebihan yang anda miliki sebagai seorang Penulis senior.Teruslah jadi orang hebat dari dunia kita yakni dunia ( LITERASI ).

Thnx untuk motivasi dan inspirasi da BN-TL agr kamipun bisa mengudara bersamamu yg sudah mendunia…kami harus belajar banyak darimu mentor dan motivatorku…